<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887</id><updated>2012-02-16T03:02:54.905-08:00</updated><title type='text'>CORAT COREETT</title><subtitle type='html'>Sekedar Belajar Menulis</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2967705409224797152</id><published>2011-02-08T01:32:00.001-08:00</published><updated>2011-02-08T01:32:51.930-08:00</updated><title type='text'>Catatan 3 Februari</title><content type='html'>Segelas susu cokelat hangat menemani saya mengurai malam dingin ini. Sepi amat terasa menghinggapi segenap sudut kota yang hampir genap setengah tahun saya tinggali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sergapan hawa dingin membekukan fikiran saya akan segala apa yg bakal terjadi esok. Angan saya tak kuasa berpaling dari lambaian tangan kenangan yg begitu menggoda. &lt;br /&gt;Rupa-rupa kenangan itu tanpa saya sadari telah terhanyut dalam tegukan-tegukan susu cokelat hangat yg meyegarkan. dalam larutan cairan itu, genangan kenangan membanjiri hampir semua lorong labirin ingatan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terhempas oleh mesin waktu, angan begitu saja menayangkan sebuah scene yg telah terjadi hampir satu setengah tahun yg lalu. Pada sebuah gerai makanan cepat saji, menjelang tengah malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani perempuan berparas elok dg tatap mata yg mampu membekap khayal, saya menyantap makan malam disana. Secarik kertas dan sebuah pena bertinta hitam dia serahkan pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuliskan 8 nama yg terbagi dalam 3 kategori, dan pada akhirnya, saya menuliskan namanya dibawah kategori : and the winner is. Seulas senyum yg bertahtakan lesung pipi menawan dia anugerahkan sebagai balasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap nama merupakan bagian dari sebuah cerita yg telah berlalu dg kesannya tersendiri, dan nama terakhir akan menjadi bagian dari sebuah cerita yang akan datang," ujar saya usai mengecap sisa es krim dibibir bawah saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yg sebenarnya sudah terilhami tanpa saya sadari. Ilham yg saya rasa datang begitu saja merasuk ke dalam hati saya manakala dia datang dan mengusik saya yg tengah asyik membaca Eleven Minutes karya Paulo Coelho. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang bukan untuk mencari kawan pergi ke rental buku langganannya. Dia memutar sebuah lagu dari Shayne Ward berjudul Breathless, sembari menyodorkan earphone dia berkata "ini lagu kesukaan saya, coba dengarlah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait demi bait syair lagu itu saya coba pahami.Cukup indah saya rasa. Merepresentasikan sebuah roman kehidupan yg selalu diidamkan oleh setiap manusia yg mendambakan hidup berpasangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seindah sebuah letupan perasaan yg hadir secara spontan beberapa waktu berselang sebelum saya mendengar lagu itu. Letupan yg hadir dari dialog penuh kiasan saat mata harusnya sudah terlelap dalam tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan yg melibatkan saya dengan dirinya itu tak lain daripada selimut kejujuran yg masih malu untuk unjuk diri. Entah bagaimana, kata-kata yg seharusnya terucap dengan indah justru beralih menjadi dialog tentang sebuah kebun, dan rumah kayu yg sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana dan meningggalkan kesan mendalam. Serupa dengan mula pertama saya berjumpa dengan dirinya. Pada suatu pagi dipermulaan pekan, sekitar setahun lewat sepuluh bulan yg lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu terkadang saya fikir, saat itu saya justru berkenalan dengan perempuan yg ada disampingnya saja. Perjumpaan saya dengannya hanya berupa pertukaran lirikan mata, dan saling sapa melalui senyum tipis saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senyum tipis yg berkembang menjadi tawa pada keesokan harinya ketika percakapan secara tak terduga terjalin bersamanya. Percakapan yg berisikan uraian keindahan pulau Sepa, Kota Malang, dan Teluk Triton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan panorama nan eksotis yg selalu memuarakan banyak khayal tentang perjalanan wisata. sebuah keindahan yg sejak lama saya idamkan. Juga saya angankan sembari menikmati secangkir kopi sachet murahan lepas petang setelah saya menulis paragraf demi paragraf skripsi saya dulu. Sebuah tugas yg menandai masa  senja studi saya dikampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa studi yg indah, penuh dengan gejolak perasaan yg bisa diekspresikan dg bebas dan dimaknai sesuka hati. Betapa hati saya kala itu sesak dg desakan keindahan-keindahan cerita persahabatan, dan angan tentang keindahan paras rupawan yg selalu saya cari pada banyak persinggahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua itu hanya persinggahan belaka. Tanpa terasa, saya telah menikmati tegukan terakhir susu cokelat saya. Tiba-tiba datang sebuah pesan darinya, sebuah ucapan selamat tidur. Saya sadar, dia yg berparas elok dg tatap mata membekap khayal masih ada, dan bukanlah sekedar persinggahan belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rasa kagum saya padanya tak lekang pada tegukan terakhir. Melainkan akan terus hadir dalam rupa-rupa baru yg selalu indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( and if our love was a story book / we would meet on the very first page / the last chapter would be about / how i'm thankfull for the life we've made... Shayne Ward : Breathless )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2967705409224797152?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2967705409224797152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2967705409224797152&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2967705409224797152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2967705409224797152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2011/02/catatan-3-februari.html' title='Catatan 3 Februari'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-6540148184185762558</id><published>2011-01-26T23:44:00.001-08:00</published><updated>2011-01-26T23:44:27.989-08:00</updated><title type='text'>O A S E</title><content type='html'>Lepas tengah hari, tak ada terik matahari di atas bumi Liwa. Mendung yg menggantung dilangit semakin merapat mendekati matahari sampai pada satu ketika bola panas itu lenyap dibalik mendung kelabu. Tak lama, hujan deras pun turun dalam lajur-lajur yg sangat rapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas di pasar Liwa menemui jedanya, semua orang menghentikan kesibukannya diluar ruangan guna menghindari terpaan air hujan. Sehingga, lajur-lajur air pun bebas menari di jalanan. Dari balik pintu kaca kantor saya, semua peristiwa tersebut terekam dalam benak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, saya menikmati "oase" yang saya temukan ditengah jam kerja. Memberikan ruang abstrak yg lebih lapang bagi saya untuk menghirup input-input perasaan yg menyehatkan psikologi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan saya jatuh pada orang-orang yg berteduh diemperan toko-toko yg berada diseberang kantor saya. Pakaian yg mereka kenakan, kendaraan yg mereka gunakan, dn rokok yg mereka hisap, semuanya merupakan perwujudan latar belakang mereka. Berkali-kali mereka mengibaskan sebagian pakaian mereka yg basah oleh air hujan yg tak sempat mereka hindari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menatap mereka dg nyaman disini. Ditemani suara merdu Emi Fujita ditelinga, dan suguhan teh melati yg harum dan hangat. Sungguh, saya telah melupakan betapa tak lama berselang saya memaki keadaan yg terhimpit oleh beban pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makian yg datang setiap hari ibarat kokok ayam yg menyapa manusia setiap pagi. Seolah hidup hanya diisi dengan nafas untuk bekerja, lisan untuk menyampaikan laporan kerja, dan tangan untuk merapikan meja kerja. Nyaris tiada seperti robot yg didesain untuk berfungsi sebagai alat produksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya melihat diri saya kini. Duduk dikursi yang nyaman, dg suguhan teh yg nikmat, sembari mendengarkan suara merdu penyanyi jazz yg cantik. Dan, diluar sana, hanya dalam jarak pandangan mata, sekelompok orang tengah kepayahan mengusir sergapan hawa dingin hujan. Mulut mereka yg berkomat-kamit mungkin melafadzkan doa supaya hujan cepat reda sehingga mereka bisa melanjutkan pekerjaan. Sebuah keinginan yang tentu berlawanan dengan keinginan saya saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, beban dalam perasaan itu sangat singkat menyinggahi hidup. Hanya dalam jarak antara mendung yg berpencar sampai mendung menjelma menjadi hujan. Segala sesal dan benci rupanya begitu mudah hanyut bersama genangan air hujan, tegukan teh, dan suara merdu Emi Fujita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-6540148184185762558?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/6540148184185762558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=6540148184185762558&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6540148184185762558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6540148184185762558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2011/01/o-s-e.html' title='O A S E'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-6221323837390113322</id><published>2011-01-08T21:13:00.000-08:00</published><updated>2011-01-08T21:13:27.386-08:00</updated><title type='text'>GL MAX Diaries</title><content type='html'>art I : Trip To Danau Ranau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, suatu siang di hari Sabtu, rasa bosan melanda saya. Bosan ga ada kerjaan, dan bosan dengan tempat singgah itu-itu saja. Orang kota bilang mah mati gaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bosan yg membuncah itu akhirnya meletupkan ide, yah mari kita memacu motor GL Ma butut yg memiliki ketangguhan seperti belalang tempurnya Kotaro Minami. Dan tujuan yg pas untuk itu adalah : Danau Ranau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kota Liwa, Danau yang menyatukan 3 provinsi itu bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 45 menit. Jalan yg harus ditempuh adalah Jalan Lintas Ranau yang menyisir tempat-tempat nan eksotis dengan deretan tanaman sayuran, yakni Sukau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazuardi langit siang itu berhiaskan mega mendung. Gradasi warna kelabu dengan putih memayungi saya dan kawan2 yg memacu motor dg semangat. Terlebih saya, GL Max butut dengan suaranya yg mengaum keras membuat saya merasa menjelma sbg Lorenzo Lamas dlm serial The Renegade. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan yg elok dg kelokan-kelokan tajam Karena kontur perbukitan membuat perjalanan semakin seru. Kelokan yg terkadang membentuk huruf U itu akan membuat kita seolah tengah mengikuti race dlm game Grand Turismo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebing berhiaskan ilalang disatu sisi, dan pepohonan rapat yg disisi lainnya bagai barisan pasukan penyambut tamu penting neegara. Berdiri dg kaku dan angkuh, namu penuh wibawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat dg Danau Ranau, pemandangan berganti dg pesawahan yg sekilas menyerupai hamparan permadani hijau dari Turki. Deretan pohon kelapa yg berada diantaranya serupa ornament oriental yg menghiasi permadani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan ini saya temukan setelah melintasi perbatasan Lampung BArat dengan kabupaten OKU, Sumatera Selatan. Tugu yg memisahkan kedua provinsi ini bak nisan berlumut yg terdampar di perkebunan kopi yg dijaga oleh batu granit besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit, tapi semua pemandangan indah itu tdk akan membuat kita melupakan kondisi jalan disana. Pemandangan indah itu harus kita landasi dg kehati hatian krn jalan disana penuh lubang dan genangan air setelah hujan. Jika ada yg mbawa Ferarri melintasi jalanan itu, hahaha.. pastilah telah kehilangan akal sehatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik singgah pertama adalah dermaga Kota Batu, yg sudah masuk wilayah Sumatera Selatan. Deretan rumah dg arsitektur khas Sumatera lama berdiri dg anggun dikedua sisi jalan. Masih banyak gadis2 berambut panjang yg duduk berbincang diberanda lantai dua rumah panggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka, mungkin makhluk dekil membawa motor butut melintasi jalanan depan rumah merupakan fenomena yg langka. Semoga mereka tidak menganggap ini pertanda kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yg sangat menggoda saya saat melintasi jalanan kampong di Kota Batu itu adalah aroma kopi yg tengah disangrai di dapur. Begitu pekat, menyatu dg udara dan menyelinap kedalam rongga penciuman saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dermaga Kota Batu kala saya tiba, belumlah ramai. Hanya ada anak bersegaram pramuka bermain, orang2 dewasa yg mengobrol sambil menikmati kopi hitam. Dan, seseorang yg mencuci motor ditepi danau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya putar haluan, Wisma Pusri menjadi tujuan berikutnya. GL Max pun kembali mengaum, membelah jalanan pasar Kota Batu. Banyak yg menjemur kayu manis, dan biji kopi didepan rumah mereka. Ibu-ibu yg menjaganya tampak asyik mencari kutu sambil bergosip. Such an old view.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-6221323837390113322?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/6221323837390113322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=6221323837390113322&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6221323837390113322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6221323837390113322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2011/01/gl-max-diaries.html' title='GL MAX Diaries'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8323673724917406156</id><published>2011-01-08T21:10:00.000-08:00</published><updated>2011-01-08T21:10:48.380-08:00</updated><title type='text'>Tanjung Setia dari Tiga Pasang Mata</title><content type='html'>Gulungan ombak setinggi dua meter tak henti-hentinya menggoda hamparan pasir putih yang panjang membentang. Ombak semacam itu di Tanjung Setia hanya masuk dalam kategori ombak kecil di penghujung tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau musim angin, antara bulan tiga sampai sepuluh, ombaknya bisa setinggi lima meter,” tutur Wid, pemilik salah satu resort disana menjelang pergantian tahun belum lama ini. &lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/TSlDPqOdGYI/AAAAAAAAAG4/PmR_Clca8-w/s1600/IMG00133-20101224-0623.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="239" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/TSlDPqOdGYI/AAAAAAAAAG4/PmR_Clca8-w/s320/IMG00133-20101224-0623.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seseorang yang telah akrab dengan pesawahan semenjak kecil sampai tumbuh remaja, pantai dengan ombak sebesar itu pastinya tak akan memacu adrenalin saya. Sebuah pilihan yang konyol jika saya mengambil papan surfing lalu menerjang tembok ombak yang dahsyat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, panorama yang ada disana tak ubahnya gadis Uzbek yang tengah belajar bersolek. Memiliki debur ombak dan hamparan pasir yang menawan, sementara resort-resort yang ada masih dalam tahap berbenah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panorama itu menyingkirkan endapan rasa takut saya akan ombak tinggi. Justru angin kencang yang menyapu pantai tak lain menjelma jerat yang membuat mata saya tak jemu menikmati keindahan pantai Tanjung Setia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perairan disana adalah perairan dalam. Permukaan air yang membiru berhiaskan lajur-lajur putih yang tercipta oleh buih-buih ombak. Saat menyentuh pasir pantai, buih-buih itu meninggalkan gurat-gurat serupa coretan kuas pelukis diatas kanvas. Meninggalkan seraut keindahan yang abstrak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Resort pertama di Tanjung Setia mulai dibuka tahun 2000-an dulu,” ujar Wid sembari mempersilahkan saya meminum teh hangat, wujud keramahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resort di Tanjung Setia nampaknya memang merupakan peluang bisnis yang menjanjikan penebalan pundit-pundi uang pemiliknya. Saat high season yang ditandai dengan tingginya ombak mencapai lima meter, semua cottage di Tanjung Setia full booked. Rata-rata wisman yang datang, menginap dalam durasi 1-2 bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengusaha local yang tinggal di Biha, akrab saya sapa abang Kat, mengungkapkan bahwa sejauh ini sudah ada 13 resort di Tanjung Setia. Delapan diantaranya dimiliki local, dan lima lainnya oleh asing. Namun, dari jumlah delapan tsb, dia tidak bisa memastikan berapa yg secara modal murni dimiliki oleh pengusaha local. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif sewa saat high season pun melonjak sampai dua kali lipat jika dibanding tarif antara bulan November sampai akhir Januari. Sebagai catatan, saya mendapat harga dibawah 500 ribu utk sewa cottage semalam dan hidangan makanan lezat sebanyak tiga kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harga special itu buat mas,” ujar WA sembari tersenyum. Ah, ini memang efek samping yang menyenangkan dari sebuah profesi. &lt;br /&gt;Wanita ramah itu menambahkan, banyak wisman yang menamai Tanjung Setia sebagai The Lost Paradise. Wajar saja, jika menilik akses transportasi kesana, bisa dikatakan pantai nan indah itu termasuk daerah terpencil. Sarana transportasi umum yang minim semakin dipersulit dengan infrastruktur jalan yang kurang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbasnya, Tanjung Setia ini hanya akrab ditelinga avountir-avountir dari Negara barat. Rata-rata mereka datang dan menghabiskan tabungan hasil kerja mereka selama beberapa bulan ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan sehari-hari, mereka menyewa motor yang dipatok harga perjam Rp 50 ribu untuk ke Liwa dan mengambil cash money di ATM. Mereka ini adalah wisman-wisman yang ramah, dan komunikatif meski terkadang harus menggunakan bahasa isyarat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang saya ingat adalah Paolo, dia mengaku berasal dari Lisbon. Dalam sebuah percakapan di suatu sore saat dia mengambil cash money, lelaki dg postur sangat kaukasoid itu menceritakan alasannya ke Tanjung Setia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dengar cerita dari kawan, tentang pantai yg sangat eksotis dan natural di Sumatera Indonesia. Ombaknya sangat tinggi tak kalah dengan Bali dan Hawai yg sudah terkenal, namun Tanjung Setia lebih menantang,” tuturnya dalam bahasa Inggris meski pengucapan “r” nya sangat tebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paolo yang juga merupakan fans Nani seperti saya itu bekerja sebagai akuntan di Lisbon. Dia rela menghabiskan tabungan dari gaji yg menurutnya tergolong kecil di Eropa untuk backpacking ke Tanjung Setia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fantastic ,” ujarnya mantab saat saya Tanya bagaimana rasanya setelah menemukan pantai yg diburunya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjung Setia, memang seolah surga yg sejak lama menunggu dengan setia untuk ditemukan para avountir. Dia seolah bersembunyi di balik kerapatan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimata saya, WA, maupun Paolo, Tanjung Setia memang memiliki kesan yang tak akan mudah lekang. Rasa rindu untuk kembali akan setia mengendap dalam hati manakala kita pernah mengunjunginya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8323673724917406156?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8323673724917406156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8323673724917406156&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8323673724917406156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8323673724917406156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2011/01/tanjung-setia-dari-tiga-pasang-mata.html' title='Tanjung Setia dari Tiga Pasang Mata'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/TSlDPqOdGYI/AAAAAAAAAG4/PmR_Clca8-w/s72-c/IMG00133-20101224-0623.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5631953104386435101</id><published>2010-05-28T23:36:00.000-07:00</published><updated>2010-05-28T23:37:06.458-07:00</updated><title type='text'>Menanti Hujan Reda</title><content type='html'>Obrolan kita siang ini dibuka tanpa susu cokelat terhidang dalam cangkir putih bertangkai. Rintik hujan yang menerpa atap menjadi detak waktu yang tersamar oleh hawa dingin yang menyeruak dari rasa sepi sepanjang hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan berbicara tentang cinta, sebab itu merupakan hak bagi manusia yang hidup dalam peradaban yang penuh kecemerlangan pemikiran dan kehalusan perasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar katamu, zaman itu tak ubahnya air yang mengalir. Yah, dia memiliki kemampuan untuk terus bergerak bagaimanapun panjang saluran yang dilintasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ingatlah saja, air itu selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Terhadap zaman yang seperti ini, kita hanyalah partikel padat yang terbawa arus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kau bertanya, lalu untuk apakah kita ini hidup? Ini saja jawabanku, kita hidup untuk sebuah identitas. Bukankah kita selalu mengidentifikasikan diri sebagai makhluk bernama manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu, sejak kita belajar mengaji di surau kecil setiap sore, sampai ke bangku sekolah kelas 3 SD manakala kita mulai belajar tentang Ilmu Pengetahuan Alam. Semua itu kita lakukan, hanya karena kita mengaku kita adalah manusia yang memiliki cita-cita yang harus dicapai lewat jenjang pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lihatlah dunia sekarang, teknologi bermuara pada keganasan mesin perang dan perangkat yang menjadi industri massal dan dipaksakan untuk dipakai oleh orang miskin seperti kita supaya bisa sekedar dikatakan mengikuti perkembangan zaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, tak perlu kita turut mengalir bersama arus zaman, atau menjadi mannequin dimana segala aksesoris zaman diletakkan. Kita hanya hidup untuk sebuah identitas, yakni manusia. Itu saja, dan memang sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia itu adalah organisme biologis yang memiliki hati, otak dan perasaan sebagai unsur pembeda dengan makhluk biologis lainnya. Itu saja kita jadikan pijakan untuk kita menguraikan identitas tersebut menjadi sebuah kombinasi yang selalu hidup menyertai perjalanan kita mengikuti arus zaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptakanlah sebuah keharmonisan antara hati, akal dan perasaan. Buat ketiganya berjalan dalam sebuah keselarasan, tanpa pertentangan. Ketika sudah mencapai itu, kita akan merasakan kebahagiaan dalam kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah satu-satunya hal yang tidak akan bisa ditemukan dengan mengikuti aliran zaman tersebut. Dengan itulah kita akan bisa merasakan bangga menjadi manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5631953104386435101?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5631953104386435101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5631953104386435101&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5631953104386435101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5631953104386435101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2010/05/menanti-hujan-reda.html' title='Menanti Hujan Reda'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-7576415936475393142</id><published>2010-05-19T03:39:00.000-07:00</published><updated>2010-05-19T03:41:38.722-07:00</updated><title type='text'>suatu sore, sepanjang hidup</title><content type='html'>Ini sore untuk kesekian kalinya kita biarkan jendela kamar kita terbuka. Kilau mentari senja yang melukis bayangan pohon palem di depan jendela terlalu cantik untuk diacuhkan. Maka, kembali kita sepakat biarlah jendela terbuka mengantar sore yang lengang menjemput kelam malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, kapan lagi kita bisa bersepakat sebulat ini. Lain waktu, bukankah kita lebih banyak mengisinya dengan perselisihan. Herannya, semua terjadi di muka jendela ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah contoh semalam, udara yang begitu dingin tanpa permisi menghambur masuk melalui jendela yang terbuka. Bagiku, itu adalah sebuah berkah, karena membuat kopi yang telah kuseduh menjadi begitu nikmat rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kau, mahluk keras kepala yang selalu mengumandangkan logika. Angin malam yang begitu dingin dibiarkan masuk, mau mampus masuk angin, umpatmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bodoh, tukasku, matinya orang bukan karena angin, tapi memang sudah tamat ceritanya di dunia. Biarkan angin masuk, kopi ini harus dinikmati senikmat mungkin, biar jalan otakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang otakmu jalan, ingat itu perutmu sudah rusak karena maag, balasmu tak kalah sengit. Dan, hembusan angin yang kuat pada akhirnya menutup jendela dengan paksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang lengang seperti kali ini, seolah merupakan merupakan kegelisahan yang mengendap dan perlahan mencair. Layaknya perasaan kita yang coba berpaling dari kegelisahan yang menjalar disekitar sebait impian yang selalu menjadi doa pengantar tidur kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, kegelisahan itu coba kita lupakan dengan percakapan didekat jendela yang terbuka sembari menikmti teh buatanmu. Yang pada akhirnya, tak terucapkan diujung percakapan karena bibir kita enggan lepas dari rasa manis teh itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan permasalahan teh, atau kopi, atau angin malam. Tapi, hidup itu sendiri memang penuh masalah. Kita musti berani menerima logika kita sendiri yang mendefinisikan hidup sebagai perjalanan menuju ketidakpastian dengan melewati perubahan dalam setiap jengkal langkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya, impian dan keinginan yang kita susun dengan kata-kata indah tidak memberi ruang bagi ketidakpastian itu turut hadir. Sehingga, dia menjelma menjadi hantu gentayangan yang menebar ketakutan meski tak mampu menyentuh kulit kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, jangan terlalu dipusingkan. Satu kata yang menggambarkan posisi kita terhadap ketidakpastian hidup adalah powerless. Itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi janganlah menyurutkan harapan kita sendiri dalam hal ini. Dalam hidup, ada juga yang namanya the power of powerless. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan semacam ini pernah membuat pasukan Badar tercatat dalam tinta emas sejarah Islam dalam kisah kepahlawanan nan gemilang. Atau tak usah jauh-jauh, kekuatan semacam ini pula yang telah membawa Kolonel  Sudirman mengusir balatentara Inggris dari kancah Palagan Ambarawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Biar kupinjam uraian seorang negarawan dan sastrawan Republik Ceko, Vaclav Havel untuk menjelaskannya. Menurutnya, The power of powerless itu adalah wilayah tersembunyi dalam diri manusia. Wilayah tersembunyi itu tidak segera dapat dikenal, dia gelap. Namun, dari kegelapan itu muncul cita-cita luhur hidup manusia : integritas moral, humanitas, dan ketransendenan manusia atas segala hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah tersembunyi itu tidak dapat dibongkar oleh ideology mana pun. Meski dibawah tekanan rezim apa pun, cita-cita luhur itu tetap ada. Hidup sesuai dengan cita-cita luhur yang berasal dari wilayah tersembunyi itulah hidup dalam kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, dengan logika yang sederhana, kita bisa memadatkan semua uraian itu dalam terminology yang lebih familiar, yakni tawakkal dan istiqomah. Tentu kau pun paham, adalah bodoh jika menyamakan kedua kata ini dengan kata pasrah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, bukanlah sebuah permasalahan jika ku minum kopiku setiap sore didekat jendela yang terbuka itu. Oke, dua cangkir dalam sehari. Kau pun meminum teh mu disaat yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya, jendela ini juga kita jadikan sebagai refleksi. Kala hujan badai, kita menutupnya. Kita selalu membukanya setiap pagi yang cerah, agar cahaya matahari yang sehat masuk dengan leluasa. Dan, pada sore-sore tertentu, kita membiarkannya terbuka untuk menyaksikan metamorfosis cakrawala, dari remang menjadi gelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, apalagi yang pasti dalam hidup ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-7576415936475393142?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/7576415936475393142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=7576415936475393142&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/7576415936475393142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/7576415936475393142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2010/05/suatu-sore-sepanjang-hidup.html' title='suatu sore, sepanjang hidup'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1879131190919435471</id><published>2010-01-31T15:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T15:16:36.507-08:00</updated><title type='text'>Ekspresi Ritmik Saat Hujan Rintik</title><content type='html'>Hujan rintik menyirami kawasan Pasar Seni Enggal, Bandar Lampung Minggu (31/1), menghadirkan hawa yang dingin. Namun, puluhan orang tetap antusias menyaksikan pentas seni yang ditampilkan, seolah hawa dingin justru memberikan sentuhan nuansa romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asyik juga liat pentas seni pas ujan-ujan gini, kesannya lebih dramatis aja," ujar Saskia (23), mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Bandar Lampung yang menyaksikan pentas bersama teman-teman kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis-gadis yang mengenakan sweater distro tersebut  menikmati petunjukan sambil berbekal makanan ringan. Tak jauh dari mereka, sekelompok muda-mudi juga melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, Masyarakat Pegiat Seni Lampung (MPSL) menggelar pentas bertema Membangun Hasrat Memintal Bakat. Pertunjukan musik kontemporer, tari kontemporer, dan teater dipentaskan di atas panggung setinggi dua meter dengan latar belakang berwarna hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas dibuka dengan pertunjukan musik kontemporer berjudul "Negeri Bersujud" karya Rusli Syukur. Belasan pemuda memainkan rebana dengan lincah sembari melantunkan  shalawat kepada nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dibelakang mereka, beberapa penari mengenakan topeng Sekura meliuk- liukkan tubuhnya bak batang padi tertiup angin. Suara rebana dan Cetik (alat musik tradisional Lampung) yang menggema seolah menjadi angin yang menerpa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah para penari topeng Sekura undur diri, seorang penari pria berpakaian hitam tampil solo. Tariannya disambut dengan lantunan nyanyian Lir Ilir ciptaan Sunan Kalijaga. Penari itupun kemudian berdiri dan melanjutkan tariannya dengan gunungan berada di tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebuah ekspresi yang unik untuk menunjukkan rasa syukur pada keagungan Yang Maha Kuasa," komentar Ardiansyah (25), salah seorang penonton yang mengaku juga sering melihat pertunjukan seni di kampusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan Tari Kontemporer berjudul  Para Perwitan tak mau ketinggalan untuk menyita perhatian penonton yang tak jua beranjak meski hujan rintik semakin berkurang. Tarian karya koreografer Agus Gunawan ini menampilkan sejumlah lima penari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan ditutup dengan pentas teater berjudul Rekaman Terakhir Krapp oleh Teater Abadi dari Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Naskah karya Samuel Beckett tersebut dipentaskan oleh aktor dan aktris yang disutradarai oleh Lili Subadra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua MPSL, Rusli Syukur, menyatakan bahwa gelaran ini merupakan salah satu upaya pihaknya untuk merangkul generasi muda supaya lebih dekat dengan tradisi budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesenian tradisional itu mengandung pendidikan moral bagi siapa saja, dan juga mampu memberikan keseimbangan spiritual," ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusli menilai, respon kawula muda sudah cukup baik terhadap pementasan seni ini. Buktinya, meski hujan rintik mengguyur puluhan muda mudi tetap datang menyaksikan pentas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iin Muthmainnah, salah seorang pegiat seni Lampung, menyatakan acara semacam ini bagus untuk membangun apresian-apresian seni di kalangan anak muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasar Seni ini sepatutnya memang semakin dihidupkan untuk membangun kantong- kantong seni baru selain Taman Budaya misalnya, apalagi lokasinya cukup strategis karena dilintasi oleh banyak orang," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Walikota Bandar Lampung, Eddy Sutrisno mengharapkan acara-acara semacam ini akan memunculkan seniman-seniman Lampung yang mampu berkiprah di level yang lebih tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1879131190919435471?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1879131190919435471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1879131190919435471&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1879131190919435471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1879131190919435471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2010/01/ekspresi-ritmik-saat-hujan-rintik.html' title='Ekspresi Ritmik Saat Hujan Rintik'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2167984137572807003</id><published>2010-01-22T19:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T19:17:48.662-08:00</updated><title type='text'>22 Januari 2010</title><content type='html'>To My Jazz Singer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih memang, ketika satu bagian dari kehidupan yang telah sekian lama kita lekatkan dalam identitas dan juga kenangan harus hilang untuk selamanya. Pergi, tanpa menyisakan peluang untuk sebuah pertemuan kembali meski hanya sekejap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya akan ada sebuah ruang kosong dan hampa dari rasa menyesak dalam perasaan kita. Mendesak, merambat, dan akhirnya meluap menjadi isak yang tak lagi tertahankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang siapapun tahu, tangis adalah bentuk ekspresi yang paling absolut dari manusia. Baik itu dalam perasaan suka, ataupun perasaan duka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah hendak dikata, terkadang hidup itu memang tidak bisa diibaratkan sebagai pasar malam saja. Istilah ini meminjam perumpamaan dari penulis pujaanku, Mas Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup itu, bukan pasar  malam. Siapa pun tahu, pasar malam itu adalah momen yang sangat ramai, penuh hiburan, dan menawarkan beraneka macam sarana kesenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pasar malam, kita bisa datang mengunjunginya secara ramai-ramai bersama dengan semua kawan yang kita suka. Kita pun bisa pergi dari pasar malam dengan cara yang sama kapan pun kita suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa datang kembali keesokan harinya, baik itu bersama kawan-kawan atau sendiri saja. Datang dan pergi menjadi satu hal yang lumrah dalam pasar malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayang, tidak demikian adanya hidup. Sangat jauh berbeda, dan tidak menyisakan kesempatan untuk menolaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup, kita bisa menemukan banyak teman dan bersenang-senang bersamanya sepuas kita. Akan tetapi, kita tidak bisa meninggalkan kehidupan dengan cara yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata datang dan pergi dalam hidup. Ketika salah satu harus pergi, dia tidak akan kembali, dan yang tersisa juga kita dapat menyusulnya untuk membawanya kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar malam bisa ditinggalkan pengunjungnya secara beramai-ramai. Tapi hidup ditinggalkan manusia satu demi satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My jazz singer, itulah hidup, itulah yang kita jalani. Hidup hanya menjadi indah karena adanya keindahan yang tidak kekal sehingga menjadi semakin demikian berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri bukan orang relijius yang sangat memahami arti keikhlasan dan tahu segala macam doa. Bagiku, hanya ada kesadaran bahwa seperti itulah hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang telah pergi, mari kita abadikan sosoknya dalam ruang kenangan kita yang tak kan  lekang oleh perjalanan hidup. Mari luapkan kerinduan padanya dalam lantunan doa yang tulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau telah mengenalnya sebagai sosok yang memberi pengertian tentang kecantikan pada penampilannya setiap kali bertemu denganmu. Dia juga telah memberi pemahaman tentang arti kebaikan melalui hari-hari yang dilewatkannya bersamamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah adanya dirinya. Biar rasa cintamu padanya memandumu untuk menggambarkan sosok dirinya dalam dinding kenangan di dalam jiwamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, gambaran dalam kenangan tersebut gubahlah menjadi serangkaian harapan dan permohonan manakala dirimu menyudahi munajat kepada pencipta raga dan pemilik jiwamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjatkanlah  permohonan itu selayaknya dirinya adalah dirimu sendiri. Kemudian, lanjutkan hari-harimu untuk terus memaknai hidup dengan kebaikan yang akan kau berikan kepada sahabat yang lain seperti yang diberikannya padamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2167984137572807003?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2167984137572807003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2167984137572807003&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2167984137572807003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2167984137572807003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2010/01/22-januari-2010.html' title='22 Januari 2010'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5664184213805005359</id><published>2010-01-09T17:00:00.001-08:00</published><updated>2010-01-09T17:01:50.270-08:00</updated><title type='text'>40 tahun menjaga mayat</title><content type='html'>"Saat terjadi peristiwa Petrus (Penembak Misterius), mayat yang ada sampai bertumpuk-tumpuk," kata Nardi dengan tenang. Dia menceritakan kisahnya di depan sebuah ruangan berdinding putih dan berpintu biru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama 6 orang rekannya, Nardi menjaga kamar mayat Rumah Sakit Umum (RSUD) Abdoel Moeloek saat  peristiwa itu terjadi di tahun 80-an. Mayat yang datang setiap hari rata-rata hampir mencapai 10 jumlahnya, kebanyakan tidak dikenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat-mayat tersebut adalah para penjahat yang dieksekusi secara misterius oleh penembak gelap. Sebagian besar darinya tidak diambil oleh keluarga, sehingga dikuburkan oleh pihak rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamar mayat yang sekarang ini, dulunya adalah tempat penguburan mayat tidak dikenal yang tak diambil oleh siapapun," ujar Nardi yang kini berusia 67 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi lelaki kelahiran Kotegede, Yogyakarta ini, pengalaman saat Petrus terjadi sangat melekat dalam hatinya. Lebih berkesan daripada pengalaman mistis. Menurutnya, hal-hal yang bersifat mistis sangat sering dialaminya, sehingga dia terbiasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 40 tahun, Nardi bekerja sebagai penjaga kamar mayat. Seorang teman bernama Karto, mengenalkannya pada profesi  ini pada akhir tahun 1969. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar mayat RSUD Abdoel Moeloek pada saat itu masih berdinding papan. Fasilitas yang ada sangat sederhana. Tidak ada lemari pendingin (cooler) untuk mayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu, mayat yang datang diletakkan saja di meja kayu. Kondisinya cepat rusak karena belum ada bahan pengawet yang memadai," terang Nardi, sambil mengusap dagunya yang berhias jenggot tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dekade 70-an, Nardi juga bekerja sebagai penarik becak di sekitar RSUD Abdoel Moeloek. Penghasilan yang tidak mencapai Rp. 1000 menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perantau yang tiba di Lampung pasca Gestapu ( Gerakan September Tiga Puluh) 1965 ini sesekali terbatuk saat bercerita. Suaranya terdengar pelan dan teratur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya resmi diangkat jadi pegawai di sini pada tahun 1973, tahun 1998 saya pensiun. Kemudian saya dipanggil lagi untuk bekerja sebagai honorer dengan gaji Rp. 600.000," kata ayah dari 5 orang anak dan kakek dari 16 cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, Nardi masih menjalani hari-harinya dengan tenang meski mayat silih berganti mendatanginya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5664184213805005359?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5664184213805005359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5664184213805005359&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5664184213805005359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5664184213805005359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2010/01/40-tahun-menjaga-mayat.html' title='40 tahun menjaga mayat'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1025507946284734240</id><published>2010-01-09T08:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-09T08:24:02.793-08:00</updated><title type='text'>Songsong FTA ASEAN China Lampung Harus Spesialisasi Komoditas</title><content type='html'>Beberapa kalangan ekonomi menilai Lampung sebaiknya melakukan spesialisasi produk dalam menyonsong berlakunya Free Trade Area (FTA) ASEAN dengan China. Gempuran produk manufaktur dari China merupakan latar belakang perlunya spesialisasi dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2010, ASEAN telah sepakat untuk meliberalisasikan perdagangannya dengan merealisasikan FTA antar negara ASEAN dan FTA antara ASEAN dengan China. Artinya, tarif impor antara negara ASEAN dan antara ASEAN dengan China akan turun dengan amat signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata tarif yang berlaku di antara enam negara itu akan turun dari 0,79 persen pada tahun 2009 menjadi 0,05 persen pada tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat Ekonomi Bank Indonesia (BI) Lampung, Gamal Muhammad menilai pelaksanaan FTA antara ASEAN dengan China bagaimanapun akan membawa pengaruh kepada perdagangan di Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama periode Januari - November 2009, China merupakan negara tujuan ekspor Lampung yang utama, selain itu China juga berada pada peringkat kedua negara pemasok barang kepada kita," ujar Gamal, Rabu (6/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FTA tersebut membuka pintu yang lebar untuk masuknya berbagai produk China dengan mudah ke pasar negeri ini. Dan, produk tersebut memiliki daya saing yang kuat karena harganya yang relatif murah sehingga bisa menjangkau banyak kalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, dalam rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung tanggal 3 Januari 2010, sepanjang Januari - November 2009 nilai ekspor Lampung ke China mencapai 31,04 juta US $  . Sedangkan nilai impor Lampung dari China dalam periode yang sama mencapai 120,94 juta US $ . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti selama Januari - November 2009 neraca perdagangan Lampung terhadap China mencatat defisit sampai 89,5 juta US $. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ekspor kita ke China didominasi produk-produk primer seperti komoditas dan bahan mineral, sementara China banyak memasok produk-produk manufaktur ke Lampung," urai Gamal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan Gamal, Lampung masih mampu untuk mengembangkan ekspor ke China meski FTA telah dibuka. Syaratnya adalah Lampung harus melakukan spesialisasi dalam bidang yang menjadi andalan seperti komoditas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita masih memiliki keunggulan secara kualitas maupun kuantitas dalam komoditas," kata Gamal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa menjadi poin khusus yang menjaga daya saing Lampung dalam memasuki era FTA. Spesialisasi tersebut harus dilakukan dalam hal peningkatan kualitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan mempermudah masalah perizinan untuk mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, mereka sebagai pelaku ekonomi di sektor komoditas akan mendapatkan stimuli untuk terus mengembangkan usahanya. Selain itu, pemerintah juga harus membuka akses ke daerah pedalaman yang menjadi sentra komoditas dengan cara membangun banyak infrastruktur transportasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Spesialisasi ini sangat perlu untuk meningkatkan daya saing sektor komoditas, sebab China juga mulai merambah sektor ini, lihat saja sekarang mulai banyak jeruk asal China dijual di supermarket," tutur Gamal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian yang hampir serupa dikemukakan oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung Rahmat Mirzani Djausal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelaksanaan FTA antara ASEAN dengan China merupakan suatu perkembangan yang harus diwaspadai," ungkap Mirzani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mirzani, akan masuknya  arus produk China dalam jumlah besar ke pasar Lampung bisa menyebabkan perkembangan neraca perdagangan yang kurang baik. Produk China bisa terlalu dominan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini karena sebagian besar produk dari China memiliki harga yang murah sehingga mudah diserap oleh pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya harus disayangkan pelaksanaan FTA ini mengingat growth ekonomi kita yang tengah menanjak,  sepanjang tahun lalu kita mampu menjual produk ke luar dan dalam negeri. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat kita cukup bagus," papar Mirzani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Lampung perlu meningkatkan kualitas produk-produk unggulannya dalam menyongsong terbukanya FTA dengan China. Produk unggulan tersebut, menurut Mirzani, terletak pada sektor agrobisnis, dan dengan mengandalkan sektor ini Lampung cukup mampu untuk menghadapi FTA ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dalam hal ini sebaiknya membantu dengan mendorong peningkatan daya saing unggulan Lampung tersebut. Caranya adalah dengan meningkatkan kualitas pelaku di bidang itu, mempermudah pengembangan usahanya, serta mempermudah akses pemasarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lampung Subadrayani menilai bahwa terbukanya FTA ASEAN dengan China merupakan momentum bagi pemerintah untuk semakin selektif dalam menyeleksi barang impor yang masuk ke pasaran lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini karena kesadaran masyarakat kita tentang kualitas produk terkait kebutuhan mereka belum cukup tinggi, sehingga seringkali mereka lebih mengutamakan harga," terang Subadrayani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, produk-produk China masuk ke pasar kita dengan harga yang lebih rendah dari produk asing lainnnya semisal Jepang. Padahal, dari segi kualitas belum tentu produk China unggul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya meningkatkan pengawasannya supaya yang beredar di pasaran adalah produk-produk yang memang diperlukan masyarakat dan memberi ruang bagi produk lokal untuk berkembang pasarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen Harus Lebih Bijak dan Cinta Produk Lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FTA ASEAN dengan China ini juga sebaiknya disikapi dengan lebih bijak oleh kalangan konsumen. Pentingnya sikap ini adalah untuk memberi rangsang bagi perekonomian domestik supaya tetap memiliki ruang untuk tumbuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gamal Muhammad menyatakan bahwa kalangan konsumen sebaiknya mulai sekarang mulai membiasakan diri untuk lebih bijak dalam memenuhi kebutuhannya. Prioritaskan kebutuhan, jangan hanya mengutamakan harga saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Rahmat Mirzani Djausal menghimbau kepada kalangan  konsumen agar lebih mencintai produk dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kita beli baju China misalnya, uangnya akan dinikmati di sana, sedangkan kalau kita beli baju lokal maka uangnya akan tetap berputar di sini dan memberikan banyak manfaat," urai Mirzani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Subadrayani mengharapkan pemerintah berperan serta dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan kegiatan konsumsinya. Bentuknya antara lain dengan menggelar penyuluhan tentang pentingnya menilai suatu produk secara kritis terkait kebutuhan dan kualitasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1025507946284734240?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1025507946284734240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1025507946284734240&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1025507946284734240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1025507946284734240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2010/01/songsong-fta-asean-china-lampung-harus.html' title='Songsong FTA ASEAN China Lampung Harus Spesialisasi Komoditas'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-876156167250639406</id><published>2009-12-25T02:00:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T02:01:16.190-08:00</updated><title type='text'>Rambu Bersejarah yang Pudar dalam Kenangan</title><content type='html'>Sebuah rambu laut berwarna perak berkilau oleh siraman cahaya matahari. Pohon Ambon setinggi 20 meter di depannya tak berdaya untuk menaungi. Beberapa pohon lain pun mengacuhkannya. Rambu laut itu terpanggang sendirian di tengah sebuah taman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi rambu laut itu adalah 1,5 meter dan diamaternya 1 meter. Lebarnya mencapai 2 meter. Rambu itu juga berhiaskan cincin besi bercat merah.  Sebuah kotak merah serupa lampu memahkotai sang rambu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambu laut itu berada di tengah Taman Dipangga. Taman ini berdiri mulai sejak 1986. Kata Dipangga itu sendiri berasal dari bahasa Lampung dialek Pubian yang artinya dijunjung.  Sebuah tugu batu setinggi 2 meter memang menjunjung rambu laut tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Dipangga berlokasi di Jalan WR Supratman Teluk Betung Bandar Lampung. Kantor Kepolisian Daerah Lampung berada tepat di belakang taman seluas 1 hektar tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung taman Dipangga pada Minggu (5/4) tak ada yang menaruh perhatian pada rambu laut itu. Beberapa pengunjung yang jumlahnya sedikit itu lebih memilih untuk duduk mengobrol disekitar pepohonan. Rambu itu pun terdiam tak disapa dan menyimpan sebuah tragedi yang pernah dialaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah plakat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung sesungguhnya menunjukkan nilai rambu laut itu. Plakat itu tertempel pada sebuah akar pohon besar yang tumbang. Akar dari pohon Ambon raksasa yang tumbang mencium tanah setahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plakat itu menjelaskan bahwa rambu itu adalah sisa letusan gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883. Sebuah malapetaka dahsyat yang menelan korban jiwa mencapai lebih dari 36.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambu itu adalah bagian dari kapal uap bernama Berouw milik pemerintah kolonial Belanda. Kapal ini tengah berlayar di selat Sunda ketika Krakatau meletus. Tsunami besar akibat letusan Krakatau  melemparkan Berouw hingga puluhan kilometer jauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal itu kemudian hilang tanpa jejak. Penduduk Teluk Betung pada tahun 1936 menemukan rambu laut itu tanpa badan kapalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun sebuah taman disekitar rambu itu. Penduduk Teluk Betung pada waktu itu menyebutnya dengan Taman Ambon. Dua buah pohon Ambon raksasa yang telah ada di sana sebelum Krakatau meletus menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon Ambon itu  menuliskan ceritanya pada mulut orang-orang disekitar taman. Seorang pedagang kaki lima disekitar taman bernama Sumiyati (35), menyatakan bahwa pohon Ambon raksasa itu keramat. " Pohon itu tak dapat ditebang. Jika memang sudah waktunya dia akan tumbang sendiri," kata Sumiyati yang telah berdagang di areal taman sejak tahun 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang warga Teluk Betung bernama Waluyo (40) yang kebetulan tengah mengunjungi taman, membenarkan pernyataan Sumiyati. " pohon itu punya kekuatan gaib. Cuma bisa roboh dengan sendirinya. Setahun lalu, salah satu pohon itu roboh pada pukul 2 pagi," ujar Waluyo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang ini hanya menggelengkan kepala saat ditanya tentang rambu laut itu. Mereka mengenalnya hanya sebagai bagian dari tugu di tengah taman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambu bersejarah itu memang tersamar oleh kebesaran pohon Ambon di tempat yang sama. Taman Dipangga hanya menampilkan batang pohon Ambon sebesar pelukan 3 orang dewasa jika dilihat dari depan. Dua patung gajah hitam setinggi 2 meter seolah menjaga pohon raksasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua patung badak hitam setinggi 1,5 meter  juga tak sudi menjaga rambu bersejarah itu. Mereka lebih suka mengawal dua buah gazebo yang berada di sisi kanan dan kiri taman.  Gazebo-gazebo ini sering menjadi tempat pengunjung berteduh, dan sesekali menjadi tempat latihan menari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pelataran marmer berbentuk segi enam setiap hari mendampingi tugu batu tempat rambu laut bersemayam. Pelataran berukuran 12 x 6 meter ini sering dipakai oleh masyarakat untuk berlatih Karate atau Taekwondo pada hari-hari tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pohon Johar berbaris rapi di sebelah kanan rambu laut. Pohon-pohon ini memeluk sebuah ayunan besi dalam keteduhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang remaja asyik berbincang diatas ayunan. Salah seorang diantaranya yang bernama Asti (15), mengaku sering berkunjung ke taman Dipangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asti menerangkan bahwa taman Dipangga ramai pengunjung pada waktu sore hari. " abis adem si, jadi enak buat nongkrong rame-rame," kata Asti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asti hanya mengangkat bahu ketika pertanyaan tentang rambu bersejarah di tengah taman diajukan padanya. " kayaknya si, itu bekas kapal yang terlempar karena letusan Krakatau dulu," kata Asti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-876156167250639406?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/876156167250639406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=876156167250639406&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/876156167250639406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/876156167250639406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/12/rambu-bersejarah-yang-pudar-dalam.html' title='Rambu Bersejarah yang Pudar dalam Kenangan'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8747623221706596816</id><published>2009-11-08T08:43:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T08:43:45.329-08:00</updated><title type='text'>Debu di sepanjang jalan</title><content type='html'>Kemarin, Sabtu 7 November 2009, saya kembali pulang ke rumah. Titik di atas sepetak tanah di mana saya lahir dan menjalani puluhan tahun perjalanan hidup saya. Pulang adalah melepaskan penat dengan bersandar pada kenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah, di sebuah rumah yang mulai memudar warna cat kuning ruang tamunya, saya pulang. Pintu kayu bercat hitam yang telah mengelupas sebagian catnya terbuka menyambut saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan persegi seluas 6x4 meter memberi saya kelonggaran untuk sejenak meletakkan semua beban yang terbawa pulang. Saya duduk, dan diam di atas sofa cokelat yang telah berusia hampir 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan saya segera terpaut pada debu yang melekat di atas kaca ruang tamu. Samar namun merata, sehingga kaca nampak buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas saya ke belakang, mencari kain lap. Setelah saya temukan didekat meja makan, kembali saya ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaca saya bersihkan dengan kain itu. Aneh, rasanya saya tidak mengusap permukaan kaca. Justru, desiran-desiran halus menelisik di dalam dada saya setiap kali kain menyentuh permukaan kaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, saya berhenti. Dengan ujung telunjuk tangan kanan saya, permukaan kaca itu saya telusuri. Perlahan, dari tepian ke tepian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insyaflah saya, bahwa kaca itu sesungguhnya refleksi diri saya seutuhnya kini. Saya tetaplah tidak berubah, tidak kalis dari debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bagi saya tak ubahnya bagai lintasan jalan yang memungkinkan saya untuk melihat banyak hal disepanjang tepinya. Tapi akan kemanakah jalan itu berujung, tidak sedikitpun tersirat gambaran dalam benak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya merasa, bahkan meyakini, bahwa saya melihat bayangan ujung jalan. Sayang, ketika saya menghampiri, itu tak lebih dari sekedar fatamorgana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya merasa lelah, tapi tak sedetikpun bisa saya tepis dorongan untuk terus berjalan. Karena, kalau mau hidup ya terus saja jalan. Diam saja ditempat sama saja membunuh diri sendiri secara perlahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka teruslah saya berjalan, hanya karena keharusan untuk berjalan. Seringkali ada perempatan jalan yang membimbangkan saya akan arah. Namun, saya terus saja lurus berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bukan karena saya tahu tujuan langkah saya, melainkan karena saya tidak tahu ujung perjalanan saya. Maka, saya ambil gampangnya saja, berjalan lurus dan temukan segala apa yang bisa ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses itulah yang membuat saya diterpa debu jalanan. Sebab, saya berjalan stagnan, lurus saja ditengah. Saya tidak pandai bermanuver, zig zag misalnya. Jadi, setiap datang hembusan angin  berdebu yang bisa saya lakukan hanya menahan nafas saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, debu yang mengendap dipermukaan pakaian saya makin menebal seiring semakin jauhnya jarak yang saya tempuh. Dan, semakin lama semakin banyak pula debu yang merasuk hingga ke dalam diri saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit saya berdebu, siapa yang menyentuhnya pastilah akan tercemar. Pandangan saya berdebu, tidak mampu lagi menatap sesuatu dengan jernih. Jari jemari saya berdebu, mencemari apa saja yang saya sentuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu disepanjang jalan telah menjadi permukaan diri saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara langkah dibelakang saya menyentak saya dari  lamunan. Saya menoleh, di sana ada emak saya tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tatap lekat-lekat sosok yang telah memasuki usia senja itu, bersih sekali, Sama sekali tidak ada debu menempel pada dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saya hampiri dia, saya cium dengan takzim telapak tangan kanannya. Maaf emak, bungsumu ini turut membawa pulang debu di sepanjang jalan………………….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8747623221706596816?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8747623221706596816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8747623221706596816&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8747623221706596816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8747623221706596816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/11/debu-di-sepanjang-jalan.html' title='Debu di sepanjang jalan'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-7540988967202780445</id><published>2009-10-10T20:59:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T21:02:22.926-07:00</updated><title type='text'>D simple things remain</title><content type='html'>Ternyata, sejenak memalingkan wajah dari rutinitas banyak memberikan hal-hal yang menarik. Ini bisa menjadi semacam masa rehat guna menyegarkan fikiran yang mulai bebal membaca segala makna dibalik semua peristiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya saja kemarin pagi, ada yang unik yang bisa membuat saya tersenyum sepanjang hari saat mengenangkannya kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin itu, degan santainya saya memacu gas motor dipagi hari yang sudah dibuat panas oleh matahari. Ketika hampir mencapai tugu unila, sebuah angkot biru segera saja memikat pandangan mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kaca belakang angkot itu, tertera sebuah tulisan yang besar : Korban Kobel! Wuih, sebagai manusia yang telah menyaksikan berbagai berita pencabulan yg ditampilkan secara vulgar oleh media, segera saja terbit rasa iba dalam hati saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercetus pula dari mulut saya : met amet jabang bayi, mugo-mugo ora temurum anak putuku, yg bisa diartikan sbg sebuah doa semoga anak keturunan saya tidak mengalami peristiwa traumatik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak saya, juga langsung muncul wajah seorang lelaki pucat, bertubuh kurus yang sering terdiam dengan tatapan kosong saat melihat dedaunan jatuh dari pohon. Mengenangkan masa kecilnya yang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, dalam hitungan detik, imajinasi ala film korea saya musnah seketika. Sopir angkot yang mulanya saya bayangkan begitu dramatis, ternyata lebih pas bercokol dalam benak orang-orang sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung sopir itu ternyata lebih cocok jadi model video klip Ikang Fawzi yang berjudul Preman. Penampilan dan pembawaannya membuat saya takuuuuuttttttttt…iiihhhhh….&lt;br /&gt;Dia adalah seorang pria berbadan cukup gempal. Kulitnya gelap, dilengan kanannya ada tato bleber, gambarnya si kalo ga salah uler naga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tato ini semakin sangar karena dia memakai satu anting besi ditelinga kanannya. Pokoknya tipe orang yg langsung bakal dapat duit goceng kalo nongkrong di pasar sambil mukul2 dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah saya menemukan adanya kontradiksi. Ada preman jadi korban kobel???&lt;br /&gt;Trus kenapa dia majang tulisan itu gede2? Ini wujud traumanya, dendamnya, atau jangan2 sebaliknya? Justru ini cara dia menunjukkan kebanggaannya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah??? Mampukah?? Benarkah???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan dia tipe preman yang begini cara malaknya : iihhhh..bagi goceng dong bo’, cubit kanan kiri atas bawah lo kalo ga ngasih….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, justru hal-hal semacam inilah yang memberikan nuansa manusiawi dalam keseharian saya kini. Tidak sekedar berisi kepasifan menunggu butiran-butiran pasir jatuh dalam bejana jam yang menandai waktu setiap harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ada juga sih terkadang beberapa peristiwa yang menyegarkan saya dalam rutinitas kerja. Meskipun itu tidak banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, jika harus menyebut salah satunya maka saya akan menyatakan bahwa satu ketika usai hari raya adalh peristiwa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, saya tengah dalam proses untuk membuat satu tulisan tentang keramaian taman rekreasi saat hari raya. Maka, berangkatlah saya menuju salah satu taman rekreasi yang ada di Bandar Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dan tujuan saya sebenarnya Cuma ingin memantau suasana dan juga mendapatkan data angka tentang penambahan jumlah pengunjung. Itu saja cukup bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tpai, rupanya peruntungan saya tengah besar hari itu. Tak disangkan tak diduga, saya justru dapat kesempatan untuk bertemu dengan penyanyi dangdut tenar yang terkenal dengan goyang donatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa lagi kalau bukan :IRMA DHARMAWANGSA. Weleh, cuakep dan semlohai adalah dua kata yang cukup untuk mendeskripsikan gadis 26 tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa grogi bertemu dengan cewek. Saya menyesal kenapa pakai baju biasa aja hari itu, kenapa saya lupa menyelipkan sisir di kantong belakang celana saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kenapa saya lupa melatih vokal saya supaya saat berbicara ada semacam echo diujung kalimat saya layaknya Roma Irama. I wannabe a very dangdut man.&lt;br /&gt;Dalam beberapa saat, saya bisa bercakap-cakap dengan mbak Irma. Ohhhh…suaranya seksi, begitu menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, jujur saja, secara anatomis, ada bagian tertentu dari tubuhnya yang membuat saya ingin menyandarkan kepala saya dengan mesra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tibalah saat yang paling membahagiakan. Saya semobil dengannya, mengantarkannya menuju ke panggung. Saat itu, saya meyakini bahwa diri saya lebih tampan daripada saipul jamil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah semua itu terlalui, saya hanya punya jeda demi jeda. Semacam momen untuk menunggu terjadinya kembali peristiwa-peristiwa seperti tersebut diatas. Sembari, menekan berbagai rasa bosan dan tidak nyaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-7540988967202780445?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/7540988967202780445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=7540988967202780445&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/7540988967202780445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/7540988967202780445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/10/d-simple-things-remain.html' title='D simple things remain'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-956898761860182344</id><published>2009-10-09T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T05:30:28.521-07:00</updated><title type='text'>Kini</title><content type='html'>Ketika Rasa dan Fikiran tak lagi bermuara pada kata dan aksara..&lt;br /&gt;apa lagi yang tersisa dalam karakter yang demikian sederhana ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-956898761860182344?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/956898761860182344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=956898761860182344&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/956898761860182344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/956898761860182344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/10/kini.html' title='Kini'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-4743502910892399044</id><published>2009-03-24T08:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T08:48:33.467-07:00</updated><title type='text'>Inisiatif, Jo!</title><content type='html'>Dul paijo memaki-maki sendiri pada suatu pagi. Saya yang ada didekatnya jadi terperanjat. Dul paijo kesurupan!. “. Nyebut, jo..nyebut”. pinta saya sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dia memelototi saya. “. Gundholmu! Aku waras, Cuma lagi kesel aja”. Bentak dul paijo pada saya. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut punya, ternyata bujang cungkring ini tengah membenci televisi. Penemuan fantastis manusia abad ke-20 ini dianggapnya tak lebih dari mobil tinja yang bocor tengkinya. Cuma mengotori saja jadinya. Edan betul, kotak ajaib yang canggih tidak ketulungan itu tidak berarti apapun buat dul paijo. Malah, dikatain sumber kotoran. “. Kok bisa gitu jo?”. Tanya saya sembari memeriksa apakah jidatnya anget apa tidak. “. Ya liat aja acaranya, sampah! Terutama acara buat anak-anak, puih! Udah kayak racun untuk anak-anak yang polos”. Umpatnya kesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Kebanyakan acara untuk anak-anak ditipi kita, sangat tidak edukatif. bahkan Cenderung destruktif untuk pertumbuhan jiwa yang sehat”. Dul paijo mulai mengurai kekesalannya. Saya nangkring diatas tumpukan kayu didepan dul paijo, siap mendengar ucapannya yang terkadang ajaib. ”.liat aja, masak tontonan buat anak-anak kontes-kontesan nyanyiin lagu-lagu orang dewasa. Apa gunanya? Belum lagi sinetron-sinetron anak yang kelewat bodoh ceritanya. Karakternya pun dibuat hitam putih, jahat ya jahat bener. Kalo baik, kelewatan sampe cenderung naif”. Saya setuju dengan pendapat dul paijo. ”. Terus bagaimana tontonan sampah itu sampai mempengaruhi jiwa anak-anak jo?”. tanya saya dengan lugu. ”. Respon agresif tu bukan turunan, tapi terbentuk dari pengalaman”. Wah, hebat bener cacing cungkring satu ini. Dia mengutip Albert Bandura,psikolog Stanford. Melihat saya kagum, dul paijo mulai melanjutkan kalimatnya dengan lagak tengik. ”. Oleh karena itu, orang belajar tidak menyukai dan menyerang tipe individu tertentu melalui pengalaman atau pertemuan langsung yang tidak menyenangkan”. Sebelum makin menjadi tengiknya dul paijo, saya langsung menyambar kalimatnya.”. maka dari itu, acara tipi kita yang tidak edukatif itu bisa membahayakan kesehatan psikis anak. Dewasa ini, anak-anak tidak banyak bersentuhan dengan permainan yang komunal, juga bersentuhan dengan alam. Oleh karna itu mereka banyak belajar dan menyerap contoh pengalaman dari tipi.”. dul paijo menyambung ”. Bener tu, sebuah penelitian oleh lembaga kesehatan mental nasional amerika menyimpulkan bahwa kekerasan dalam program televisi menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak dan remaja. Itu artinya, mental anak-anak sangat mudah terengaruh oleh apa yang ditontonnya”. Lalu saya menyimpulkan. ”. Dan sayangnya, acara tipi kita tidak termasuk jenis yang mendukung pertumbuhan mental anak yang sehat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”. Berikanlah anak-anak apa yang menjadi kebutuhannya yang alamiah.”. ujar dul paijo. ”. Seperti apa jo?”. tanya saya. ”. Ya mainan contohnya, keinginan untuk bermain itu merupakan sifat natural anak-anak. Berikanlah contoh tontonan yang melibatkan mereka secara psikologis. Kondisikanlah suatu keriangan yang komunal sebagai substansinya, agar mereka pun dapat belajar tentang kehidupan sosial.rangsanglah potensi kreatif mereka dengan permainan, bukan menanamkan sifat konsumtif mereka terhadap permainan”. Dul paijo menutup ucapannya dengan berdiri. Dg lagak bijak, dia melanjutkan.”. bukan maksud membandingkan, karena tidak ada kesesuaian bentuk memang. Tapi apa yang akan ku ceritakan ini masih berkaitan dengan anak-anak. Nah, di Yogyakarta ada sebuah museum mainan anak yang dinamai Museum Anak Kolong Tangga. Ini adalah sebuah inisiatif yang bagus ditengah penetrasi yg kurang sehat terhadap anak-anak, Cuma sayang, yang mendirikan wong londo, namanya Rudy Corens, warga Belgia.”. wah, info dul paijo sangat menarik minat saya. ”. Museum ini berisi mainan anak-anak tradisional Indonesia. museum ini juga dilengkapi dengan ruang bermain untuk anak serta diajarkan pula cara-cara membuat mainan untuk anak-anak.  Yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah sebuah inisiatif untuk mendidik anak dengan cara yang sesuai logika dan kejiwaan mereka. Selain itu, juga untuk melestarikan nilai-nilai budaya sebab semakin lama mainan anak-anak khas Indonesia hilang ditelan waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”. Ku pikir jo, inisiatif semacam inilah yang perlu dicontoh mereka yang bekerja dalam media semacam tipi itu. Hampir mustahil kita mengharapkan lahirnya sebuah nilai-nilai luhur sebagai motivasi dan orientasi dalam membuat acara tipi. Maklum, tipi itu termasuk instrumen teknokapitalis, tipi itu industri padat modal. Tayangan yang mendidik susah dijual, sementara tayangan yang laku dijual seringkali tidak mendidik”. Ujar saya memberi pandangan pada cerita dul paijo. Kini, gantian dia yang mendengarkan saya. ”. Tipi itu jo, terlalu mengejar rating. Padahal, rating itu tidak mengenal MORAL jo! Lagi pula,kebanyakan tipi kita masih mengibaratkan penonton bagai kambing congek yang mau saja dikasih makan apa aja. Penonton tidak banyak diberi otoritas dan tidak diberi pilihan, hanya dijejali sampah dan sampah saja. Lalu bagaimana pertanggung jawaban moral dari rating yang lahir dalam kondisi seperti ini?”. dul paijo manggut-manggut menanggapi uraian saya. ”. Selain itu jo, ide-ide dalam membuat tayangan tipi kebanyakan lahir dari anasir-anasir oportunis pemilik modal, orientasinya jelas: Cuma profit yang besar dan instan. Maka jangan heran jika ide-ide kreatif dan edukatif dalam tipi kita ibarat palawija yang ditanam dimusim hujan bagi kebanyakan tipi. Karena apa? Karena ide-ide itu dilihat dan dinilai dari kadar ekonomi dan potensi ekonominya saja”. Lalu dul paijo menanggapi uraian saya.”. betul itu, maka dari itu, inisiatif seperti museum kolong tangga itu menjadi begitu penting untuk dicontoh. Sebuah inisiatif yang cerdas dan berani mengingat inisiatif itu lahir ditengah perkembangan zaman yang ora mbejaji (tidak keruan)”. saya tersenyum gaya dul paijo berbicara. ”. Bener jo, inisiatif seperti inilah yang akan memicu lahirnya counter product terhadap produk-produk massal yang tidak sehat itu. Sebab, mengharapkan orang sadar dengan sendirinya seperti menunggu Ryan Giggs pindah ke Liverpool”. Dul paijo ngakak mendengar analogi saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-4743502910892399044?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/4743502910892399044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=4743502910892399044&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/4743502910892399044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/4743502910892399044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/03/inisiatif-jo.html' title='Inisiatif, Jo!'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8620109532802518886</id><published>2009-03-15T20:41:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T20:42:13.103-07:00</updated><title type='text'>Ngopi (ya ngobrol sambil minum kopi)</title><content type='html'>”. Anterin saya ke dokter sih,kepalaku puyeng,senut-senut”. Pinta dul paijo pada suatu sore yang bermendung. Saya langsung ketawa mendengar bibir dower kampungannya mengucap kata dokter. Dia langsung menthelengi (melototi) saya. ”. Kamu pikir saya terlalu kampung untuk mengerti posisi fungsional dokter secara ilmiah?”. waduh, naik darahnya dul paijo. Saya langsung ke belakang ngambil sepeda ontel saya. ”. Yok jo, berangkat”. Lalu saya pun membonceng dul paijo ke rumah dinas dokter dibelakang puskesmas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 menit kemudian sampailah kami ke rumah dokter. Beliau adalah dokter baru, kepala puskesmas yang menggantikan dokter budi. Kabar yang beredar luas, dokter baru dari kota ini cuantik parasnya dan baik budi pekertinya. Sempurna sebagai wanita dengan segala katuranggannya. Namanya : dr. Mita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis mulai turun seiring saya mengetuk pintu rumah yang asri itu. Dul paijo duduk mengapurancang di sebuah kursi rotan diberanda. Pintu rumah segera terbuka. Seraut wajah nan rupawan muncul, beberapa kejapan mata jantung saya seolah berhenti berdetak. ”. Met sore mas, ada apa yah?”. wah, pasti ini dokter mita. Segala pemunculannya sangat sesuai dengan cerita yang saya dengar. Suaranya lembut dan renyah seperti mbak sundari sukoco yang tengah membawakan acara gebyar keroncong. Wajahnya, ah, mungkin Tuhan Cuma menciptakannya sekali saja, pada raga beruntung dihadapan saya ini. ”. Mas, maafkan jika penampakan saya mengecewakan sampe mas bengong gitu”. Tegurnya sekali lagi. ”. Oh..maaf bu..itu teman saya sakit”. Saya menunjuk ke arah dul paijo dengan pandangan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul paijo segera saja membuat saya iri habis-habisan. Dipegang-pegang dokter cantik jidat kasapnya, dielus-elus urat nadinya sembari ditanya-tanya dengan lemah lembut. Sekilas bujang cungkring celaka itu mengerling pada saya. Hapal betul saya arti kerlingan itu : ini baru mmoooiiii...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter mita beranjak ke dalam. Mau ambil obat mungkin. Saya dekati dul paijo. Jidat kasapnya saya cemol dengan ikhlas. ”. Uenak tenan koe Jo”. Gerutu saya. Seperti biasa, dia nyengir dengan menyebalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter mita kembali dengan nampan berisi 3 cangkir kopi dalam cangkir hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”. Mas jo, ngopi dulu ya”. Dr mita  meletakkan menyediakan kopi itu untuk dul paijo, saya dan dirinya sendiri.  Wah kebetulan, saya memang belum ngopi sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr mita duduk dihadapan kami berdua. Dia membuka percakapan. ”. Nah, mas jo, secara medis, sakit kepala mas jo itu ringan. Mungkin akibat beban pikiran aja. Gak perlu minum obat, ngopi aja cukup kok”. Suara dokter cantik itu begitu lembut seperti bersenandung. Dul paijo terpana. Saya segera memanfaatkan momen, mengambil inisiatif. ”. Boleh tau dok kenapa kopi bisa seperti itu?” tanya saya,coba mengesankan sebagai orang yang perduli kesehatan. ”. Kopi itu  mengandung zat yang bernama kafein. Dalam proporsi yang ideal, zat ini memberi rangsang yang positif pada syaraf otak”. Wah, tampak elegan dan sangat berpindidikan gayanya menerangkan. Inilah kiranya yang disebut wanita yang memiliki otoritas dalam ucapannya. ”. Pantes aja dok, saya selalu merasa lebih sreg kalo mengerjakan segala sesuatu yang memerlukan pendaya gunaan otak setelah ngopi dulu sebelumnya”. Saya coba memberi tekanan yang sedikit lebih pada kata pendaya gunaan otak. Maksud hati tentu ingin menarik simpati. ”. Ya, itu salah satu manfaat kafein. Stimuli kafein pada otak dan sistem saraf mampu mempercepat respon dan memori. Maka, ada baiknya sebelum, presentasi misalnya, minumlah secangkir kopi 15 menit sebelumnya”. Dr mita mengangkat cangkir kopinya dalam gerak dan posisi yang sangat beradab dan bersusila. Lalu meminum kopinya tanpa menimbulkan bunyi. ” selain itu dok?” tanya saya setelah berhasil melepaskan diri dari jerat pesonanya. ”. Kafein juga dapat mencegah gigi berlubang. Juga, untuk mengurangi sakit kepala. Tidak hanya itu, konsumsi kopi yang teratur dan proporsional juga dapat mengurangi resiko mengidap diabetes. Dalam sebuah penelitian, ternyata, parkinson juga jarang sekali ditemukan pada orang yang meminum kopi secara teratur. Dan, kopi juga disebut mampu meningkatkan kesuburan pada pria”. Cantik dan luas wawasannya. Sementara saya dan dul paijo, hampir ngiler dibuatnya. ”. Wah, asyik dong, saya rutin lho minum kopi”. Canda saya. Wajah dr mita memerah karenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”. Mas jo, gimana udah enakan?”. tanya dr mita sangat simpatik pada dul paijo. Bujang cungkring itu menjawab dg anggukan sopan. Pasti jika dia membuka mulut bersuara, tumpahlah ilernya akibat terpesona malihat dr mita. ”. Wah, saya dari dulu suka sekali ngopi, tapi baru sekarang tau manfaatnya secara medis ”. Ujar saya jujur. ”. Secara medis, berarti ada dong manfaat kopi dalam perspektif lain. Boleh kiranya saya mendengar?”. pinta dr mita tanpa mengurangi kadar kecerdasannya. Saya jadi tersipu mendengar pertanyaan dr mita. Seolah saya cukup cerdas. ”. Yaa..bagi saya si..kopi itu mampu memberi efek psikologis yang positif. Kopi adalah input alami yang menstimuli desir-desir untuk timbul dari ruang perasaan. Dg kata lain, kopi mampu menciptakan efek perasaan tertentu terkait dengan suasana kejiwaan peminumnya”. Saya meracau tanpa panduan. ”. Apakah bisa saya simpulkan bahwa kopi itu, bagi kamu paling tidak, mampu menjadi media untuk mencapai semacam ekstase. Begitu?”. lagi-lagi dia menunjukkan kecerdasannya. ”. Ungkapan yang tepat. Tidak semua manusia memiliki kapasitas emosi yang cukup kosntruktif untuk membangun efek psikologis yang relevan dengan suasana kejiwaannya. Maka perlulah kiranya ada media yang mampu membantu mencapai efek tersebut. Bagi saya, kopilah media itu”.  Saya coba mengimbangi kecerdasannya dengan pemakaian bahasa yang tidak biasanya saya pakai. ”. Wah, menarik sekali. Perspektif kamu dalam melihat kopi maksud saya. Oia, apakah bisa kiranya saya kaitkan kopi dengan stimuli inspirasi?”. saya menggaruk kepala mendengar pertanyaan dr mita. ”. Saya pikir si bisa, inspirasi itu bukan benda kiriman dari langit. Dia butuh ruang dan kondisi tertentu untuk tumbuh. Bagi kebanyakan orang, inspirasi lahir dari rahim ketenangan dan kestabilan kejiwaan. Mengingat kopi mampu memberi stimuli yang pisitif terhadap otak dan sistem saraf sekaligus menjadi media untuk mencapai ekstase, cukup logis kiranya jika kopi mampu memberi kontribusi dalam munculnya stimuli inspirasi”. Saya sendiri tak menyangka mampu memberi uraian yang terkesan tidak bodoh. Mungkin ini efek samping dari deraan hasrat yang besar untuk menarik simpati. Dr mita tersenyum manis mendengar uraian saya. Lalu, dia mengangguk-angguk pelan sebelum meminum kembali kopinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul paijo menyepak kaki saya. Dia menatap penuh arti. Saya pura-pura tak mengerti, sebab saya tau arti tatapan itu. Saya masih betah berbincang dengan dr mita. Saya baru saja hendak membuka mulut bertanya ketika dul paijo bedebah itu nyeletuk. ”. Eh bu dokter, terima kasih banyak ya atas kopi dan input wawasannya. Maaf, kami harus pamit dulu”. Kata dul paijo dg tergesa pada dokter mita. Dokter cantik itu menanggapi dengan tersenyum. ”. Kawan saya ini, kalo udah sore begini harus mengandangkan kebonya dari sawah dok. Maklum, dia adalah peternak yang baik dan penuh dedikasi pada profesinya.” saya menyampaikan pada dokter mita apa yang menjadi makna dari tatapan dul paijo pada saya tadi. ”. Yah, saya yakin semua profesi asal dilakukan dengan sepenuh hati dan dedikasi tidak hanya untuk diri sendiri akan mampu memberi kontribusi yang berarti. Buat dirinya dan masyarakatnya”. Ucapan dr mita ini membuat kepala dul paijo membesar. Lalu kami berdua pamit pada dr mita. Dalam perjalanan pulang saya katakan pada dul paijo dg sungguh-sungguh ”. Jo, kapan-kapan kalo sakit ke rumah aja ya, tar tak anterin ke dokter”. Dul paijo mejawab dengan menjitak kepala saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8620109532802518886?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8620109532802518886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8620109532802518886&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8620109532802518886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8620109532802518886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/03/ngopi-ya-ngobrol-sambil-minum-kopi.html' title='Ngopi (ya ngobrol sambil minum kopi)'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5658745160628880632</id><published>2009-03-09T18:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T18:44:18.462-07:00</updated><title type='text'>Ladrang Sekar Ngewuwung</title><content type='html'>Malam minggu yang memalukan. Betapa tidak? Lagi-lagi saya bermalam mingguan bareng dul paijo. Kembali saya dihadapkan pada kenyataan pahit. Usaha saya sepanjang pekan untuk tidak bermalam minggu bareng dul paijo kembali gagal. Saya semakin tengsin dengan kawan-kawan sebaya yang lain asyik dengan agenda wakuncarnya. Dari sore mereka sudah macak kenceng (dandan abis), wangi, dan selalu tampak sumringah. Begitu jamaah shalat magrib keluar, mereka langsung ngacir ke tempat tujuannya masing-masing. Mencari ruang untuk unjukkan bulu-bulu meraknya, tanda kejantanan nan gagah. Sementara saya, dari sore dul paijo sudah nongol dirumah saya. Cengar cengir sebentar dikamar saya lalu langsung ke belakang. Buat kopi untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang gimin, penasehat spiritual saya, pernah menyatakan penyebab sampai sejauh ini saya masih seperti denmas petruk yang belum ketemu limbuk, Ibarat kumbang tanpa kembang. ”. Coba ingat-ingat, kerjaanmu kalo sore sama dul paijo diperempatan”. Ujar kang gimin sembari menyulut rokok kelobotnya. ”. Cuman nyantai aja kok kang”. Jawab saya. ”. Masak?” kang gimin tidak percaya. ”. Ya paling-paling nggodain si sekar yang baru pulang kerja itu”. Aku saya. ”. Gimana godainnya?”. kang gimin bertanya tapi tanpa ekspresi penasaran. ”. ”Hehehe... ya si sekar itu kan gadis solo..klemak klemek (lemah gemulai) kalo jalan..ya saya geli aja ngeliatnya, jadi saya bilangin aja..oalah sekar..jalan kok kayak keong puasa gitu..ngidhek tembe’le’k be’ goran pendhe’ng (nginjek tai ayam aja tidak penyet)..lalu saya ketawa kenceng-kenceng sama dul paijo”. Kang gimin menghembuskan asap yang panjang dari mulutnya. ”. Ya itu gara-garanya..”. katanya tiba-tiba. Gara-gara itu. Apakah kang gimin hendak mengatakan bahwa saya kena karma alias kualat? Gak punya cewek gara-gara suka mengolok-olok cewek? Ah, tidak mungkin. Saya tidak percaya karma. Bagi saya, karma itu hanyalah suatu penjelasan. Bukan hukum kepastian. Lagipula saya tidak sungguh-sungguh mengolok. Saya Cuma cari perhatian, dengan cara yang disarankan dul paijo. Kang gimin melanjutkan wejangannya ”. Jadi lelaki harus tanggap ing sasmita (bijak membaca pertanda) terhadap segalanya. Termasuk terhadap perempuan. Wanita itu seniman yang alamiah. Mereka punya kepekaan untuk menangkap keindahan selirih apapun dalam irama hidup yang hiruk pikuk, dan mereka selalu menjaga naluri untuk mengungkapkan keindahan itu dengan caranya sendiri. Kalau mereka suka pada sesuatu, mereka tidak akan blak-blakan mengekspresikannya untuk  kelak memperolehnya.”. sebuah pandangan yang menarik saya fikir.  ”. Kamu harusnya cermat, si sekar itu memang gadis solo.lemah lembut dari sononya.tapi itu menyangkut watak saja,tidak termasuk perkara gayanya berjalan. Coba kau ingat, dia berjalan tak kalah gesit dengan kaki gajahmu itu. Jalannya yang lambat itu suatu ekspresi kewanitannya, yaitu ingin mendapat perhatian dan pujian dari pujaan hatinya”. Ucapan kang gimin ini membuat saya melongo. ”.wanita itu perlambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan dan keindahan. Dia bukan sekedar pelengkap atau perhiasan. Sebab, darinyalah kehidupan berputar dan berasal. Maka hormatilah wanita dengan nurani dan muliakanlah dengan akal sehat”. Lalu kang gimin menepuk-nepuk pundak saya dengan tatapan seolah-olah dia adalah empu loh gawe dan saya adalah arya kamandanu. Saya membalasnya dengan tatapan seolah-olah saya adalah wiro sableng dan dia adalah sukat tandika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala saya teringat petuah kang gimin itu, saya jadi dongkol pada dul paijo yang kini nangkring diatas jok sepeda ontel saya. Sebab, dialah yang selalu memprovokasi saya untuk mengolok-olok sekar dan juga gadis-gadis lain. Dul paijo tidak menanggapi pandangan sebal saya. Justru dia berseru”. Ayo naik, tak bonceng..kita nonton klonengan (latihan gamelan) lagi..” dikampung kami, bagi generasi tua malam minggu adalah malam latihan gamelan. Bujangan yang nonton Cuma saya dan dul paijo. Sebab Cuma kami berdua yang tidak punya agenda wakuncar. Setidaknya, ini bisa saya jadikan apoloji. Pernah saya berkata pada Manyol,sebaya saya, mengenai hal ini.”.mending nonton klonengan nyol kalo malem minggu, itu wujud apresiasi kita terhadap upaya pelestarian warisan budaya”. Tapi manyol malah ngakak. Akhirnya, usai Isya saya bermalam mingguan bareng dul paijo. Nonton klonengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai desa, tempat klonengan diadakan, sudah ramai dengan para bapak. Cuma ada seorang wanita, yaitu mbok nah. Satu-satunya pesinden dikampung dan terancam sebagai pesinden terakhir dalam sejarah kampung. Klonengan sudah dimulai ketika dul paijo dan saya tiba. Suara mbok nah yang lembut melengking menembangkan tembang Ladrang Sekar Ngewuwung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: ”. Sedaya mung sekar limarah&lt;br /&gt;     Datan bangkit ananduki&lt;br /&gt;     Prana ageng ndaweg wiyaga&lt;br /&gt;     Gampang layu inggal aking”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair lagu itu dinyanyikan dengan artikulasi yang sangat baik oleh mbok nah. Ngelangutkan perasaan saya. Kenapa mbok nah menyanyikan lagu yang menyebut-nyebut sekar? Apakah dia tahu bahwa saya mulai wuyung (naksir) dengan sekar? Atau, ini hanya perasaan saya saja yang terpengaruh ucapan kang gimin? Jangan-jangan ini semacam sindrom malam minggu saja? Duuhh..jadi mumet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”.jo, kok mbok nah nyebut-nyebut sekar si?”.pertanyaan yang sesungguhnya cukup bodoh. ”. Lha emboh, kayaknya sekar gak punya utang sama mbok nah”. Sebuah jawaban yang tidak cukup pintar dari dul paijo. Kami serempak tertawa. Saya kembali menyimak tembang mbok nah. Meresapinya lalu coba menguraikannya dengan makna-makna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temabang ladrang sekar ngewuwung bertutur tentang pencarian bunga sejati yang sangat semerbak aroma wanginya. Pencarian yang sesungguhnya tidak berangkat dari indera penciuman saja. Melainkan dari sebuah tanya : adakah yang sejati dari segala pesona didunia ini? Tembang itu selanjutnya bertutur tentang sebuah pencarian yang berujung kesia-siaan. Bermuara pada air mata dihati. Sungguh tak pernah bisa diperoleh bunga sejati itu, karena dibalik pesona yang nyata ia pun akan menjadi setumpuk bunga kering pula pada akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sebenarnya hakikat hidup ini hanyalah pencarian? Mencari cinta, mencari harta, mencari cita, mencari jaya, mencari abadi dan pencarian-pencarian lainnya? Hidup adalah perjalanan sepanjang usia yang dihiasi dengan berbagai pengalaman berharga. Akhirnya kita terpaksa menentukan nilai dibalik segala perjalanan itu, bukan mencari nilai dari tercapainya pencarian-pencarian yang mengawali perjalanan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klonengan bubar menjelang tengah malam. Saya dibonceng oleh dul paijo. Dia mengayuh sepeda dengan santai menyusuri jalanan kampung yang lengang. Dul paijo bersenandung lirih. Tumben gaul lagunya. Lagu Letto, lubang di hati judulnya. ”. Apakah itu cinta apakah itu cita..yang kan melengkapi lubang didalam hati....”. suara cempreng dul paijo hilang ditelan jalanan lengang, namun bergema didalam hati saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5658745160628880632?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5658745160628880632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5658745160628880632&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5658745160628880632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5658745160628880632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/03/ladrang-sekar-ngewuwung.html' title='Ladrang Sekar Ngewuwung'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1476241243475614626</id><published>2009-03-05T22:36:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T22:37:00.354-08:00</updated><title type='text'>The candidate (bukan acara tipi lho)</title><content type='html'>Kurang ajar betul dul paijo itu! Ajakan saya yang jelas-jelas bermanfaat dan intelek jusru dicibirnya. Saya ajak dia menonton the candidate, acara yg menampilkan para tokoh calon pemimpin bangsa. Ini acara yg penting mengingat pemilu sudah didepan mata. Rakyat sebagai pemilih perlu referensi. The candidate bisa memenuhinya. Jangan sampai pemilu bagi rakyat tak lebih ibarat memilih kucing dalam karung. Bahaya! Masa depan bangsa dipertaruhkan disini. Logika sederhana ini rupanya tak berarti bagi dul paijo. Dia malah mencibir, terus berkata : ”. Mbel gedhes! Mending nonton tawa sutra ”. Ujarnya, lalu mencibiri saya dengan bibir dower tragisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelas-jelas dongkol. Ingin sekali saya tarik bibir dowernya dul paijo lalu saya iket. Biar manyun dengan sengsara dia. Tapi saya tersadar akan satu hal. Lewat tokoh jean marais dalam bumi manusia Pram mengingatkan bahwa seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam fikiran. Maka saya urungkan rencana kejam saya pada dul paijo. Saya fikir, jelek-jelek gini saya pernah kuliah. Jadi, tidak dosalah jika saya mengaku agak terpelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan saya ingatkan dul paijo, karib saya sekampung itu ”.jo, kita ni mau pemilu lho, mau milih pemimpin baru”. Ujar saya memulai percakapan. Dul paijo melirik saja. Maka saya lanjutkan.” kita harus benar-benar tahu siapa yang kita pilih. Kita harus jadi pemilih yang berotoritas. Na, nonton the candidate bisa memberi kita banyak informasi tentang kompetensi para tokoh yg akan maju jadi capres jo”. Dul paijo tertarik rupanya. Dia mendekat. Saya tersenyum, menyiapkan kalimat cerdas berikutnya. Ternyata dul paijo mengagetkan saya dengan ucapan berikut:“. Entut! Bodo amat, saya sudah punya calon”. saya kembali dongkol. Saya tahan saja lalu bertanya. “.sapa jo?”. Dul paijo berdiri. Sikapnya seperti anak paskibra ketemu tiang bendera. “. Komeng dan Budi Anduk sebagai capres dan cawapes!”. Pilihan dul paijo benar-benar mengguncang logika intelektual saya. &lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;Saya masuk ke rumah,membuat kopi untuk dul paijo. Saya harap kopi bisa menyembuhkan otaknya yang gendheng. Dul paijo menyeruput kopinya dengan nikmat. Dengan gaya yg elegan dia memulai argumentasinya. ”. Ada kualifikasi yang khas dari komeng dan budi anduk yang meyakinkan saya bahwa merekalah the chosen one”. Saya mencoba bersabar sembari menyeruput kopi saya sendiri. ”. Komeng itu, sangat arisokrat. Jangan kaitkan kata arsitokrat dengan feodalisme. Aristokrat disini dalam hal martabat. Itu komeng punya”. Kesurupan setan darimana dul paijo ini, rutuk saya dalam hati. ”. Lihatlah komeng saat berhadapan dengan komedian lainnya. Meski dia invalid, komeng tak pernah kehabisan akal untuk membela diri. Maka dari itu dia tak pernah dalam posisi inferior, alias jadi bahan ejekan. Komeng tahu bahwa dia memiliki kualitas, meski bukan dalam fisiknya. Dia itu PD dalam berdialog. Pandai bersiasat ketika menghadapi celaan dan resisten ketika dia dicela rame-rame”. Dul paijo mengakhiri ucapannya dengan sebuah tatapan jauh ke depan. Saya geli melihatnya, oalah jo, muka gareng aja sok bergaya kresna, gumam saya dalam hati. Dul paijo menyeruput kopinya lagi.”. saya fikir, kualifikasi komeng yg telah saya sebutkan tadi, menunjukkan satu ha. Bahwa komeng cukup relevan dan kontekstual untuk dipilih sebagai presiden kali ini.”. tawa saya hampir meledak mendengar ucapan dul paijo ini. Dia cuek saja, lalu melanjutkan. ”. Liat aja posisi kita diarena internasional, sungguh tidak membanggakan. Kayak kambing gemuk dikepung serigala. ”. Baru kali ini saya membenarkan dul paijo. ”. Coba liat evo morales atau hugo chavez. Negara mereka memang invalid dengan kekayaan alam atau potensi ekonominya. Tapi mereka PD dan berani di arena internasional. Gak mau diatur-atur sama negara kurawa macam amerika itu. Mereka pandai bersiasat menghadapi gempuran wacana barat yang memojokkan mereka. Hasilnya, sajauh ini mereka mulai disegani. Bolivia dan venezuela tidak menjadi senampan kue yang begitu enak dibagi-bagi untuk negara barat”. Saya masih segan mengakui kebenaran argumen dul paijo. sebab dia memakai analogi yang rada sinting. Masak komeng?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya saya menanggapi argumen dul paijo. ”. Gendheng koe jo, tapi asik juga si argumenmu. Nha kalo budi anduk jo?”. tanya saya pada dul paijo. Masih dengan gayanya yang sok berwibawa, dul paijo menyeruput kopinya lalu mulai berkicau. ”. Budi anduk itu figur yang pas untuk wapres kita. Orangnya akomodatif terhadap semua pihak yang tergabung dalam satu setting permainan dengannya. Dia bukan oportunis yang tak berprinsip selain keuntungan pribadi. Dia lebih kepada berkompeten untuk menciptakan muara bagi banyak karakter yang variatif. Kompetensi budi anduk ini menjadi begitu penting mengingat banyak sekali kelompok dinegeri ini yang menonjolkan postur saja dalam berpolemik dan berdinamika. Cobalah cermati, carilah partai-partai yang benar-benar punya visi dan ideologi sebagai landasan berpolitiknya. Paling-paling kamu lebih memilih untuk mencari kunang-kunag ditengah kota”. Ocehan dul paijo perlahan mengair memasuki alam logika saya. Kopi dul paijo sudah hampir tandas. Dia kembali berkicau ”. Budi anduk juga tipikal orang yang tidak mengutamakan egonya diatas segalanya. Dia rela memainkan sebuah peran yang mungkin tidak populis  demi sebuah kontribusi yang signifikan untuk kelanjutan suatu cerita bersama. Liat aja, dia hampir selalu berposisi inferior karena postur dan penampilan alamiahnya. Tapi cobalah hilangkan budi anduk dari scene itu. Pasti janggal, dan cerita yang dipentaskan terancam gagal.”. argumen dul paijo mulai menari-nari dalam alam logika saya sebagai suatu sosok yang utuh. Dul paijo menghabiskan sisa kopinya. ”. Karakter seperti budi anduk ini penting untuk posisi wapres. Karena pada hakikatnya presiden dan wakil presiden itu adalah sebuah dwi tunggal. satu jiwa kepemimpinan dalam dua wadag manusia. Mereka berbagi peran bukan berebut pengaruh. Mereka saling mendukung dan mengisi, bukan berebut klaim.  Mereka hendaknya sadar bahwa mereka dipersatukan bukan karena kehormatan dan pujian. Tapi karena kewajiban nasional yang diruangkan dalam jabatan presiden dan wakil presiden. Nah, karakter seperti budi anduk inilah yang kiranya bisa menjaga ke-dwi tunggal-an presiden dan wakil presiden. Sebab, bagaimanapun memang presiden lebih memungkinkan untuk mendapat ruang publikasi yang lebih luas. Dan, wapres meski besar peranannya, kadangkala sepi dari hiruk pikuk pujian dan sorotan perhatian. Harusnya itu tak akan menjadi soal jika mereka mengingat kewajiban mulia mereka : memanusiakan rakyat dan mengangkat derajatnya sebagai manusia berbangsa dan bernegara”. Dul paijo mengakhiri argumennya dengan sebuah tatapan dalam ke wajah saya. Saya tak dapat menyembunyikan ekspresi kagum saya. Kopi dul paijo telah habis. Demikian pula segala cela saya pada karib saya yang eksentrik ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1476241243475614626?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1476241243475614626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1476241243475614626&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1476241243475614626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1476241243475614626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/03/candidate-bukan-acara-tipi-lho.html' title='The candidate (bukan acara tipi lho)'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-3350436931227020642</id><published>2009-02-15T01:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T01:01:55.054-08:00</updated><title type='text'>Fenomena Ge eR dikampung</title><content type='html'>Cobalah lihat peta termutakhir dan terdetail yang ada saat ini. Cari dimana letak kampong saya. Pastilah nihil. Kampung saya itu terlalu kecil dan tidak puenting untuk diketahui. Sama sekali tidak memiliki nilai strategis dalam bidang ekonomi maupun demografi. Jadi, tidak perlu dicantumkan namanya dalam peta. Nyumpek-numpekin aja. Tidak bakalan ada yang protes kalau kampung saya itu Cuma ditampilkan dalam satu titik kecil saja dalam peta provinsi Lampung. Itu sudah sewajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung saya yang luasnya Cuma beberapa km persegi itu merupakan wilayah konsentrasi orang-orang katro’. Orang-orang gak penting yang sok penting. Mereka selalu menganggap sebagai orang-orang yang menjadi bagian dari sebuah negeri yang sangat luas, Indonesia. Ya kalo ngaku-ngkau sebagai kawulo saja, okelah. Gak apa-apa. Masalahnya, mereka menganggap diri katro’ mereka sebagai satu elemen dan instrument dalam pembangunan negeri ini. Lah lah, edan po.tidak tau diri betul! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi tuna referensi ini selalu mereka bangga-banggakan. Mereka juga menjadikannya sebagai suatu alasan yang kaku untuk setiap tingkah polah mereka yang pethakilan dengan satu pretensi : mengikuti perkembangan zaman. Gendheng mereka itu! Lha wong zaman edan kok diikutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah polah mereka itu merupakan suatu refleksi dari suatu tema zaman yang sangat populis dan menggairahkan. Yaitu : reformasi dan demokrasi. Ini kata mereka lho. Orang-orang katro’ yang selalu kapiran dengan urusan dapurnya itu. Kayak mereka ngerti aja. Sotoy ! sekolah aja taunya Cuma ngapal ini ngapal itu. Eh, sok ngomongin permasalahan kontekstual yang membutuhkan daya nalar dan tingkat wawasan yang tinggi. Gak pas. Kedua tema itu terlalu intelek untuk orang-orang yang sebagian besar porsi otaknya didaya gunakan untuk, ya itu tadi, urusan perut dan kantong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi masan  Pemilu seperti sekarang ini. Whoalah.. lagaknya, gak ketulungan. Ada saja kelakuan mereka itu. Kebetulan ada yang nyalon caleg. Pak A, orang kaya. Luas tanahnya banyak tokonya. Haduh, implikasi pencalonannya ini gak main-main. Estetika visual kampung saya yang tadinya lumayan bagus, jadi rusak. Gimana enggak, foto-foto dan poster-poster pak A yang wajahnya, minta ampun, tipikal wajah yang tidak bisa dikompromikan dengan kepentingan lensa kamera, itu ada dimana-mana. Di pohon-pohon pinggir jalan, di gapura-gapura depan rumah dan diwarung-warung. Itu belum apa-apa. Gara-gara pak A nyaleg, tiap hari dalam frekuensi yang rapat, nongol iklan pak A di radio dangdut kesayangan warga sekecamatan. Bunyinya gini, antara lain lho: saya pak A, saya telah bekerja keras memakmurkan  desa, membantu tetangga, menyumbang pembangunan mesjid, nyangoni anak-anak sekolah. Saya lakukan itu dengan ikhlas. Maka pilihlah saya dalam pemilu yang akan dating. Conteng nama saya : pak A. caleg no.1 partai kebo ijo”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah halah pak A.. mbok yao eling. Ini politik. Politik itu suatu dinamika yang melibatkan intelektualitas dan moralitas dalam etos kerja keras yang jujur dengan kemajuan bangsa sebagai orientasi tunggalnya. Sampeyan itu dagang aja. Macul, ngurus kebun. Prek! Beres perkara. Lha kok malah nyaleg. Emang politik itu dagang apa?! Kalo orang-orang kayak sampeyan yang jadi wakil rakyat, walah pasti nanti semua kebijakan bersifat transaksional. Bahaya! Semua kebijakan bakalan tidak berpihak kepada rakyat. Melainkan kepada para investor politik dan golongan tertentu saja. Dan, lagi-lagi rakyat yang dikorbankan. Rakyat yang menanggung dampak negatifnya. Cuma rakyat. Eling to pak A. nyadar. Lha wong anak-anak SMU aja setengah mati mau lulus. Harus memenuhi standar UN yang tinggi. Lha kok sampeyan mau nyaleg asal-asalan aja. Gak pake tes-tesan. Yang penting modal. Huh! Kualifikasi intelektualnya mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru pak A. na ini ada lagi. Begundal-begundalnya pak A yang gak kalah pethakilannya. Coba liat, orang-orang gak jelas juntrungannya itu mengkalim diri mereka dengan demikian bermartabatnya. Tim Sukses! Hoalah.. kaboten jeneng. TS itu memegang peranan penting dalam sosialisasi visi dan misi serta peningkatan tingkat popularitas caleg dengan memberikan pemahaman kepada calon pemilih tantang kapasitas kompetensi politik sang calon. Lha ini, jauuuuuhhhh.  Mereka itu kerjaanya gak beda jauh kayak itu tu Insert, Cek &amp; Ricek, Kiss, Espresso. Itu lho, acara-acara gossip selebriti di tipi yang, maap ngomong ni, kayak jualan tai kucing dibungkus kertas warna-warni yang bagus. Para TS semblethengan ya kayak gitulah kerjaannya. Pah puh pah puh kemana-mana. Ngomongin yang wah-wah tentang kebaikan dan kehebatan pak A. padahal, ngablun itu. Bo’ong doang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, bahaya! Orang-orang dikampung saya semuanya lugu. Mereka yang gak ikut-ikutan politik-politikan. Mereka itu manusia yang luar biasa. Istiqomah dan selalu berhusnudzon dengan tetangga-tetangganya, dengan aparat-aparat, dengan pejabat-pejabat dan hebatnya, juga dengan para politisi. Orang-orang lugu ini adalah rakyat jelata. Seperti mayoritas negeri ini. Mereka yang selalu lugu karena secara sistematis dipinggirkan dari akses-akses untuk belajar dari sejarah. Didiskriminasikan secara cultural dari sebuah dialektika kehidupan yang egaliter. Dan, selalu diperkuda dalam tatanan perekonomian bangsa. Padahal merekalah yang paling banyak nyumbang buat bangsanya. Lewat keringat mereka. Biar kere taat pajak. Demikian tutur mereka dengan bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebenarnya pak A dan para begundalnya itu juga gak kalah lugu dengan rakyat jelata yang apolitis itu. Mereka itu sebenarnya Cuma GR aja. Iya, GR thok! Lha gimana enggak, mereka itu ngerasa bahwa, itu tadi, elemen dan instrument pembangunan bangsa ini. Maka dari itu mereka harus berpartisipasi aktif dalam hangar-bingar reformasi dan demokrasi. Masa depan bangsa ditentukan disini. Bah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa GR ini membuat mereka kembang-kempis membayangkan diri mereka sebagai actor-aktor politik. Politisi gitu lho. Maka dari itu, dikarenakan tiadanya referensi dan pendidikan politik yang teraplikasikan secara nyata dalam kultur politk yang dewasa dan sehat, mereka menimbang dan memutuskan. Ya ikut-ikutan aja dengan para politisi yang mereka liat di tipi. Politisi kelas atas. Huebat gak ketulungan. Rapatnya digedung-gedung yang megah dengan fasilitas nomor wahid. Kendaraannya harganya 500an juta. Jasnya, walah bisa buat beli baju lebaran si paijo nyampe 20 kali lebaran. Yang kerjanya rapat-rapat. Maen kucing-kucingan sama KPK. Saling memprovokasi dan mengolok-olok dengan competitor. Ini permainan tingkat tinggi yang kadang-kadang sampai ngenes ngliatnya. Jadi emang Benar-benar katro’ pak A dan begundalnya itu. Masak yang kayak gitu dicontoh. Maluuuuuu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sebagai satu titik kecil juga diantara rakyat jelata, saya Cuma bisa berharap. Berdo’a dan bersabar. Kepada tuan-tuan yang mengaku politisi, yang mengaku pembela rakyat, yang mengaku memecahkan rekor penurunan BBM, yang mengaku membuat surplus hasil pertanian, yang mengaku memperbesar anggaran pendidikan hingga 20%, yang mengaku telah berbuat banyak untuk rakyat, yang mengaku bersih dan tidak pernah nyerempet-nyerempet kemaksiatan, yang mengaku sebagai titisan founding father bangsa ini, yang mengaku akan membangkitkan kembali kejayaan bangsa, yang mengaku akan berjuang dengan hati nurani, pokoknya yang semua yang membawa embel-embel yang menggiurkan rakyak dalam kampanye dan manuvernya. Saya harapkan dengan sangat. Tolong, jangan neko-neko lagi. Gak usah aneh-aneh. Sebab orang-orang kampung saya yang katro’ itu selalu berkiblat kepada tuan-tuan. Berilah contoh yang baik. Jika sempat, berkacalah. Cermatilah. Ada dua telinga dikepala kita dan satu mulut saja diwajah kita. Maknailah itu dengan hati yang bersih dan jujur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-3350436931227020642?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/3350436931227020642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=3350436931227020642&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/3350436931227020642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/3350436931227020642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/02/fenomena-ge-er-dikampung.html' title='Fenomena Ge eR dikampung'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1841270468088816097</id><published>2009-01-19T01:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T01:17:36.899-08:00</updated><title type='text'>Save Al-Quds</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXRFIXgJykI/AAAAAAAAAGU/czl7aJ3tL-Y/s1600-h/SGE.PMU12.300807201902.photo00.photo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 201px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXRFIXgJykI/AAAAAAAAAGU/czl7aJ3tL-Y/s320/SGE.PMU12.300807201902.photo00.photo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292931472117320258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah maket menarik yang menjadi penghias kantor Knesset (parelemen Israel). Maket itu adalah maket dari sebuah wilayah yang megah dan indah. Namanya maket kota New Jerussalem. Kelak, Isrel memimpikan New Jerussalem menjadi pusat sekaligus lembang kejayaan negeri yang telah lama mereka cita-citakan, yakni Eretz Yisrel ( Israel Raya). Dalam maket yang dirancang oleh Prof. Avi Jonah pada tahun 1960 ini, Eretz Yisrael akan membentang dari kawasan sungai Nil (Mesir) hingga sungai eufrat (Iraq). Wilayah luas yang akan meniadakan beberapa Negara Arab ini akan memiliki sebuah titik pusat, yakni Haikal Sulaiman ketiga. Lokasi Haikal Sulaiman ini kelak akan dibangun tepat diatas lokasi Al-Quds ( yang tersucikan) dimana terletak dua bangunan suci dan bersejarah bagi umat Islam yakni Masjidil Aqsha dan Dome of The Rock (kubah karang). Dan itu artinya satu hal : Al_Quds akan diruntuhkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quds bagi umat Islam memiliki esensi histories yang tinggi. Merupakan bagian dari sejarah turunnya perintah shalat bagi umat Islam. Terkait dengan peristiwa Isra’ Mir’raj Rasulullah Muhammad SAW pada malam 27 Rajab tahun ketiga belas nubuwah. Di lokasi Al-Quds kini, pada malam Isra’ Mi’raj itu Rasulullah singgah dan melakukan salat sebelum menerima perintah shalat di Sidratul Muntaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Rasulullah ditempat itu belum ada masjid megah seperti sekarang ini. Hanya sebuah tanah terbuka yang ada. Namun meski demikian, tempat itu tidak bisa disamakan artinya dengan tempat lain. Pada tempat yang sama, nabi Zakaria pernah bermunajat kepada Allah SWT untuk meminta keturunan meski sudah uzur ( do’a Zakaria dikabulkan dengan lahirnya Yahya yang juga menjadi nabi utusan Allah). Ditempat itu pula, ibunda nabi Isa Al-Masih, Siti Maryam, beriktikaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa khalifah Marwan dari dinasti umayyah yang memerintah antara tahun 684H-685H mulailah dibangun sebuah masjid sederhana ditempat bersejarah tersebut. Pembangunan tersebut dilanjutkan oleh putranya, khalifah Abdul Malik, yang memerintah antara tahun 685-705H. khalifah Abdul malik pula yang membangun kubah karang dengan atap kubah dari emas. Tujuannya agar selain indah, kbuah tersebut berfungsi sebagai penutup gundukan batu karang tempat Rasulullah SAW berdiri sebelum naik ke Sidratul muntaha, dari perbuatan-perbuatan yang bisa merusak akidah tauhid. Kubah karang atau disebut juga Kubbatush Shakra pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka’bah di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahlaifah berikutnya, yakni Al Walid, terus memperindahnya hingga tampak sebagaimana sekarang. Masjidil Aqsha disebelah selatan dan kubah karang disebelah utara. Kedua bangunan ini terletak diatas tanah seluas 50 hektar. Dikelilingi benteng kokoh ynag disebut tembok dalam, untuk membedakan dengan tembok luar yang mengelilingi kota tua. Kompleks seluas 50 hektar ini dinamakan Haramusy Syarif ( Tanah haram yang mulia). Atau juga lazim disebut dengan Al-Quds. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quds yang bersejarah bagi umat Islam akan diruntuhkan oleh Israel demi sebuah catatan baru sejarah yang gemilang bagi mereka. Menutup sejarah kelam bagi Israel di masa lampau. Yaitu runtuhnya symbol keagungan mereka : haikal Sulaiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat telah dua kali Haikal Sulaiman diruntuhkan seiring takluknya bani Israil oleh musuhnya. Keruntuhan pertama terjadi akibat seranagn raja Nebukadnezar dari babilonia pada tahun 568 SM. Kehancuran kedua terjadi akibat serangan raja titus dari romawi pada tahun 70 M. pada kehancuran oleh Titus inilah salah satu harga paling berharga bani Israil hilang, harta itu adalah Ark of Covenant ( Tabut perjanjian atau tabut Shekinah). Bani Israil meyakini bahwa dalam tabut itu terdapat batu-btaui prasasti dimana Musa As menulis 10 perintah Tuhan yang didapatnya di atas bukit Tursina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bani Israil dan kini Israel, meyakini bahwa Titus telah menyembunyikan Tabut disebuah lokasi dibawah pondasi Masjidil Aqsha. Oleh karena itu bangsa yahudi ini telah lama mulai menggali terowongan dibawah pondasi Masjidil Aqsha. Penggalian pertama dirintis oleh salah satu konspirasi yahudi tertua, Ksatria templar. Penggalian ini dilakukan pada tahun 1118 M  saat Ksatria Templar berkuasa di Jerussalem pasca perang salib I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalian tersebut terus berlangsung hingga kini dengan proses-proses jeda yang terkait dengan kondisi di Jerusalem. Pada tahun 2000, pemerintah Israel telah memasukkan tour ke terowongan dibawah masjidil Aqsha sebagai agenda pariwisata di kota Jerussalem. Diterowongan itu terdaoat sinagog, perpustakaan dan museum. Luas terowongan mencapai lebih dari luas lapangan sepakbola. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut logika nalar ilmu pengetahuan, seharusnya masjidil Aqsha telah runtuh dengan adanya terowongan tersebut. Ada suatu sebab yang masih misterius membuat Masjidil Aqsha tetap berdiri. Tapi yang pasti tetap berdirinya Masijidil Aqsha bukan untuk menunggu umat Islam tersadar dengn keruntuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak siasat Israel untuk menutupi kerja mereka meruntuhkan Al-Quds, salah satunya juga dengan melakukan maneuver milietr yang menyita perhatian dunia. Sehingga, masjidil Aqsha terlupakan. Hendaknya umat Islam tidak pernah melupakan Al-Quds. Jangan biarkan Masjidil Aqsha menyusul jejak Masjid Babri di India!.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1841270468088816097?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1841270468088816097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1841270468088816097&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1841270468088816097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1841270468088816097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/01/save-al-quds.html' title='Save Al-Quds'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXRFIXgJykI/AAAAAAAAAGU/czl7aJ3tL-Y/s72-c/SGE.PMU12.300807201902.photo00.photo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2590509628055301481</id><published>2009-01-19T01:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T01:14:58.656-08:00</updated><title type='text'>WAR CRIMINAL AWARD, Vote for Olmert!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXREaF1X8gI/AAAAAAAAAGM/c_cNRFK6aRA/s1600-h/ehud_olmert_wideweb__470x334,0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXREaF1X8gI/AAAAAAAAAGM/c_cNRFK6aRA/s320/ehud_olmert_wideweb__470x334,0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292930677100507650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXREaB0Z5KI/AAAAAAAAAGE/h2jDGvVJDf0/s1600-h/070430_olmert.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXREaB0Z5KI/AAAAAAAAAGE/h2jDGvVJDf0/s320/070430_olmert.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292930676022699170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehud Olmert, perdana menteri Israel yang  tengah menjadui sorotan dunia. Siapa yang kini tak kenal dia? Semua mengenalnya. Dua peperangan sensasional telah dan tengah terjadi atasa instruksinya. Bukan peperangan kecil yang tdiak penting. Sebaliknya, keduanya adalah peperangan besar yang mencengangkan. Kedua perang tersebut adalah perang Israel vs Hezbollah di Lebanon Selatan pada tahun 2006 dan perang Israel vs HAMAS dijalur Gaza yang dimulai sejak 27 Desember 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olmert memang bukan pemimpin sembarangan. Mungkin bisa disamakan dengan Otto Van Bismarck, jendral Prussia yang terkenal dengan semboyan : “dengan besi dan darah”. Atau mungkin akan lebih tepat jika menyandingkan Olmert dengan leluhurnya, Yusuf Dzu Nuwas. Seorang pemimpin Yahudi pada masanya. Dzu Nuwas terkenal karena memerangi orang-orang Masehi                  ( pengikut Isa Al Masih) dari penduduk Najran di Yaman karena menolak kepentingannya. Dzu Nuwas dan tentaranya yang hebat mencatat kegemilangan dengan menghabisi banyak sekali musuhnya. Tak kurang dari 40.000 orang lawannya terbunuh. Hebatnya, semuanya adalah penduduk sipil. Dan, proses eksekusinya pun sensasional. Sebuah parit besar digali, orang-orang Masehi tersebut dimasukkan ke dalam parit lalu dibakar hidup-hidup.  Luar biasa! Peristiwa ini terjadi pada bulan Oktober th 523 Masehi. Al-Qur’an telah memuat sebagian peristiwa ini dalam surat Al-Buruj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang pertama yang terjadi atas instruksi Olemert adalah Israel vs Hezbollah. Perang ini terjadi selama 34 hari antara Juli-Agustus 2006 di Lebanon selatan. Perang ini melibatkan semua unsure teknis militer Israel melawan pejuang-pejuang Hezbollah. Sebuah pertempuran yang sensasional. Menambah kegemilangan sejarah Israel, dan mengorbitkan nama Olmert tentunya. Betapa tidak, dalam perang ini tercatat lebih dari 1200 penduduk sipil Lebanon tewas oleh serangan tentara Israel. Tak Cuma itu, tentara Israel juga terbukti menggunakan bahan kimia terlarang, fosofor puith, senagai campuran untuk amunisinya. Fosfor putih adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan luka bakar yang sangat berbahaya bagi manusia. Meskipun pada akhirnya kedahsyatan rudal Katyusha dan kecerdikan pejuang Hezbollah dalam melakukan perang kota memaksa pasukan Israel mundur. Setidaknya, Olmert telah menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya dan Negara yang dipimpinnya tidak gentar dan tidak sudi tunduk dengan segala aturan internasional dan rumusan nilai-nilai kemanusiaan. &lt;br /&gt;Prestasi ini ditorehkan Olmert pada masa-masa sulit kekuasaannya. Pada Januari 2006, Hamas yang merupakan penghalang utama Israel untuk menguasai sisa tanah Palestina justru memenangkan pemilu legislative dinegara itu. Hamas menguasai perlemen Palestina sementara Olmert mengalami tekanan hebat dari parlemen Israel.  Belum usai Olemert meredakan tekanan atas kemenangan Hamas tersebut, muncul tuduhan korupsi dari rakyat Israel terhadap pemerintahan Olmert. Harus ada maneuver cerdas untuk keluar dari situasi ini. Dan, Olmert memang cerdas. Telunjuknya segera menunjuk Hezbollah untuk melemparkan tuduhan sebagai teroris dan pengancam stabilitas keamanan Israel. Gugus tempur Israel segera berarak ke kawasan Lebanon selatan. Sekutu Israek, Amerika Serikat, segera bereaksi membantu. Maklum, Hezbollah oleh AS dianggap sebagai miniature kekuatan militer Iran. Agresi Israel ke Lebanaon selatan adalah test case bagi AS untuk mengetahui kemungkinan sejauh mana kekuatan Iran. Untuk selanjutnya melakukan gempuran ke Iran yang tak juga mau tunduk kepada arogansi AS. Dan, tekanan terhadap Olmert didalam negeri dengan sendirinya reda dengan adanya agresi ke Lebanon Selatan. Sayang, scenario Olmert tidak berakhir sesuai harapan. Hezbollah ternyata bukan kekuatan lemah yang mudah dihancurkan. Medan laga di Lebanon selatan justru menunjukkan yang sebaliknya. Pasukan Israel terpaksa mundur. Tapi Olmert masih selamat berkat kecerdikannya. Pejabat-pejabat militer Israel yang dipersalahkan terhadap kekalahan atas Hezbollah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olmert kembali sukses mengalihkan opini public dari dirinya. Tuduhan bahaya nuklir Iran yang secara serampangan dilemparkan oleh AS pada tahun 2007  diolah Olmert dengan cerdas. Iran memang tak pernah akur dengan Israel. Bahkan, bersama Suriah Iran berada di garda terdepan Negara-negara yang mengancam eksistensi Israel di Timur Tengah. Isu bahaya nuklir Iran tentu sangat marketable diedarkan ditengah public Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olmert kembali goyah tak lama kemudian. Laporan Komite Winograd mengenai perang Lebanon pada Januari 2008 menimbulkan perpecahan dikalangan parlemen Israel. Situasi ini melemahkan posisi Olmert. Perpecahan tersebut semakin membesar karena kemudian Olmert menggelar perundungan dengan Palestina terkait dengan isu-isu krusial yang ditentang oleh kubu konservatif. Sampai pada akhirnya Olmert tampak menyerah. September 2008, Olmert menyatakan siap mengundurkan diri. Dugaan korupsi yang melanda pemerintahan semakin mengerucut kepada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi kritis kembali menghimpit Olmert. Namun, disaat yang sama Olmert kembali menunjukkan kegemilangannya sebagai seorang pemimpin bangsa Yahudi. Jalur Gaza adalah jalur penyelamatan kekuasaan Olmert. Telunjuk Olmert segera menuding Gaza sebagai sarang teroris Hamas yang mengganggu stabilitas keamanan wilayah Israel. Maka, begitu perjanjian gencatan senjata dengan Hamas usai, agresi terjadi. Skuadron F-16 Israel menghujani Gaza dengan bom pada tanggal 27 desember 2008. spekan kemudian gugus tempur infanteri Israel memasuki Gaza dibawah lindungan tembakan artileri dari kapal perang Israel yang stand by diperairan gaza serta sapuan rudal-rudal pesawat F-16 dan helicopter Apache dari udara Gaza. Rakyat sipil Gaza menjadi target empuk unutk menambah sensasi agresi Israel kali ini. Hingga hari ke 22 agresi Israel ke Gaza, setidaknya 1.203 penduduk sipil Gaza tewas. 410 diantaranya adalah anak-anak. Bahkan sekali lagi Olmert menunjukkan kegemilangannya sebagai pemimpin Israel. Sekali lagi dia tunjukkan bahwa Israel tidak takut dengan segala aturan internasional dan tidak tunduk dengan segala rumusan nilai-nilai kemanusiaan universal. Israel membom sebuah rumah sakit anak di Gaza pada tanggal 1 januari 2009. Pada tanggal 6 Januari 2009, tentara Israel mengumpulkan sekitar 100 orang penduduk kawasan Al Zaytun, Gaza, dalam satu rumah. Kemudian 12 jam kemudian rumah tersebut dihujani dengan tembakan artileri. 30 orang tewas seketika.  Pada tanggal 7 Januari 2009, Israel membom sebuah sekolah PBB di Gaza. 48 orang tewas karenanya. Selanjutnya pada tanggal 8 Januari Israel menyerang konvoi bantuan kemanusiaan PBB. Seorang sopir tewas karenanya. Human Right Watch pada tanggal 12 Januari 2009 melaporkan bahwa Israel kembali menggunakan bahan kimia terlarang dalam amunisinya. Yakni fosfor putih. Seperti yang dipergunakan pada perang melawan Hezbollah pada tahun 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza masih bersimbah darah. Namun tampaknya Olmert bisa bernafas lega. Kekuasannya sementara aman. Bahkan ratusan warga Israel di kota Ashkelon dan Sderot tampaknya bisa menikmati hasil kerja Olmert di Gaza. Dengan riang gembira ibarat piknik, mereka menonton pemboman yang dilakukan oleh tentara Israel di Gaza. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehud Olmert is the truly Zionist star and deserve for war criminal award. So, forget mr. Bush now, and vote for Ehud Olmert.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2590509628055301481?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2590509628055301481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2590509628055301481&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2590509628055301481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2590509628055301481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/01/war-criminal-award-vote-for-olmert.html' title='WAR CRIMINAL AWARD, Vote for Olmert!'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SXREaF1X8gI/AAAAAAAAAGM/c_cNRFK6aRA/s72-c/ehud_olmert_wideweb__470x334,0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-6981093018737006567</id><published>2009-01-11T23:57:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T00:02:38.744-08:00</updated><title type='text'>No Peace Without Justice</title><content type='html'>270 childrens are killed in Gaza untill January 11 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4nHLVzbI/AAAAAAAAAF8/NnMJpoc9nRU/s1600-h/G8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4nHLVzbI/AAAAAAAAAF8/NnMJpoc9nRU/s320/G8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290314063125269938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4nPVY1EI/AAAAAAAAAF0/o5ok0E8DRhU/s1600-h/G7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 309px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4nPVY1EI/AAAAAAAAAF0/o5ok0E8DRhU/s320/G7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290314065314894914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4m3GeVEI/AAAAAAAAAFs/kfK-eKS6iX0/s1600-h/G6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 263px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4m3GeVEI/AAAAAAAAAFs/kfK-eKS6iX0/s320/G6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290314058809889858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-6981093018737006567?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/6981093018737006567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=6981093018737006567&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6981093018737006567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6981093018737006567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/01/no-peace-without-justice.html' title='No Peace Without Justice'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr4nHLVzbI/AAAAAAAAAF8/NnMJpoc9nRU/s72-c/G8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-7698008136923591037</id><published>2009-01-11T23:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T23:56:18.188-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MZ49fUI/AAAAAAAAAFk/bYKh-TjIdw0/s1600-h/G5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MZ49fUI/AAAAAAAAAFk/bYKh-TjIdw0/s320/G5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290312504780356930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MUr9FNI/AAAAAAAAAFc/1fMGGG0vEwI/s1600-h/G4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MUr9FNI/AAAAAAAAAFc/1fMGGG0vEwI/s320/G4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290312503383626962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MP7nKDI/AAAAAAAAAFU/A3RAj7tGCTo/s1600-h/G3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MP7nKDI/AAAAAAAAAFU/A3RAj7tGCTo/s320/G3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290312502107121714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MBm-2hI/AAAAAAAAAFM/IFxU70LZHFo/s1600-h/G2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MBm-2hI/AAAAAAAAAFM/IFxU70LZHFo/s320/G2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290312498262497810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3L4EQJDI/AAAAAAAAAFE/w_SslQZCssc/s1600-h/G1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3L4EQJDI/AAAAAAAAAFE/w_SslQZCssc/s320/G1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290312495700911154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-7698008136923591037?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/7698008136923591037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=7698008136923591037&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/7698008136923591037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/7698008136923591037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2009/01/blog-post.html' title=''/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SWr3MZ49fUI/AAAAAAAAAFk/bYKh-TjIdw0/s72-c/G5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5522914943176588791</id><published>2008-12-29T20:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T20:07:32.309-08:00</updated><title type='text'>Resolusi 1430 H</title><content type='html'>Bangkit.&lt;br /&gt;Bersatu.&lt;br /&gt;Lawan !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5522914943176588791?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5522914943176588791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5522914943176588791&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5522914943176588791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5522914943176588791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/12/resolusi-1430-h.html' title='Resolusi 1430 H'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2319705016906849293</id><published>2008-11-15T18:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T18:42:34.536-08:00</updated><title type='text'>Good Day Carribean Nut</title><content type='html'>Lingsir wengi &lt;br /&gt;Sepi durung biso nendro&lt;br /&gt;Kagodho mring wewayah &lt;br /&gt;Kang ngreridhu ati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawitane &lt;br /&gt;Mung sembrono njur kulino&lt;br /&gt;Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya selalu mendambakan malam dimana ada dirinya untuk kemudian menikmati tembang Lingsir Wengi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali terjadi, apa yang sangat kita sukai hadir dalam diri tanpa kita sadari. Kita mungkin hanya memaknainya sebagai semacam selingan saja, atau semacam kebiasaan yang tak berpola dan tak bermuara pada satu makna. Namun, ketika kita telah melakukannya dalam suatu ritme yang mengiringi rutinitas harian kita, dia akan hadir dalam rupa yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pulalah macamnya dia hadir dalam hidup saya. Pada mulanya, tiada pernah saya menaruh perhatian padanya. Saya cenderung tidak memaknai kehadirannya. Hanya sebatas selingan atau teman dikala sendiri. Kala itu, dia tak pernah menjadi tempat dimana segala gelisah saya tercurah. Dia bukan pula arah kemana segala hasrat saya dapat bermuara. Dia hanyalah ada`sebagai pelengkap suasana. Tak saya berikan sejengkal ruang pun dalam hati saya untuk menguraikan kehadirannya dalam rupa-rupa rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitulah pada akhirnya, ketika dia telah hadir dalam hidup saya sebagai sebuah ritme, tak dapat saya pungkiri lagi adanya makna darinya. Sebuah makna yang jauh dari sekedar pelengkap saja. Ketika dia telah menjadi ritme, menjelma pulalah dia menjadi sebuah ritual. Meski tidak sakral, namun tak pula  profan. Tak ada nyanyi liturgis, tak ada munajat dalam sujud yang luruh. Hanya ada sebuah pencapaian ekstase. Pencapaian melalui sebuah proses yang sederhana. Dengan media yang seringkali seadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membawa saya kepada kenangan yang saya rindukan, tiap kali dia hadir menemani sewaktu senja tinggalkan ronanya. Aliran kehangatan yang diberikannya mengalurkan saya pada riak-riak perasaan yang sentimentil. Sewaktu lengangnya malam membekukan hasrat, dia datang sebagai percik inspirasi yang menyulut imajinasi. Tampilkan sketsa-sketsa penuh warna yang hidup dalam pikiran. Dan, disaat pagi hadirkan komposisi penuh pesona harmoni alami, dia hadir membuka jiwa akan rasukan makna. Segala keindahan pagi segera termaknai dengan hati dan pikiran yang lapang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sepenggal syair tembang Keno Godho tak urung saya tembangkan untuknya :&lt;br /&gt;Mulo aku tansah animbangi&lt;br /&gt;Tresnaku ginowo mati&lt;br /&gt;Ora ono lingtang kang sumunar&lt;br /&gt;Amung ndiko pepujanku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2319705016906849293?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2319705016906849293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2319705016906849293&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2319705016906849293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2319705016906849293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/11/good-day-carribean-nut.html' title='Good Day Carribean Nut'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2627578325882992795</id><published>2008-11-11T00:32:00.001-08:00</published><updated>2008-11-11T00:34:55.019-08:00</updated><title type='text'>Kapal-kapal Pemilu</title><content type='html'>“. Bu !”. bu Parti yang tengah menampi beras sedikit terperanjat mendengar panggilan suaminya. Di dapatinya sang suami telah berada di muka pintu dapur. Menatapnya. . Tanpa mendekati istrinya, pak Parto bertanya .“. Itu si Jiman kenapa tampak selalu murung belakangan ini?. Bu Parti meletakkan tampah beras yang ada ditangannya. Ditatapnya lekat-lekat lelaki berkulit legam yang merupakan ayah dari kedua anaknya. Sehari-harinya lelaki itu bekerja mengolah ladang mereka. Satu-satunya sumber nafkah yang mereka punya dan mereka tahu. Sementara ia sendiri, seperti kebanyakan kaum ibu dikampungnya, menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan mengurus rumah, memasak dan sesekali membantu diladang. Lirih lalu ia berkata“. Aku juga tidak tahu lho pak”. pak Parto mengambil cangkul di sudut dapur yang sempit. Air kendi yang segar lalu diteguknya. “. Ya sudah kalau begitu. Aku berangkat dulu “. Lelaki paruh baya itu bergegas meuju ke ladang.  Bahunya yang kokoh memanggul cangkul tak lepas dari perhatian istrinya. Hingga ia berkelok dari pekarangan rumah. Bu Parti menutup pintu rumah. Ia memutuskan untuk mencari si Jiman, anak bungsunya. Biarlah memasaknya nanti saja. Toh yang ada cuma  beras dan ikan asin untuk lauk. &lt;br /&gt;                                            ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam itu hujan turun dengan deras. Mengguyur kawasan desa S yang yang hanya punya kehidupan miskin sebagai objek wisatanya. Melenakan segenap penduduknya dalam tidur untuk sejenak melupakan tentang susahnya hidup jaman sekarang.  Dalam sebuah rumah yang tampak terlalu sederhana dengan segala kesederhanaannya, seorang anak tengah berjuang keras. Melawan kantuk dan dingin sekaligus bersusah payah mengerjakan tugas sekolahnya. Pendar temaram dari sebuah ublik yang terletak di mejanya setia menemani. “. Sudah tidur adikmu Min?”. Pak Parto bertanya kepada anak sulungnya, disela keasyikannya menghisap rokok lintingan sambil tiduran di ambin reot. “. Sudah pak , tadi sehabis makan dia langsung tidur”. Jamin kembali sibuk dengan tugasnya. Dalam keluarganya, dialah yang paling beruntung karna bisa merasakan bangku sekolah. Setahun lagi dia akan menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar. Jiman adiknya yang lebih muda 5 tahun tidak bersekolah. Biaya sekolah untuk dua orang terasa begitu berat bagi petani miskin seperti orang tuanya. Lagipula kedua orang tuanya lebih menekankan kepada Jamin dan adiknya untuk bekerja keras. Seperti mereka dulu yang tidak bersekolah karena terlalu sibuk membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. &lt;br /&gt; Bu Parti yang baru saja selesai mencuci piring muncul dan duduk di dekat Jamin.  “. Nak…kamu tahu nggak . Kenapa adikmu itu ?”. Jamin meletakkan alat tulisnya. Ia menatap lekat-lekat ibunya yang tampak lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Beban hidup ibunya yang berat turut memberi andil dalam menambah kerutan-kerutan di wajah  dan uban-uban dirambut sebelum waktu yang semestinya. &lt;br /&gt;“.. maksud ibu?’. &lt;br /&gt;“. Si Jiman dua hari belakangan ini tampak murung. Kamu tahu kenapa?’.&lt;br /&gt;“. Wah aku kurang memperhatikannya bu “.&lt;br /&gt;“. Tapi sebelumnya dia tampak begitu gembira ?’.&lt;br /&gt;“. Oh itu mungkin karna dia ku ajak main kapal-kapalan bareng temen-temen”.&lt;br /&gt;“. Main kapal-kapalan gimana?”.&lt;br /&gt;“. Gini lho bu, di jalanan desa kita kan banyak lubang-lubangnya. Dan jika musim hujan seperti sekarang ini, pasti lubang –lubang itu akan tergenangi air. Jadi kami bisa main kapal daun di situ “.&lt;br /&gt;“. Terus kenapa ya dia jadi murung, apa kamu tidak mengajaknya main kapal-kapalan lagi ?”.&lt;br /&gt;“. Tidak bu. “.&lt;br /&gt;“. Jadi kenapa yah…..pak ! bapak tahu nggak kira-kira kenapa si Jiman murung terus ?....  pak ! “.&lt;br /&gt;Dan pak Parto menjawab dengan dengkurnya. Dia merasa begitu lelah setelah bekerja seharian.&lt;br /&gt;“. Ah sudahlah. Kamu belajar yang rajin ya nak “.&lt;br /&gt;Bu Parti masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian Jamin sudah terlelap disamping adiknya. Diluar, hujan deras belum juga reda. Seolah tercurah dari langit yang terbelah. &lt;br /&gt;                                       ***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah lepas siang. Namun udara tetap sejuk seperti masih pagi. Arak-arakan mendung tak juga bosan mengerubuti matahari.  Hujan deras semalam baru reda menjelang subuh. Sisa- sisa hujan masih tampak jelas di jalanan. Air menggenang di sana sini. Banyak sekali lubang di jalanan. Ada yang besar tak jarang pula yang kecil. Segerombolan anak-anak bermain mengerumuni lubang jalanan yang paling besar. Lebarnya mencapai 2 meter dan panjangnya 3 meter. Tidak seberapa dalamnya. Anak-anak kecil itu bermain kapal kertas. Kapal-kapal buatan mereka di apungkan di atas genangan air. Lalu mereka membuat gelombang-gelombang kecil di air dengan tangan mereka. Mereka berlomba untuk mendorong kapalnya agar mencapai tepian terlebih dahulu. Dari tadi begitu saja yang mereka mainkan. Tanpa ada kebosanan.&lt;br /&gt;“. Bu..ibu..aku tahu bu ! “. Jamin berlari kecil melewati pekarangan rumahnya. Dia langsung menghampiri ibunya di samping rumah. “. Ada apa nak ?”. Bu Parti sedikit terkejut melihat anaknya yang begitu bersemangat. Dia berdiri menyambut kedatangan Jamin. Kesibukannya merapikan potongan kayu bakar sejenak di tinggalkan. Pak Parto yang tengah membelah sebatang kayu berukuran besar pun tak kalah kejutnya dengan kedatangan Jamin. Sambil duduk di atas batang kayu pak Parto bertanya “. Apa yang kau tahu Min ? “.&lt;br /&gt;Jamin meredakan nafasnya yang memburu. Lalu ujarnya “. Aku tahu pak , bu, kenapa si Jamin murung belakangan ini “. &lt;br /&gt;“. Bener Min ? katakan pada ibu nak, ibu ingin tahu ! “.&lt;br /&gt;“. Begini bu, tadi sepulang sekolah aku mengajak Jamin ke rumah Asep. Ternyata aku bertemu dengannya di balai desa. Kebetulan kami lewat sana. Di balai desa sedang ada kumpulan mungkin, ramai orang di dalamnya. Kami bertiga mengintip dari jendela apa yang di lakukan mereka di dalam. Saat itu pak lurah berkata bahwa tak lama lagi jalanan di desa akan diperbaiki. Karna sebentar lagi pemilu akan dilaksanakan. Saat itulah si Jamin ku dengar memaki dengan kesal. Ketika ku tanya kenapa dia memaki, katanya dua hari yang lalu dia mendengar pak lurah mengatakan hal yang sama kepada serombongan bapak-bapak sehabis shalat jum’at. Jadi , rupanya dia murung karena takut tidak bisa main kapal-kapalan di jalan lagi kalau jalannya diperbaiki. Padahal dia sangat suka bermain kapal-kapalan di jalanan “.&lt;br /&gt;“. Ha..ha…ha…. “. Pak Parto tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Jamin.&lt;br /&gt;“. Kenapa to pak kok ketawanya sampai begitu ?’&lt;br /&gt;Pak Parto tak segera menjawab pertanyaan istrinya. Disulutnya sebatang rokok lintingan yang diambil dari kantong celananya.&lt;br /&gt;“. Jamin bisa main kapal-kapalan lagi nanti. Agak lama sih, beberapa bulan lagi lah. Karena menjelang pemilu jalanan desa ini pasti diperbaiki . tapi tidak lama kemudian pasti rusak lagi. Pemilu kemaren juga seperti itu “.&lt;br /&gt;Bu Parti merasa lega mendengar penjelasan suaminya. &lt;br /&gt;“. Emang pemilu itu ngapain sih pak ?”. Jamin belum mengerti apa itu pemilu.&lt;br /&gt;“. Ya itu, arak-arakan ke lapangan buat dengerin orang pidato. Nggak tahu siapa itu yang pidato. Sebelumnya kita dapat kaos dan kadang-kadang dapat duit. Ya lumayanlah “. &lt;br /&gt;Jamin jadi tak sabar menanti datangnya pemilu. Bu Parti kembali merapikan potongan –potongan kayu bakar hasil belahan suaminya dengan kapak. Dan, pak Parto menghisap rokoknya dengan nikmat. Langit perlahan mulai cerah. Mendung-mendung yang mengerubuti matahari sedikit demi sedikit mulai pudar. Hangat sinar mataharipun mulai terasa. &lt;br /&gt;“. Bu, pak . aku mau ngajak Jamin main kapal-kapalan lagi “.&lt;br /&gt;Jamin berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang masih sibuk bekerja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2627578325882992795?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2627578325882992795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2627578325882992795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2627578325882992795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2627578325882992795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/11/kapal-kapal-pemilu.html' title='Kapal-kapal Pemilu'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-6371223834418264832</id><published>2008-11-02T20:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-02T20:40:56.776-08:00</updated><title type='text'>An avounteer’s tale</title><content type='html'>Setelah menyelesaikan studi S1, saya mengira bahwa saya akan menemukan sekeping kenangan dari masa kecil saya. Sebuah kenangan tentang imajinasi saya akan sosok saya ketika telah dewasa. Banyak sosok hebat yang saya idamkan dan saya tanam dalam fikiran kanak-kanak saya sebagai sebuah cita-cita. Meskipun begitu, ternyata tak satupun sosok dalam kenangan itu muncul sebagai refleksi saat saya telah mencapai titik kedewasaan yang ditandai dengan pencapaian gelar akademis yang cukup tinggi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak remaja, saya mulai terbelit sebuah pertanyaan tentang apa yang menjadi cita-cita saya. Bukan sekedar sebuah keberhasilan mencapai profesi yang prestisius, tapi lebih dari itu. pencapaian cita-cita adalah sebuah klimaks dari proses penggalian potensi diri dan orientasi hidup yang dirumuskan dari pemahaman-pemahaman individual akan kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saat remaja saya telah mencanangkan diri sebagai seseorang yang memendam cita-cita untuk menjadi pelukis. Saat itu saya hanya berani menggunakan kata memendam karena saya sendiri tak yakin apakah pelukis adalah sosok yang tepat untuk masa depan saya. Pertanyaan tentang cita-cita selalu diparalelkan dengan pertanyaan apakah itu “aman” untuk hidup saya, bukan apakah itu yang benar-benar saya inginkan? Pertanyaan tentang apakah cita-cita itu merupakan satu hal yang sangat saya inginkan selalu datang dari diri saya sendiri. Kemudian, perlahan menjadi semakin lirih oleh hiruk pikuk suara dari luar diri saya sendiri yang mempertanyakan apakah cita-cita itu merupakan satu hal yang “aman” untuk menjamin kesejahteraan hidup saya kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bertambahnya usia saya, semakin bertambah pula perkara yang membebani pikiran saya. Karena keterbatasan ruang psikologis dalam diri saya, maka saya pun mulai membebankan perkara itu ke dalam ruang pemikiran saya. Hasilnya, justru menjadi semakin mengaburkan pencarian jawaban saya akan cita-cita saya. Dulu, saya selalu menjadikan perjalanan hidup sebagai pretensi saya untuk menangguhkan pencarian jawaban tentang cita-cita saya. Lambat laun saya sadar, bahwa sekarang saya tak bisa mangkir lagi. It’s time to decide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya telah lama saya mencoba meyakinkan diri saya sendiri untuk jujur saja dan mengkuti kata nurani. Apa yang menjadi kata nurani tentang apa cita-cita saya, itulah yang sebaiknya saya ikuti. Namun, saya tak mampu untuk bersikap impulsif dalam hal ini. Saya tak mampu berpaling dari pemaknaan rasionalitas saya akan realita yang saya hadapi. Saya hidup ditengah masa yang penuh malapetaka kemanusiaan. Saya hidup diatas negeri kaya yang salah urus sehingga menyengsarakan rakyatnya. Dan, segala keburukan itu bermuara pada kalangan akar rumput, alias kalangan rakyat jelata yang juga merupakan kelas sosial saya. Mungkin karena memang lemahnya kemampuan otak saya untuk berfikir jernih, saya tak mampu menemukan jalan keluar dari tekanan kesulitan hidup. Saya menjadi semakin rabun untuk menguraikan nilai-nilai hakiki yang ada dibalik segala realitas sosial kehidupan saya. Imbasnya adalah saya semakin picik berfikir. Pada akhirnya saya pun berkesimpulan bahwa : to live is to eat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan ini justru semakin menjauhkan saya dari jawaban yang semenjak remaja belum mampu saya uraikan. Lama kelamaan, idiom cita-cita itupun dengan sendirinya kembali mengalami pergeseran. Cita-cita bukan lagi sebuah konsep tentang satu sosok, melainkan sebuah konsep tentang satu tempat yang ideal. Satu tempat dimana kedua kaki saya mampu berdiri tegak dalam  kemandirian dan kedua tangan saya mampu meraih segala kenikmatan zaman. Maka, mulai saat itu saya mulai mengenal istilah kompromi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompromi kemudian menjadi semacam tiket bagi saya untuk melanjutkan  perjalanan sebagai seorang avountir. Seseorang yang berjalan diantara berbagai macam idealisme yang berkelindan dengan tema zaman sehingga bagi seorang berintelejensia rendah seperti saya, itu semua sekadar menjadi labirin yang menyesatkan. Maka berjalanlah saya sebagai avountir yang hanya gemar singgah. Tidak menetap. Dan, kompromi menjadi tiket bagi saya untuk dapat diterima dalam setiap persinggahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap persinggahan saya berkesempatan untuk menyerap nilai-nilai eksternal yang banyak diantaranya masihlah asing bagi saya. Banyak pelajaran hidup yang saya serap. Referensi pemikiran saya pun bertambah. Dan, bodohnya, gugusan-gugusan pemahaman yang telah terbangun justru menjadi sekat yang berlapis yang menghalangi saya untuk melanjutkan pencarian saya akan jawaban tentang cita-cita yang hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan saya mulai menyadari, bahwa permasalahan saya telah bertambah kini. Jawaban yang harus saya temukan bukan lagi hanya tentang perkara cita-cita. Tapi juga perkara sosok saya sendiri kini. Apakah saya telah menjadi diri saya sendiri ataukah saya masih sekedar menjadi sosok yang bisa diterima oleh logika sosial masyarakat saya dan logika kemapanan saya sendiri?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-6371223834418264832?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/6371223834418264832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=6371223834418264832&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6371223834418264832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6371223834418264832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/11/avounteers-tale.html' title='An avounteer’s tale'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-323421571190758913</id><published>2008-10-27T02:02:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T02:11:06.278-07:00</updated><title type='text'>Blues, out of nowhere</title><content type='html'>Rajabasa menjelang waktu ashar. Sengatan terik matahari telah meluruh jatuh disudut lain bumi yang jauh. Panas menyengat kini tergantikan oleh udara yang hangat. Lalu lalang kendaraan memenuhi terminal induk di Lampung itu. Deru kendaraan, suara musik beraneka ragam dan teriakan yang sesekali diselingi sumpah serapah turut menyesaki. Semuanya berkolaborasi menciptakan sebuah sketsa hidup dari sekeping kehidupan yang terus ditekan beban. Menciptakan kemewahan disatu sudut yang jauh dan meminggirkan segala kemuraman disatu sudut lain seperti terminal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba di Rajabasa ketika semua itu tengah berlangsung. Segala hiruk pikuk itu tak menyisakan sedikit pun keramahan untuk menyambut saya. Hanya ada tuntutan dan ketergesaan. Saya bergegas berjalan menuju sederet bus metro yang tengah menunggu giliran untuk berangkat. Saya hampiri sebuah bus berwarna putih yang berada di urutan terdepan dari deretan bus-bus itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang 10 menit berselang, bus yang saya tumpangi telah meninggalkan Rajabasa. Deru mesin tua bus itu tak teredam oleh lagu-lagu Peterpan yang diperdengarkan dengan suara yang cukup keras lewat sound system yang ada dalam bus. Saya tidak terlalu memperdulikan itu semua. Apa yang ada didalam bus dan apa yang ada diluar bus sudah teramat sering saya alami dan saksikan. Perhatian saya fokuskan pada lembar-lembar feature Sindhunata yang mengulas sekitar Piala Dunia 1998 di Perancis. Gaya bahasa yang khas diramu dengan penyusunan plot yang cerdas membuat fature sindhunata terasa-meminjam istilah bondan winarno-“mak nyuuss”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah perjalanan buku itu selesai saya baca. Perhatian saya alihkan ke sekitar saya. Disamping saya, kosong. Hanya ada ransel kumal saya tersandar. Di sebelah kiri saya ada seorang gadis manis berambut lurus sebahu dengan lirih melantunkan syair lagi di balik awan-nya Peterpan yang diputar dalam bus. Disamping gadis itu, seorang ibu muda tengah terlelap. Didepan mereka berdua, seorang lelaki berusia 30-an tahun tengah bercakap-cakap dengan seorang bocah yang tampaknya berusia 5 tahun. Bocah itu tampak begitu riang. Wajahnya yang menawan tampak ekspresif mengiringi segala celotehnya. Lelaki itu yang saya yakini sebagai bapaknya, dengan riang menyambut segala celoteh si bocah. Sesekali dia mengelus-elus kepala si bocah dengan lembut. Sejenak saya merasa seolah tengah menonton sebuah scene drama keluarga bahagia yang diperankan dengan sempurna oleh aktornya. &lt;br /&gt;Pandangan saya beralih ke jendela bus. Saya menatap keluar. Tanpa fokus. Mengalir, mengikuti segala apa yang tertangkap mata.  Pikiran saya tak berarak mengikutinya. Pikiran saya mengembara sendiri. Menyusuri labirin kenangan yang telah tersamar oleh selubung waktu. Hanya ada potret seorang bapak dan anak yang bahagia dalam bus yang baru saja saya lihat, menjadi pemandu kemana pikiran saya melangkah dalam labirin kenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus terus melaju. Setelah jalanan Batanghari Ogan yang terkurung oleh kelebatan pepohonan terlewati, segera saja menghampar pesawahan kecamatan trimurjo. Warna kuning kecoklatan dari sisa-sisa batang-batang padi yang telah dipanen mendominasi spektrum warna yang tampak dari pesawahan itu. Air kuning yang meruangi saluran irigasi mengaliri padi-padi mengalir dalam debit yang sangat kecil. Hanya cukup untuk menjadi habitat kehidupan udang-udang kecil dan ikan-ikan yang tak menarik perhatian anak-anak desa. Semua itu wajar saja mengingat memang musim tanam belum lagi datang. Masa jeda seperti ini menjadi reses yang cukup panjang bagi para petani yang memilih untuk tidak menanam tanaman palawija. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggir pesawahan itu, pada sebuah pematang yang lebarnya mencapai lebih dari 1 meter, tatapan saya berlabuh. Disana tampak seorang bapak tengah mengayuh sepeda kumbang membonceng anaknya yang duduk diatas sekarung rumput segar. Mungkin mereka tengah dalam perjalanan pulang usai menyabit rumput untuk ternak mereka. Bapak itu memakai caping bambu lusuh, berkaos oblong kumal dan bercelana komprang hitam. Si anak duduk diatas karung berisi rumput yang diikat pada boncengan sepeda. Anak itu bercelana pendek coklat dan memakai kaos oblong bergambar barong bali. Mereka berdua bertelanjang kaki. Mereka berdua tampak bernyanyi. Mereka berdua tampak berbahagia sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum melihat mereka berdua. Saya mendefinisikan apa yang saya lihat ini sebagai sekeping kebahagiaan paling berharga dari sebuah kehidupan yang sederhana. Mereka berdua manusia-manusia yang beruntung. Meski kehidupan pertanian mereka bukanlah kehidupan yang menjanjikan limpahan kekayaan materi, namun mereka memiliki kekayaan berupa banyaknya ruang komunal bagi mereka untuk menunjukkan kasih sayangnya satu sama lain. Sehingga, kehidupan mereka menjadi kaya akan limpahan kasih sayang dalam bentuknya yang paling tulus dan menyentuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sore semakin teduh. Sisa terik siang tadi telah punah tersamar awan-awan yang berarak menuju matahari.&lt;br /&gt;Saya telah tiba dipasar metro. Masih cukup ramai suasananya. Saya berjalan menyusuri trotoar dimana banyak penjual koran mengadu nasibnya. Saya menyukai trotoar itu. Tempatnya teduh oleh beberapa pohon yang cukup besar menaunginya.  Saya suka berjalan-jalan ditrotoar itu sebelum membeli koran yang saya inginkan. Hampir 5 menit saya berjalan saya telah mencapai pasar burung. Pasar burung itu hanyalah sebuah gang pendek dimana banyak penjual burung, sangkar burung, dan pakan burung berjejer ditepi jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak kecil yang memaki topi baseball dengan rajutan nomor 22 diatas lidah topi tengah manarik-narik lengan seorang lelaki. Lelaki berkemeja lapangan itu tampaknya adalah bapaknya sendiri. Anak itu merengek minta dibelikan burung mungil berbulu keemasan yang terkurung dalam sangkar bambu yang indah berplitur mengkilat. Bapak itu menolak permintaan anaknya. Si anak tak mau mengalah, dia terus merengek minta dibelikan burung itu. sementara saya menepi ke pinggir jalan, tertarik menyaksikan dialog yang terjadi hanya 3 meter dihadapan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak itu menepikan anaknya ke tepi jalan. Dia lalu berjongkok didepan anaknya. Dia membujuk anaknya yang tengah merajuk. Dia memanggil anaknya dengan sebutan-sebutan yang disenangi oleh anaknya. Kebanyakan adalah nama-nama superhero fiksi yang dikagumi anaknya. Ketika anaknya mulai tertarik dan memalingkan wajah kepadanya, bapak itu memagang bahu anaknya. Lalu, dengan lembut dia menjelaskan kepada anaknya tentang hak burung untuk hidup bebas dan keutamaan burung yang berkicau diatas ranting pepohonan. Anak bertopi baseball itu berhenti merajuk. Ekspresi wajahnya kini merefleksikan rasa ingin tahu. Perubahan sikap anak itu direspon bapaknya dengan terus melanjutkan penjelasannya. Bapak itu kemudian menceritakan tentang betapa terpujinya manusia yang menyayangi  binatang dengan cara menghargai hak hidup binatang itu. dan, dalam hal ini adalah membiarkan burung hidup bebas dialam raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beranjak meninggalkan mereka berdua. Saya yakin, anak bertopi baseball itu telah melupakan keinginannya untuk membeli burung dalam sangkar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, saya telah sampai didepan sebuah masjid pada sebuah persimpangan dimana saya biasa menunggu angkot menuju rumah saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 menit kemudian angkot merah menepi menyambut lambaian tangan saya. Bergegas saya melompat masuk. Tidak begitu sesak didalamnya. Dari salon butut yang ada, lagu-lagu dangdut lawas berkumandang.&lt;br /&gt;Jalan raya menuju ke rumah saya semakin pudar dalam tatapan saya. Perlahan jalanan itu berubah menjadi jalan kenangan yang membawa ingatan saya kembali menyusuri bayangan masa kecil saya. Peristiwa-peristiwa yang saya lihat disepanjang perjalanan pulang tadi, masih melekat dalam ingatan. Menjadi lanskap kerinduan ditengah hamparan kenangan saya. Mozaik-mozaik peristiwa antara bapak dan anak yang tidak lama berselang telah saya temui merupakan sebuah reminisensi bagi saya. Reminisensi agar tak perlu saya merasa iri pada anak-anak itu. Pada masa yang telah berlalu saya pun pernah mengalami apa yang mereka alami. Dan, mungkin juga perisitiwa semacam itu akan pula mengabadi dalam kenangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum dan merasa bahagia mengenangkan masa kecil saya sendiri. Kemudian, membandingkan dengan mozaik-mozaik peristiwa antara bapak dan anak sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bentangan pesawahan luas yang mengapit jalan raya menuju rumah saya berakhir, angkot pun menepi. Saatnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Lamunan saya akan kenangan masa kecil pun terhenti. Saya kembali tersadar, bahwa satu hal yang paling jauh jaraknya dengan diri kita adalah masa lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-323421571190758913?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/323421571190758913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=323421571190758913&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/323421571190758913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/323421571190758913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/10/blues-out-of-nowhere.html' title='Blues, out of nowhere'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5818957012862358445</id><published>2008-10-18T01:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T01:41:36.891-07:00</updated><title type='text'>They said and they did</title><content type='html'>Mereka telah mendeklarasikan : “Kemenangan kita diperoleh dengan lebih mudah berdasarkan kenyataan bahwa dalam hubungan dengan mereka yang kita inginkan, kita selalu bekerja pada simpul-simpul yang paling peka pada pikiran manusia, pada rekening tunai, pada nafsu manusia, pada ketidak-puasan manusia akan kebutuhan materiel; pada setiap kelemahan manusiawi ini, ia sudah cukup untuk melumpuhkan prakarsa, karena ia menyerahkan kemauan manusia kepada disposisi dia yang telah membeli kegiatan kegiatannya”.&lt;br /&gt;(’Protokol yang Pertama’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dengan instrumen ini mereka melakukannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMF dan Bank Dunia&lt;br /&gt;IMF (the lnternational Monetery Fund) dan Bank Dunia adalah lembaga dana moneter intemasional yang dalam missinya disebutkan untuk memberikan bantuan kepada negara-negara yang tengah mengalami kesulitan likuiditas keuangan atau menghadapi masalah moneter. Dalam kenyataannya IMF, dan Bank Dunia, yang saham mayoritasnya sebesar 51 % dikuasai oleh departemen keuangan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Reed, CEO Citigroup dan Sandy Weil, CEO Traveler’s Group., mengucapkan selamat datang kepada Robert Rubin, mantan menteri keuangan di era presiden BillClinton. Rubin bergabung dengan Citigroup pada bulan Oktober 1999&lt;br /&gt;Yang telah kita ketahui ialah bagian terbesar dari saham the Fed dikuasai oleh para bankir raksasa Yahudi. Dengan uang-kertas dolar yang ongkos cetaknya, tidak peduli berapa pun nilai denominasinya di lembaran itu, hanyalah 3 sen dolar per lembar, praktis the Fed memiliki kekuasaan atas keuangan dunia hampir-hampir tanpa biaya. Meski ada beberapa kekeliruan pandangan tentang IMF dan Bank Dunia, tetapi tidak dapat disangkal bahwa keduanya, baik IMF maupun Bank Dunia, merupakan dua instrumen kekuasaan yang digunakan oleh Barat (baca : kelompok Zionis) untuk menghancurkan negara-negara yang berdaulat agar menjadi tidak lebih daripada sekedar teritori (ekonomi-keuangan) mereka, yang pada gilirannya akan kehilangan kedaulatan politik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala suatu missi IMF memasuki suatu negara, mereka sebenarnya tidak lain menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang. Menurut Joseph Stiglitz, mantan Kepala Tim Ekonom Bank Dunia, IMF biasanya mengembangkan program empat langkah.&lt;br /&gt;Langkah pertama adalah program’ Privatisasi’ , yang menurut Stiglitz lebih tepat disebut dengan nama program ‘Penyuapan’. Pada program ini perusahaan-perusahaan milik negara penerima bantuan IMF harus dijual kepada swasta dengan alasan untuk mendapatkan dana tunai segar. Pada tahapan ini menurut Stiglitz, “Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, dimana pemerintah Amerika Serikat (harap dicatat departemen luar negeri, departemen pertahanan, dan departemen keuangan, sepenuhnya dikuasai oleh orang-orang Yahudi), terlibat dalam kasus “penyuapan” terbesar yang pernah ada, pada program “privatisasi” di Rusia pada tahun 1995, ketika pemerintah Amerika Serikat (Yahudi) menghendaki Yeltsin terpilih lagi. “Kami tidak peduli kalau pemilihan itu adalah pemilihan yang korup. Kami ingin uang itu sampai ke tangan Yeltsin melalui ‘bawah-meja’ untuk keperluan kampanyenya”. Yang paling menyakitkan hati bagi Stiglitz bahwa oligarchie Rusia yang didukung oleh Amerika Serikat itu menyapu habis aset industri BUMN Rusia dengan akibat, korupsi tersebul memotong pendapatan nasional Rusia tinggal hampir separuhnya saja yang menyebabkan depresi ekonomi dan kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah program “penyuapan” itu langkah kedua IMF/Bank Dunia adalah rencana “satu-ukuran-(yang) pas - untuk menyelamatkan ekonomi anda” (’all size - economic solution ‘), yaitu “Liberalisasi Pasar Modal”. Dalam teorinya deregulasi pasar modal memungkinkan modal investasi mengalir keluar-masuk. Namun, dengan ditingkatkannya pemasukan modal investasi dari luar, pada gilirannya akan menyebabkan pengurasan cadangan devisa negara yang bersangkutan untuk mendatangkan aset melalui impor dari negara-negara yang ditunjuk oleh IMP. Malangnya lagi, dalam kasus Indonesia dan Brazil, lagi-lagi menurut Stiglitz, modal itu hanya keluar dan keluar, tidak pernah balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stiglitz menyebut program “privatisasi” ini sebagai daur “uang panas”. Dana tunai dari luar masuk untuk spekulasi di bidang real-estate dan valuta, kemudian hengkang bila ada tanda-tanda akan ada kerusuhan. Akibat dari yang pertama di atas dan kedua ini, cadangan devisa negara bisa habis menguap dalam ukuran hari, bahkan jam. Dan bilamana hal itu sampai terjadi, maka untuk merayu kaum spekulan untuk mau mengembalikan dana modal nasional, IMF menuntut negara-negara debetor ini menaikkan suku-bunga banknya menjadi 30%, 50%, hahkan 80%. Ketetapan itu diikuti dengan persyaratan kebijakan deregulasi peraturan perbankan, diberlakukannya kebijakan uang ketat (’austerity policies’), dihentikannya subsidi pada bidang-bidang yang berkaitan dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat. Pada negara-negara yang sedang berkembang, dimana program pcmbangunan bagian terbesar masih menjadi tanggung-jawab negara, pemberlakuan politik uang ketat berdampak buruk terhadap kehidupan sektor riel. Penghentian subsidi terhadap sektor strategis seperti pangan, bahan bakar, transportasi, pendidikan, dan sebagainya selalu berakhir dengan krisis politik di negara-negara yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hasilnya bisa diprediksi”, kata Stiglitz mengomentari tentang gelombang pasang uang panas di Asia dan Amerika Latin. “Suku bunga yang tinggi menghancurkan nilai properti, memangsa produksi industri, dan mengeringkan dana nasional”.&lt;br /&gt;Pemasukan modal investasi dari luar, meskipun tampaknya membantu untuk memperluas kesempatan kerja, dalam kenyataannya persyaratan itu telah membunuh usaha bumiputera setempat, yang pada gilirannya jatuh bergelimpangan, karena belum mampu bersaing khususnya untuk pemasaran. Acapkali kebijakan seperti itu berakibat dengan penutupan pabrik-pabrik, karena pemerintah tuan-rumah dan sektor swasta domestik tidak cukup memiliki modal. Contoh paling mutakhir adalah bangkrutnya ekonomi Argentina pada bulan Januari 2002 yang menimbulkan situasi kekacauan politik dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan ini IMF menarik negara debetor yang tengah megap-megap itu ke langkah ketiga, yaitu “Pricing - Penentuan Harga Sesuai Pasar”, sebuah istilah yang muluk untuk program menaikkan harga komoditas strategis seperti pangan, air bersih, dan BBM. Tahapan ini sudah dapat diprediksi akan menuju ke langkah tiga-setengah, yaitu apa yang dinamakan oleh Stiglitz, “Kerusuhan IMF”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerusuhan hasil ciptaan IMF” itu sudah bisa diprediksikan dan sangat menyakitkan hati. Tatkala suatu negara sudah jatuh pingsan (IMF) akan mengambil keuntungan dan memeras sampai tetes darah terakhir yang masih ada pada negara debetor. Suhu akan terus meningkat, dan pada saatnya ketel itu meledak”, seperti halnya ketika IMF, menurut Stiglitz, mengharuskan menghapus subsidi untuk beras dan BBM bagi kaum miskin di Indonesia pada tahun 1998. Indonesia meledak dengan kerusuhan. Dan masih ada contoh kasus lain - kerusuhan di Bolivia, sehubungan dengan kenaikan tarif air bersih pada tahun 2001, dan pada bulan Februari 2002 kerusuhan di Ekuador karena kenaikan harga gas dapur yang diperintahkan oleh Bank Dunia. Kesan yang ada ialah kerusuhan itu memang direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang begitu. Apa yang tidak diketahui Stiglitz, bahwa BBC dan koran the Observer, London, berhasil memperoleh beberapa dokumen dari kalangan dalam Bank Dunia, yang diberi cap ‘Confidential’, ‘Restricted’, dan ‘Not to be Disclosed’. Salah satu di antara dokumen-dokumen itu adalah apa yang disebut ‘Interim Country Assistance Strategy’ (’Strategi Bantuan Sementara’) untuk Ekuador. Di dalam dokumen itu Bank Dunia beberapa kali menjelaskan - dengan ketepatan yang mendirikan bulu roma - bahwa mereka mengharapkan rencana mereka akan menyalakan “kerusuhan sosial”, begitu istilah birokrasi terhadap negara yang terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tidak perlu membuat kaget. Laporan rahasia itu mencatat, rencana itu dimaksudkan agar nilai mata-uang Ekuador dengan dolar Amerika akan mendorong 51 % dari penduduk Ekuador agar berada di bawah garis kemiskinan. Rencana “Bantuan” Bank Dunia di dalam laporan itu semata-mata menyeru untuk “meredakan tuntutan dan penderitaan rakyat” dengan “penyelesaian politik” -tanpa menyinggung aspek ekonomi dan harga-harga yang kian melambung&lt;br /&gt;“Kerusuhan IMF” (yang dimaksudkan dengan ‘kerusuhan’ disini ialah demonstrasi damai yang dibubarkan dengan gas air-mata, peluru, dan tank), menyebabkan panik baru yang berakibat dengan pelarian modal (’capital flight’) dan kebangkrutan pemerintah setempat. Kebakaran ekonomi ini mempunyai sisi terangnya - untuk perusahaan perusahaan asing, yang yang mendapatkan kesempatan menyabet sisa aset negara yang sedang kacau-balau itu, seperti konsesi pertambangan, perbankan, perkebunan, dan lain sebagainya dengan harga obral-besar-besaran. Contoh ini terlihat pada kepanikan pemerintah Indonesia yang melakukan “divestasi” degan harga obral-obralan pada BCA (’Bank Central Asia’), bank paling berhasil di Indonesia, pabrik semen, perkebunan kelapa sawlt, bisnis telekomunikasi, dan sebagainya, yang kesemuanya sebenamya merupakan “tambang emas” (’money-machines’) bagi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stiglitz mencatat bahwa IMF dan Bank Dunia bukanlah penganut yang tidak punya perasaan terhadap ekonomi pasar. Pada waktu yang sama IMF menghentikan Indonesia untuk memberi subsidi pangan. Menurut IMF, “ketika bank-bank membutuhkan bail-out, intervensi (terhadap pasar) dapat diterima”. IMF menumpahkan berpuluh milyar dolar untuk menyelamatkan para finansier Indonesia dengan tambahan pinjaman dana dari bank-bank Amenka dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pola muncul. Dalam sistem ini banyak yang rugi, tetapi ada satu pemenang : yaitu, bank-bank Barat dan departemen keuangan Amerika Serikat, yang menghasilkan keuntungan besar dari celengan modal internasional ini. Stiglitz menceriterakan pengalaman pertemuan pertamanya, ketika baru menjabat di Bank Dunia, dengan presiden baru Etiopia dalam rangka pemilihan umum demokratis yang pertama di negeri itu.&lt;br /&gt;Bank Dunia dan IMF menginstruksikan Etiopia untuk mengalihkan uang bantuan ke rekening cadangannya di departemen keuangan Amerika Serikat, yang akan memberikan bunga 4%, sementara Etiopia meminjam kepada Amerika Serikat dengan bunga 12% untuk memberi makan rakyatnya. Presiden Etiopia yang baru memohon kepada Stiglitz agar uang bantuan itu dapat digunakan sendiri untuk membangun negerinya. Tetapi tidak, uang hasil rampokan itu langsung masuk ke kas departemen keuangan Amerika Serikat di Washington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita sampai ke tahap keempat yang oleh IMF dan Bank Dunia diberi nama “Strategi Pengentasan Kemiskinan”: yaitu, Pasar Bebas. Yang dimaksud ialah ‘pasar bebas’ berdasarkan aturan dari WTO (’World Trade Organization’ - Organisasi Perdagangan Dunia’) dan Bank Dunia. Stiglitz, orang dalam Bank Dunia itu menyamakan ‘pasar bebas’ dengan ‘perang candu’. “Konsep itu bertujuan membuka pasar”, katanya. “Persis seperti halnya pada abad ke-19, negara-negara Barat dan Amerika Serikat menghancurkan rintangan yang ada bagi perdagangan di Cina. Sekarang hal yang sama dilakukan untuk membuka pasar agar mereka dapat berdagang di Asia, Amerika Latin dan Afrika, sementara negara-negara Barat itu memasang tembok yang tinggi terhadap impor hasil pertanian dan produk manufaktur dari Dunia Ketiga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akibat program’ pasar-bebas’. Para pengusaha kapitalis lokal terpaksa meminjam pada suku-bunga sampai 60 % dari bank lokal dan mereka harus bersaing dengan barang-barang impor dari Amerika Serikat atau Eropa, dimana suku-bunga berkisar tidak lebih dari antara 6 - 7 %. Program semacam ini berakibat mematikan kaum kapitalis lokal&lt;br /&gt;Dalam ‘Perang Candu’, negara-negara Barat mengerahkan blokade militer untuk memaksa Cina membuka pasamya bagi perdagangan mereka yang tidak seimbang. Sekarang Bank Dunia dapat memerintahkan blokade keuangan, yang sama efektifnya seperti pada ‘Perang Candu’ - dan sarna mematikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stiglitz khususnya sangat emosional ketika membahas tentang pcrjanjian hak-hak intelektual (dalam bahasa Inggeris disingkat dcngan TRIPS). Menurut mantan Ketua Tim Ekonom Bank Dunia itu, ‘Tata Dunia Baru’ (’Novus Ordo Seclorum’) itu pada telah “menjatuhkan vonis hukuman mati kepada rakyat sedunia”, dengan cara memberlakukan tarif dan “upeti” yang tidak masuk akal yang harus dibayarkan kepada perusahaan obat-obatan yang punya merk. “Mereka tidak peduli”, kata profesor yang bekerja-sama dl bidang urusan kredit bank dengan perusahaan-perusahaan obat-obatan itu, “apakah orang akan hidup atau mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar publik, terutama pemerintahan negara-negara di Dunia Ketiga masih memandang IMF dan Bank Dunia sebagai lembaga dengan wajah yang manusiawi, seperti yang dinyatakan dalam charter-nya, “turut-serta dalam upaya menghapuskan kemiskinan”. Dalam kenyataannya, IMF lebih sukses berperan dalam menciptakan kemiskinan negara-negara yang sedang berkembang, ketimbang mengatasi kemiskinan yang mereka derita. Kalau ada yang menyangka ada konflik antara keduanya, antara IMF dan Bank Dunia, maka perkiraan itu keliru sekali.&lt;br /&gt;Harap disini jangan sampai dibuat bingung ketika terjadi campur-aduk dalam pembicaraan mengnai IMF, Bank Dunia, dan WTO.&lt;br /&gt;Lembaga-Iembaga itu sebenamya tidak lain hanyalah topeng yang dapat dipertukarkan yang berasal dari suatu sistem kekuasaan yang tunggal, kaum Zionis, sesuai keperluannya. Mereka terhubung satu dengan lainnya melalui suatu sistem yang mereka sebut “pemicu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu negara memohon kredit kepada Bank Dunia untuk keperluan pendidikan, misalnya, maka permohonan tadi akan “memicu” suatu kebutuhan untuk menerima ‘persyaratan’ apa pun - yang mereka tetapkan rata-rata sebanyak 111 poin untuk setiap negara - yang ditetapkan secara sepihak oleh Bank Dunia dan IMF. Menurut Stiglitz, “IMF mengharuskan negara debitur menerima kebijakan perdagangan yang lebih bersifat punitif ketimbang aturan-aturan dari WTO”.1&lt;br /&gt;IMF dan Bank Dunia memang mempunyai misi yang sarna di Dunia Ketiga. Kenyataannya sederhana: Wall Street berdiri di belakang kedua lembaga ini. Mereka dijalankan oleh para bankir, umumnya bankir Yahudi. Harus diingat, mereka adalah pebisnis uang dan profiteur, bukan sosiolog anthropolog, apalagi kaum philanthropis.&lt;br /&gt;Selain itu yang tidak banyak disadari orang ialah ‘pasar bebas’ pada hakekatnya adalah saudara kandung dari perang. Yang lebih penting lagi, masyarakat Dunia Ketiga pada umumnya gagal melihat hubungan erat antara gagasan pasar-bebas dengan kepentingan negara-neganl Barat. Misalnya, sedikit sekali organisasi yang mengkritik lembaga-lembaga produk Bretton Woods itu, dibandingkan dengan suara yang menentang serangan Amerika Serikat terhadap Afghanistan, misalnya mereka tidak menyuarakannya di Seattle (ketika konperensi APEC), dan juga tidak melakukannya di Washington, DC.&lt;br /&gt;Mereka berkampanye menentang ‘pasar bebas’, menentang IMF, dan memihak kepada kampanye Jubilee untuk menghapus hutang Dunia Ketiga, tetapi tidak terhadap peperangan. ‘Pasar bebas’ dan perang berjalan bergandengan tangan. Sarna seperti halnya negara-negara Barat, seperti dikatakan Stiglitz di atas tadi, pada abad ke-19 memaksa Cina melakukan “perdagangan bebas opium”, dan hal itu masih berlaku sekarang. Kalau dalam abad ke-19 negara-negara Barat mengeluarkan dalih “memberantas perompakan di laut” untuk menutup-nutupi agenda kolonialisme dan imperialisme mereka, dewasa ini Amerika Serikat berdalih “memerangi terorisme internasional” untuk mendapatkan konsesi pemasangan pipa minyaknya melalui wilayah Afghanistan.&lt;br /&gt;Koordinasi antara negara-negara Barat dengan ‘pasar-bebas’ sangat jelas. Bisa dilihat contoh di Kosovo. IMF dan Bank Dunia telah merancang rencana ekonomi pasca-perang, termasuk ‘pasar-bebas’, bahkan jauh hari sebelum jatuhnya born pertama. Keduanya bergandengan tangan. Jika suatu negara menolak intervensi IMF, maka negara-negara Barat, dengan intervensi politik atau mengerahkan berbagai badan-badan rahasia dan kegiatan subversif, akan masuk. Tugas mereka menciptakan iklim yang kondusif bagi program-program IMF dan negara-negara Barat (baca: Zionis) untuk akhirnya dapat dilaksanakan di negara-negara tersebut. Negara seperti lndonesia menjadi contoh betapa program pinjaman hutang IMF makin menambah krisis yang memang sudah parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang menerima apa yang disebut dengan nama “bantuan pinjaman” IMF, seperti Bulgaria dan Romania, termasuk Indonesia, mungkin tidak mendapatkan ‘carpet bombing’, tetapi mereka dihancurkan hanya dengan satu goresan pena. Bahasa badan tidak dapat menutup-nutupi pikiran yang ada di benak seseorang. Tentang hal itu, menarik memperhatikan keangkuhan gaya Camdessus, direktur eksekutif IMF untuk Asia-Pasifik, ketika ia menyaksikan presiden Republik Indonesia, Soeharto, terpaksa menanda-tangani Memorandum of Understanding dalam rangka memohon bantuan pinjaman IMF untuk Indonesia pada tahun 1998. Memorandum itu ternyata merupakan awal dari agenda penghancuran ekonomi Indonesia yang memang sudah terpuruk. Di Bulgaria IMF melakukan reformasi yang sangat drastis. IMF menghancurkan kondisi sosial : pensiun dipotong, pabrik-pabrik terpaksa ditutup, ada barang-barang produk pabrik yang di-dumping, penghapusan subsidi perawatan kesehatan dan subsidi transportasi secara cuma-cuma bagi rakyat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan Stiglitz tentang rencana-rencana dari IMF dan Bank Dunia yang dirumuskan secara rahasia dan didorong oleh suatu ideologi dari kaum absolutis, dan yang tidak membuka peluang untuk diskusi atau penolakan. Meski negara-negara Barat mendorong pemilihan umum di seluruh negara-negara yang sedang berkembang, apa yang mereka sebut “Program Pengentasan Kemiskinan” sebenamya “merongrong demokrasi”.&lt;br /&gt;Dan program itu temyata tidak jalan. Produktivitas negara-negara Afrika Hitam di bawah bimbingan tangan “bantuan” struktural, IMF gagal total dan programnya hancur berantakan. Apakah ada negara-negara debitur yang mampu menghindari malapetaka ini ? “Ada”, kata Stiglitz seraya menunjuk Botswana. Apa yang mereka lakukan? “Mereka menghardik IMF untuk berkemas-kemas meninggalkan negeri itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara membantu negara-negara yang sedang berkembang itu. Stiglitz mengusulkan adanya rencana land-reform yang radikal, serangan langsung ke jantung “pertuan-tanahan”, pada harga sewa yang keterlaluan, yang dikenakan oleh oligarki pemilik tanah di seluruh dunia, lazimnya tidak kurang dari 50% dari hasil panen dari si penyewa tanah (sistem “paron”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah seorang mantan pejabat tinggi di Bank Dunia, apakah gagasan ini pemah diusulkan oleh Stiglitz? Kalau anda menantang (kepemilikan tanah), hal itu niscaya akan menimbulkan perubahan pada elit yang berkuasa. Karenanya, soal itu tidak masuk prioritas utama mereka”. Setiap kali solusi dengan konsep ‘pasar bebas’ menemui kegagalan, menurut Stiglitz, IMF tidak lain hanya menuntut kebijakan “pasar yang lebih bebas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halnya sama dengan di masa Abad Pertengahan”, kata Stiglitz. “Tatkala sang pasien meninggal, mereka berkata, ‘Ia terlalu banyak kehilangan darah, sebenarnya darahnya masih ada sedikit di tubuhnya’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5818957012862358445?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5818957012862358445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5818957012862358445&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5818957012862358445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5818957012862358445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/10/they-said-and-they-did.html' title='They said and they did'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8931593925700241630</id><published>2008-10-16T02:58:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T02:59:53.803-07:00</updated><title type='text'>Not another, but the next</title><content type='html'>Massachusets, siang 12 Oktober 2008. Carlene Balderrama, seorang ibu rumah tangga, menulis surat ke perusahan hipotiknya  "Begitu Anda menyita rumah saya, saya akan mati.". Carlene sangat tertekan oleh krisis keuangan yang dialami keluarganya. Seluruh aset keluarganya terancam habis disita, dan utang dalam jumlah besar telah menunggu. Dan, ketika petugas mendatangi rumahnya untuk menyita, Carlene membuktikan ancamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Los Angeles, Karthik Rajaram, imigran kaya asal India berusia 45 tahun juga bunuh diri, setelah sebelumnya menembak istri, tiga anaknya dan ibu mertuanya. Dalam pesan yang ditulisnya, diketahui Karthik membunuh keluarga dan dirinya sendiri karena kesulitan keuangan akibat krisis ekonomi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak orang yang mengatakan pada kami bahwa mereka telah kehilangan segalanya. Kehilangan rumah, atau menghadapi ancaman penyitaan, kehilangan pekerjaan ...," kata Virginia Cervasio, direktur eksekutif sebuah lembaga yang mendata kasus-kasus bunuh diri di Lee County, sebelah barat daya Florida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka saat ini dalam kondisi sangat tertekan. Rumah-rumah mereka sudah tidak ada harganya lagi, mereka terlilih hutang kartu kredit, " kata Israel Adelman, seorang trader dari perusahaan Fordham Financials di Wall Street.&lt;br /&gt;Kebangkrutan korporasi Lehman Brothers pada paruh awal September 2008 telah menjadi episentrum pada guncangan dahsyat yang menggoyahkan perekonomian Amerika Serikat. Guncangan itu juga turut meruntuhkan kepercayaan rakyat Amerika pada lembaga-lembaga keuangan dinegaranya. Bank-bank di negara itu mulai tutup karena kehilangan modal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003, seorang investor kaya Amerika yang bernama Warner Buffet sudah memperingatkan akan kerapuahan dan kerawanan sisem keuangan di Amerika. Jauh sebelumnya, Henry Ford telah memperingatkan .” jika masyarakat Amerika tahu darimana asal uangnya, mungkin esoknya akan terjadi revolusi”. Ujarnya.&lt;br /&gt;                                        *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai  awal tahun 1913, kondisi keuangan Amerika stabil dan dinamis. Uang yang beredar dimasyarakat kala itu adalah uang logam asli yang dibuat dari perak. Tidak ada pajak untuk warga AS kala itu tidak dikenai pajak. Pemerintah memperolah dana dari taraf impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki pertengahan tahun 1013, para bankir zionis di Amerika menyatakan bahwa telah terjadi keuangan mata uang di AS. Pemerintah dinyatakan tidak bisa lagi menerbitkan mata uang karena semua cadangan emasnya telah terpakai. Agar ada sirkulasi tambahan uang, mereka ini mendirikan satu bank yang dinamakan “ The Federal Reserve Bank of New York”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bank ini, yang lebih dikenal dengan nama The Fed, menjual stok emas yang mereka miliki dan dibeli oleh “orang-orang” mereka sendiri via bank-bank zionis di Eropa. Salah satunya adalah bank milik Rotschild, milyuner yahudi dari Bavaria. Dengan jaminan emas yang mereka miliki The Fed dapat mengeluarkan mata uang sendiri. Mata uang itu dinamakan “Federal Reserve Notes”. Bentuknya sama dengan mata uang pemerintah AS dan masing-masing dapat saling tukar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah langkah awal The Fed menancapkan kuku hegemoninya di AS. Dengan menggunakan Federal Reserve Notes sama saja AS telah meminjam emas The Fed. Mulai saat itulah pemerintah AS menerapkan income tax kepada rakyatnya. Seluruh income tax yang terkumpul dibayarkan kepada The Fed untuk membayar bunga pinjaman emas tersebut. Jadi, sebenarnya warga AS membayar bunga kepada The Fed semenjak 1913. bukan kepada pemerintah. Masih pada tahun 1913, The Fed sebagai bank sentral telah berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1929, The Fed hanya mau menerima pembayaran dengan menggunakan, yang mereka sebut, “uang resmi”. The Fed menarik uang kertas yang dijamin dengan cadangan emas dari sirkulasi dan hanya menggunakan uang resmi tersebut. Sebelum tahun 1929 berakhir, ekonomi AS mengalami petaka hebat yang dikenal dengan sebutan The Great Depression. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun kemudian, AS menjual semua cadangan emasnya yang digunakan untuk menjamin mata uang mereka. Ini sama seperti penjualan likuidasi sebuah perusahaan bermasalah. Emas yang dijual ini dibeli dengan diskon oleh bank internasional, dan pembelinya adalah pemilik The Fed di New York. Pada tahun itu juga, AS tak mampu lagi membayar utangnya pada The Fed, atau bisa dikatakan bangkrut. Kalangan pelaku ekonomi menilai bahwa kebijakan presiden Roosevelt waktu itu turut andil dalam “membangkrutkan” AS. Roosevelt bersikeras bahwa sebaiknya ada reorganisasi pemerintahan seperti reorganisasi perusahaan. Kebangkrutan itu mengakibatkan The Fed secara tidak langsung telah menguasai seluruh AS, termasuk warga dan aset-asetnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roosevelt semakin menjerumuskan negaranya dalam penjajahan The Fed pada tahun 1934. Pada tahun itu, Roosevelt melarang setiap warga negaranya memiliki emas. Setiap warga diwajibkan menukarkan emas miliknya dengan sertifikat yang ditanda tangani oleh menteri keuangan AS. Jika ada yang tetap menyimpannya maka aparat akan menyitanya. Kebijakan ini baru dihapuskan pada masa presiden Carter pada tahun 1976. &lt;br /&gt;                                        *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Walker Bush, mantan gubernur Texas yang kini menjabat presiden AS, meyakini bahwa pasar sebaiknya jangan dicampuri oleh pemerintah. Kendati banyak pihak telah memperingatkan bahwa arah perkembangan perekonomian AS semakin tidak terkendali tanpa diimbangi peningkatan iklim usaha yang kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003, peusahaan-perusahaan yang dibiayai oleh Lehman Brothers, tak mampu lagi membayar utang yang telah jatuh tempo. Sebagian besar adalah developer perumahan. Sejak tahun 2003 mereka tak mampu lagi menjual rumah-rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pasar investasi karena tiadanya aturan dari pemerintah pada sektor ini dimanfaatkan oleh Lehman Brothers untuk terus menghimpun dana dari investor, meski perusahaan-perusahaan yang mendapat kucuran dana mereka telah “sakit”. Lehman Brothers menghimpun dana dengan menerbitkan surat utang atau surat berharga. Dari penjualan surat ini Lehman mendapatkan komisi dan juga pada saat mengucurkan dana pada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan modal. Sehingga, meskipun para developer tersebut mulai “sakit” Lehman tetap mendapatkan pemasukan keuangan. Ketamakan para eksekutif Lehman ini telah menyalakan detonator peruntuh perekonomian AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbu peledak itu pun habis pada bulan September 2008. da, goncanglah perekonomian AS. Lehman Brothers mengalami kebangkrutan akibat kredit macet dari para developer perumahan. Perusahaan-perusahaan dan lembaga keuangan yang telah membeli surat-surat berharga atau surat obligasi dari Lehman pun  mengalami nasib yang sama. Mereka mengalami kerugian besar. Banyak bank dan perusahaan asuransi AS menjadi goyah dan terpaksa tutup. Mereka kekurangan modal bahkan sampai bermodal negatif. Kepanikan yang luar biasa mulai melanda pasar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sandy Chen, analis perbankan dari Panmure Gordon, ada sekitar 3 triliun dollar AS utang tidak aman korporasi-korporasi AS. Dalam kondisi ekonomi bergairah utang-utang tersebut riskan untuk terbayar. Apalagi dengan kondisi saat ini. Korporasi-korporasi tersebut terancam bangkrut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; James Tyree, Ketua Mesirow Financial, berargumen bahwa Lehman mengalami pembangkrutan. Dia mengungkapkan bahwa penolakan bank Sentral AS akan memaksa perusahaan-perusahaan keuangan untuk mengatasi permasalahannya sendiri. Hal serupa diutarakan oleh William Brandt Jr. Ketua Konsultan Restrukturisasi dan Kebangkrutan Perusahaan. Dia berpendapat bahwa hal ini akan mengakibatkan trend kebangkrutan perusahaan belum akan berhenti mengingat banyaknya perusahaan-perusahaan yang terlibat utang. Bank Sentral turut andil dalam proses “kebangkrutan massal” perusahaan-perusahaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya bank sentral, Badan Pengawas Bursa Sahan AS Departemen Keuangan pun terkesan tutup mata. Mantan Menkeu AS Paul O’Neill sebenarnya telah memperingatkan tentang ancaman krisis ekonomi ini. Namun, tidak berkutik dibawah kebijakan presiden Bush yang melarang campur tangan pemerintah terhadap pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi kebebasan pasar ini pun ternyata tak lepas dari upaya bank Sentral. Semua agen bank sentral menerima komisi dari lembaga keuangan yang menjadi anggotanya. Badan-badan ini berusaha untuk menggagalkan sejumlah peraturan keuangan yang mereka anggap akan menghambat sepak terjang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arery B. Goodman, anggota Financial Industry Regulatory Authority, menyatakan bahwa krisis ini sama seperti Depresi Besar 1929. Blunder kebijakan dari bank sentral turut berperan dalam terjadinya petaka ekonomi tersebut. Goodman juga menambahkan bahwa bank sentral telah berbuat kesalahan saat menurunkan suku bunga dan mempertahankan dalam waktu lama pada tingkat 1 persen. Padahal pada waktu itu korporasi keuangan tengah jorjoran mengucurkan kredit ke sektor perumahan yang mulai gagal bayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kebijakan ini, bank sentral tenlah menyediakan dana-dana murah yang menyulut spekulasi. Ini menciptakan jalan menuju Great Depression jilid II. Bank Sentral juga telah meminjamkan dana kepada korpoasi dengan jaminan yang terlalu kecil. Dana sebesar 777 miliar dollar AS untuk jaminan yang hanya sebesar 171 miliar dollar AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi besar yang melanda AS pada tahun 1929 dan krisis ekonomi yang kini tengah terjadi, bisa terartikulasi pada satu pihak yakni Bank Sentral. Pada kedua petaka ekonomi tersebut, Bank Sentral turut andil dalam menciptakan kondisi yang menggiring perekonomian menuju kedua petaka tersebut. Jadi, bisa dikatakan bahwa kurang tepat rasanya menyatakan bahwa krisis tahun ini adalah another economic depression, melainkan the next economic depression. Karena keduanya tampak sebagai rangkaian episode dalam pertunjukkan drama bank Sentral AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah akan lebih mudah membangun tatanan dunia baru ( Nevus Ordo Seclorum)* dari puing-puing keruntuhan? So, what now zionists?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tulisan yang tertera pada uang dollar Amerika yang diterbitkan oleh Bank Sentral&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8931593925700241630?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8931593925700241630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8931593925700241630&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8931593925700241630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8931593925700241630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/10/not-another-but-next.html' title='Not another, but the next'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5391585064022787597</id><published>2008-09-19T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T03:25:09.790-07:00</updated><title type='text'>Megas Alexandros Al Farisi?</title><content type='html'>Alexander atau yang oleh banyak pihak juga disebut Iskandar merupakan puncak kemasyuran seorang lelaki. Catatan sejarah yang bertebaran menunjukkan bahwa pencapaian lelaki ini bahkan melebihi imajinasi Hommer tentang kedigdayaan seorang prajurit. Bahkan Hommer tak pernah mengkhayalkan Achilles mampu menaklukkan musuh sebanyak Alexander. Pencapaian Alexander adalah pencapaian lelaki pada puncak kekuatannya dan batas mimpinya. Alexander adalah elang seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Iqbal. Elang yang menemukan surganya ditebing-tebing curam dan cakrawala luas. Alexander Agung atau mungkin Iskandar Dzul Qarnain adalah jendral ulung yang memilih jalan pedang untuk menyingkap takdirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring decak kekaguman yang mengiringi ingatan tentang Alexander, muncul pula untaian-untaian misteri mengenai siapa sesungguhnya Iskandar Dzul Qarnain yang selalu disamakan dengan Alexander selama ini. Tak terbantahkan bahwa dia adalah raja yang memiliki mahkota dengan dua tanduk. Dua tanduk perlambang kekuasaanya yang menyatukan wilayah dimana matahari terbit dan wilayah dimana matahari terbenam. Namun, kini dua tanduk itu pun seolah melambangkan adanya dua sosok yang dinisbahkan sebagai sang penakluk terbesar dimasa sebelum masehi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan barat menyepakati bahwa Alexander adalah pahlawan masyur dari Macedonia. Alexander dilahirkan pada tanggal 20 Juni 356 SM di Pella, ibu kota Makedonia, sebagai anak dari Raja Makedonia, Fillipus II, dan istrinya Olympias, seorang Putri dari Epirus. Ketika kecil, ia menyaksikan bagaimana ayahnya memperkuat pasukan Makedonia dan memenangkan berbagai pertempuran di wilayah Balkan. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Alexander. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Alexander untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi. Pada tahun 340 SM, Filipus mengumpulkan sepasukan besar tentara Makedonia dan menyerang Byzantium. Selama penyerangan itu, ia memberikan kekuasaan sementara kepada Alexander yang ketika itu berumur 16 tahun, untuk memimpin Macedonia.&lt;br /&gt;Raja Phillip II meninggal tahun 336 SM oleh pembunuh gelap pada saat pernikahan putrinya. Alexander pun naik tahta menggantikan ayahnya pada usia 20 tahun. Sesaat setelah kematian Phillip, kota-kota di Yunani yang sebelumnya telah tunduk pada Makedonia seperti Athena dan Thebes memberontak. Alexander segera bertindak dan berhasil menggagalkan pemberontakan tersebut. Namun, tahun beikutnya terjadi pemberontakan kembali, dia memutuskan untuk bertindak tegas dengan mengahancurkan Thebes dan menjual seluruh penduduknya sebagai budak. Kejadian ini berhasil memadamkan keinginan kota-kota lain untuk memberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 335 SM, Alexander menyerang Persia dengan membawa sekitar 42.000 pasukan. Selama dua tahun berikutnya Alexander memenangkan berbagai pertempuran melawan pasukan Persia hingga akhirnya dia berhasil mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Raja Persia Darius III pada 331 SM. Darius yang kabur berusaha untuk damai dengan menawarkan Alexander wilayah dan harta namun ditolak. Alexander mengatakan bahwa dia sekarang adalah Raja Asia dan hanya dia yang berhak menentukan pembagian wilayah. Alexander kemudian meneruskan ekspansi militernya hingga berhasil menaklukkan wilayah Mesir hingga ke perbatasan India sebelum terpaksa berhenti karena prajuritnya yang kelelahan karena pertempuran terus-menerus selama sepuluh tahun.&lt;br /&gt;Alexander kemudian kembali ke kerajaanya untuk merencanakan ekspansi baru. Selama perjalanan ia mengeksekusi banyak satrap (semacam gubernur) dan pejabat yang bertindak melenceng sebagai contoh. Kemudian sebagai wujud terima kasih pada para prajuritnya, Alexander memberi sejumlah uang pada mereka dan menyatakan bahwa ia akan mengirim para veteran dan cacat kembali ke Makedonia. Namun tindakan ini justru diartikan sebaliknya oleh prajurit Alexander. Selain itu, mereka juga menentang sejumlah keputusan Alexander, seperti mengadopsi budaya Persia dan dimasukkanya pasukan dari Persia ke dalam barisan prajurit dari Makedonia. Sejumlah Prajurit kemudian memberontak di kota Opis. Alexander mengeksekusi para pemimpin pemberontakan tersebut, namun mengampuni para prajuritnya. Dalam upaya menciptakan perdamaian yang bertahan antara orang-orang Makedonia dan rakyat Persia, Alexander mengadakan pernikahan massal antara para perwiranya dengan wanita bangsawan dari Persia. Akan tetapi, hanya sedikit pernikahan yang bertahan lebih dari setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu di Babilonia, Alexander tiba-tiba terkena sakit parah dan mengalami demam selama 11 hari sebelumnya akhirnya meninggal pada tanggal 10 Juni 323 SM, dalam usia sekitar 33 tahun. Penyebab kematian yang sesungguhnya tidak jelas.&lt;br /&gt;Setelah kematian Alexander, tidak adanya ahli waris menyebabkan terjadi perpecahan dan pertempuran antara para bawahannya. Akhirnya, setelah perselisihan bertahun-bertahun, sekitar tahun 300 SM, kekuasaan atas bekas kerajaan Alexander terbagi menjadi 4 wilayah yang masing dikuasai salah satu jendral Alexander.&lt;br /&gt;Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari setiap imperium yang pernah ada sebelumnya. Pada saat ia meninggal, luas wilayah yang diperintah Alexander berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya serta mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyatuan wilayah dari makedonia hingga persia oleh Alexander Agung menyebabkan terbetuknya perpaduaan kebudayaan Yunani, Mediterrrania, Mesir, dan Persia yang disebut dengan kebudayaan Hellenisme. Pengaruh Hellenisme ini bahkan sampai ke India dan Cina. Khusus di Cina, pengaruh kebudayaan ini dapat ditelusuri di antaranya dengan artefak yang ditemukan di Tunhuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexander selama ekspansinya juga mendirikan beberapa kota yang semuanya dinamai berdasakan namanya, seperti Alexandria atau Alexandropolis. Salah satu dari kota bernama Alexandria yang berada di Mesir, kelak menjadi terkenal karena perpustakaannya yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya serta berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia pada masa itu.&lt;br /&gt;Gelar The Great atau Agung di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang lain serta keberhasilanya menaklukkan wilayah yang sangat luas hanya dalam waktu 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang mensinonimkan Alexander Agung ini dengan Iskandar Dzul Qarnain yang tersebut dalam Al-Qur’an. Penyamaan ini tentu saja sangat rentan dengan perdebatan argument. Mengingat bahwa Iskandar yang tersebut dalam Al-Qur’an adalah seorang mukmin yang mengimani Allah yang Esa. Sementara Alexander adalah seorang Yunani sebagaimana umumnya Yunani pada masa itu. Meyakini kekuasaan dewa Zeus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu sosok yang tampaknya lebih relevan jika dinisbahkan kepada Iskandar Dzulkaranin seperti yang tersebut dalam Al-Qur’an. Sosok tersebut adalah Khurush Agung. Pendapat  bahwa Dzul Qarnain adalah Khurush Yang Agung didasarkan pada dua hal berikut: &lt;br /&gt;Pertama, berdasarkan sebuah riwayat yang sesuai dengan asbabun nuzul ayat-ayat tersebut, para penanya yang mengutarakan pertanyaan tentang masalah ini kepada Rasululaah saw. adalah kaum Yahudi atau kaum Quraisy dengan provokasi dari kaum Yahudi. Dengan demikian, akar persoalan ini harus dicari di dalam kitab-kitab Yahudi.&lt;br /&gt;Dalam Kitab Daniel (sebuah kitab dari kitab-kitab terkenal milik Yahudi) pasal ke delapan, di dalamnya termaktub, “Pada tahun pemerintahan Bal Shassar, telah terjadi sebuah mimpi atasku, Daniel, yang  sebelumnya terjadi pula mimpi yang pertama atasku. Di dalam mimpiku, aku melihat diriku berada di dalam istana Shushan yang terletak di negara Ilam. Aku sedang berdiri di dekat sungai Uuloy dan menatap ke sekeliling ketika kemudian tatapan mataku tertumbuk pada sebuah biri-biri jantan yang sedang berdiri di seberang sungai. Biri-biri jantan itu mempunyai dua tanduk yang panjang … Ia mengarahkannya ke timur, barat, dan utara. Tidak ada seekor binatang pun yang mampu menghadapinya. Karena tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan diri dari cengkeramannya, maka mereka menyepakati untuk menjalankan apa yang diperintahkannya dan hal ini menjadikannya bertambah besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Kitab Daniel ini juga termaktub, “Jibril telah menampakkan diri di hadapannya dan ia menta’birkan mimpi Daniel sebagai berikut, “Biri-biri jantan pemilik dua tanduk yang kamu lihat itu adalah raja Mada’in dan Persia (atau raja Mad dan Persia).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Yahudi dengan melihat tanda-tanda mimpi Daniel tersebut menyimpulkan bahwa masa penjajahan mereka akan berakhir, dan mereka pun akan terlepas dari cengkeraman kaum Babylon dengan bangkitnya salah seorang raja Maad dan Persia dengan kemenangan yang diperolehnya atas raja-raja Babylon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian, Khurush memegang kekuasaan di Iran dan ia menyatukan bangsa Maad dan Persia sehingga terbentuklah sebuah kesultanan besar. Dan sebagaimana mimpi Daniel yang mengatakan bahwa biri-biri jantan tersebut mengarahkan tanduknya ke barat, timur dan utara, Khurush pun telah melakukan ekspansi besar-besaran pada ketiga arah mata angin tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh biri-biri jantan itu.&lt;br /&gt;Dan Khurush pun membebaskan kaum Yahudi serta memberikan izin kepada mereka untuk kembali ke tanah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik lagi, di dalam kitab Ash’iya pasal 44, ayat 28 kita membaca, “Kemudian secara khusus mengenai Khurush, Ia berfirman, ‘Ia adalah malam-malam-Ku dan ia telah menyelesaikan semua keinginan-Ku. Ia akan mengatakan kepada Yarussalem bahwa engkau pasti akan dibangun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga perlu pula mendapatkan perhatian bahwa dalam sebagian dari ungkapan-ungkapan yang terdapat di dalam kitab Taurat, Khurush juga diberi julukan “Elang Timur” dan “Pria Bijaksana yang datang dari tempat jauh.”&lt;br /&gt;Kedua, pada abad ke-19 Masehi, telah ditemukan sebuah patung Khurush di dekat kolam renang yang terletak di samping sungai Murghab. Patung ini mempunyai tinggi seukuran tinggi manusia dan sosok Khurush di sini dijelmakan dengan bentuk manusia yang mempunyai dua buah sayap yang terletak di kedua sisinya sebagaimana sayap elang dan di atas kepalanya terletak sebuah mahkota yang mempunyai dua buah tanduk sebagaimana tanduk-tanduk yang dimiliki oleh biri-biri jantan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung ini merupakan sebuah contoh yang sangat berharga dari hasil karya para pemahat kuno yang telah menjadikannya sebagai sebuah obyek yang sangat menarik perhatian para ilmuwan, sehingga sebagian ilmuwan Jerman melakukan perjalanannya ke Iran hanya untuk melihat patung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya relevansi antara kandungan yang terdapat di dalam kitab Taurat dengan spesifikasi yang dimiliki oleh patung Khurush ini menyebabkan asumsi para ilmuwan tentang statemen penamaan Khurush sebagai Dzul Qarnain (Pemilik Dua Tanduk) menjadi betul-betul kuat. Demikian pula pertanyaan tentang mengapa patung batu Khurush mempunyai dua sayap sebagaimana sayap yang dimiliki oleh elang telah terjawab. Dengan demikian, sebagian ilmuwan menjadi yakin bahwa dengan metode dan cara ini tokoh sejarah Dzul Qarnain betul-betul telah menjadi jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mempertegas kebenaran pendapat ini adalah sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Khuresh sebagaimana yang telah tertulis di dalam sejarah.&lt;br /&gt;Herodus, seorang sejarawan Yunani menulis, “Khurush memerintahkan supaya tentaranya tidak mengarahkan pedangnya kecuali kepada prajurit perang. Demikian juga untuk tidak membunuh prajurit dari pihak musuh yang telah menundukkan pedangnya. Dan lasykar Khurush pun menaati apa yang diperintahkan olehnya sehingga lapisan masyarakat tidak merasakan musibah dari peperangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, tentang sosok Khurush, Herodus menulis di dalam bukunya, “Khurush adalah seorang raja yang mulia, periang, dan sangat lembut serta penyayang. Ia tidak menyukai ketamakan sebagaimana raja-raja yang lain. Ia sangat tertarik dengan sifat-sifat mulia dan murah hati. Ia menciptakan keadilan untuk orang-orang yang tertindas dan ia semakin menyukai suatu perbuatan yang di dalamnya menjanjikan kebaikan yang lebih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sejarawan lainnya, Dey Nufen menulis “Khurush adalah seorang raja yang arif dan penyayang. Sifat kebesaran para raja dan keutamaan para arif berkumpul di dalam dirinya. Ia mempunyai sifat keperdulian yang dimiliki oleh para petinggi, penampilannya wajar, syair-syair yang dimilikinya menunjukkan rasa kemanusiaan, dan wujudnya adalah lambang keadilan dan kerendahan hati. Sifat dermawan yang berada di dalam dirinya telah menggantikan kesombongan dan rasa bangganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat menarik, para sejarawan yang memperkenalkan sosok Khurush dengan sifat-sifat seperti ini, semua adalah para penulis sejarah asing, bukan kaum Khurush sendiri atau orang-orang yang sebangsa dengannya. Mereka adalah orang-orang Yunani. Kita sendiri mengetahui bahwa para warga Yunani tidak pernah memandang Khurush secara bersahabat. Sejak jatuhnya negara Liudya ke dalam kekuasaan Khurush, itu menyebabkan bangsa Yunani telah mengalami kekalahan yang besar dan sangat telak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung pendapat ini mengatakan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Dzul Qarnain sebagaimana yang telah tersebut dalam Al-Qur’an mempunyai relevansi dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Khurush.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, sebagaimana yang telah tertulis di dalam buku biografinya, Khurush juga telah melakukan perjalanannya ke arah barat, timur dan utara, yang hal ini mempunyai kesesuaian dengan tiga perjalanan yang dilakukan oleh Dzul Qarnain, sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspsansi pertama yang dilakukan oleh Khurush menuju ke negara Liudya yang terletak di bagian selatan Asia Kecil. Dan apabila negara ini dilihat dari pusat pemerintahan Khurush, terletak di bagian barat kawasan kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila peta pantai barat Asia Kecil kita letakkan di hadapan kita, maka kita akan mengetahui bahwa sebagian besar pantai akan tenggelam di dalam teluk-teluk kecil, khususnya yang berada di dekat Azmir di mana teluk di daerah ini muncul dalam bentuk sumber mata air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an mengatakan bahwa Dzul Qarnain dalam perjalanannya ke barat merasakan bahwa matahari akan tenggelam ke dalam sebuah sumber mata air yang berlumpur. &lt;br /&gt;Gambaran ini merupakan kejadian yang dialami oleh Khurush ketika ia melihat tenggelamnya bola matahari (menurut pendapat pemirsa) ke dalam teluk-teluk pantai.&lt;br /&gt;Ekspansi kedua Khurush mengarah ke timur. Herodus menulis, “Serangan Khurush ke timur ini terjadi setelah penaklukan Liudya. Hal ini khususnya lantaran para pemberontak sebagian dari kabilah-kabilah liar telah memaksa Khurush untuk melakukan serangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menggambarkan, “Hingga apabila ia telah sampai ke tempat terbit matahari [sebelah timur], ia mendapati bahwa matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari [cahaya] matahari itu. (QS. al-Kahfi [18]: 90). Ini merupakan isyarat bahwa perjalanan Khurush yang dilakukannya hingga ke perbatasan bagian timur, di mana di sana ia menyaksikan bahwa matahari telah menyinari sebuah kaum yang tidak mempunyai pelindung ketika berhadapan dengan sinarnya, menunjukkan bahwa kaum tersebut adalah kaum pengembara yang biasa berada di padang sahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khurush juga mempunyai ekspansi ketiga yang bergerak ke arah utara mengarah menuju ke pegunungan Qafqaf (Vladkavkaz) hingga sampai di daerah lembah antara dua gunung. Untuk menghindari serangan para kaum liar, ia membangun tanggul yang tangguh berhadapan dengan daerah lembah tersebut sesuai dengan keinginan penduduk setempat.&lt;br /&gt;Lembah pegunungan ini pada era sekarang dinamakan sebagai lembah pegunungan Darial, yang di peta ditunjukkan berada di antara Vladkyukez dan Taflis. Hingga sekarang, pada tempat tersebut masih terlihat adanya dinding besi, dan dinding besi ini adalah tanggul yang dibangun oleh Khurush, karena sifat-sifat yang dipaparkan Al-Qur’an tentang tanggul Dzul Qarnain ini sangat mirip dengan tanggul tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah penjelasan ringkas untuk menjelaskan dan menguatkan pendapat ketiga. Benar apabila dikatakan bahwa di dalam pendapat ketiga ini pun masih terdapat hal-hal yang tidak jelas dan kabur. Akan tetapi, untuk saat ini, bisa dikatakan bahwa pendapat ketiga ini merupakan pendapat yang paling kuat tentang relevansi antara sosok Dzul Qarnain dengan seorang tokoh terkenal dalam sejarah, yaitu Khurush. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Polemik mengenai siapakah sesungguhnya Dzul Qarnaian masih terus berkembang sampai saat ini. Bahkan, telah muncul wacana baru tentang Dzul Qarnain. sebagian dari ahli sejarah sepakat bahwa Dzul Qarnain adalah salah seorang raja Yaman (Raja-raja Yaman dijuluki gelar “Tubba’”. Bentuk pluralnya adalah “Tabâbi’ah”). Mereka yang mempertahankan pendapat ini adalah Al-Ashma’i dalam Târîkh al-‘Arab Qabl al-Islam (Sejarah Arab Sebelum Islam), Ibn Hisyam dalam buku sejarah terkenalnya yang bernama As-Sîrah, dan Abu Raihan Al-Biruni dalam kitabnya yang berjudul Al-Âtâr Al-Bâqiyah. Namun, wacana ini sering mengalami kerapuhan saat dihadapkan pada wacana tentang tanggul Ma’rib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, Alexander maupun Dzul Qarnain bukanlah permasalahan polemik sejarah. Alexander maupun Dzul Qarnain menurut saya adalah sosok yang memenuhi definisi Jendral Zilong (Jendral besar Cina kuno) tentang seorang lelaki. Zilong berkata : A man should have a big dream and great achievement.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5391585064022787597?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5391585064022787597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5391585064022787597&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5391585064022787597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5391585064022787597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/09/megas-alexandros-al-farisi.html' title='Megas Alexandros Al Farisi?'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-4650240084795522862</id><published>2008-09-13T06:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-13T06:31:02.080-07:00</updated><title type='text'>Karena, engkau bukan sekedar alegori</title><content type='html'>(1)&lt;br /&gt;Jika aku tak singgah, mungkin &lt;br /&gt;tak kan ada hari itu. Hatiku&lt;br /&gt;lelah maka dia memaksa singgah.&lt;br /&gt;Lelah menggembala hasrat berkelana.&lt;br /&gt;Mencari secupak madu dari kebun&lt;br /&gt;yang tak berpintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau menyibak kabut hari itu.  &lt;br /&gt;Dalam kepekatan duka yang bungkam.&lt;br /&gt;Merajut sunyi menjadi rangkaian do’a.&lt;br /&gt;Air mata yang menepi dari bening&lt;br /&gt;matamu, adalah embun.&lt;br /&gt;Suci dan bercahaya. Mengalur pipimu&lt;br /&gt;yang pualam, lalu singgah didagumu&lt;br /&gt;yang elok. Pada parasmu ada sketsa &lt;br /&gt;fajar yang asketik. Tanpa simfoni,&lt;br /&gt;hanya keheningan hati. Maka,&lt;br /&gt;kabut pun pergi dari wajahmu&lt;br /&gt;tanpa menunggu titah dari pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Waktu menjadi sublim. Tersekat &lt;br /&gt;dinding lembab yang terlalu tebal &lt;br /&gt;Bagi sepercik desir hati. Akhirnya desir&lt;br /&gt;itu pergi menyulut setanggi dengan &lt;br /&gt;jilatan api rindu yang terselubung.&lt;br /&gt;Untuk panjatkan asap ratap dipuncak &lt;br /&gt;malam gelap. Ketika bara tak menyala &lt;br /&gt;dan damar tak terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau disana. Ziarahi mendung kelabu.&lt;br /&gt;Kau tebarkan bunga dari jendela hatimu.&lt;br /&gt;Lalu kau usir debu dihalaman dengan&lt;br /&gt;rindumu yang gerimis. Agar nampak &lt;br /&gt;jelas warna gerbang putih  didepan&lt;br /&gt;pintu rumahmu. Dimana engkau tinggal&lt;br /&gt;dan taburkan pesonamu dalam tarian&lt;br /&gt;jiwa pemuja cinta. Sementara  pintu rumahmu&lt;br /&gt;tertutup rapat. Lindungi tarianmu dari &lt;br /&gt;hembusan angin yang bermata dan bertelinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Kemudian aku terus membuntutimu. Ziarahi&lt;br /&gt;jejak langkahmu yang mulai ditumbuhi bunga.&lt;br /&gt;Ku coba menggalinya. Berharap temukan &lt;br /&gt;benih-benih bunga. Supaya dapat ku tanam&lt;br /&gt;dijalanan rengkah tanah merah menuju rumah.&lt;br /&gt;Namun, hanya mata air ku temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau mulai mendaki gunung hijau nun&lt;br /&gt;jauh disana. Berbekal sekantung air mata.&lt;br /&gt;Lalu kenangan kau taburkan diatas &lt;br /&gt;bebatuan berlumut dimana kakimu berpijak.&lt;br /&gt;Karena, diamnya batu adalah do’a. Dan, lumut&lt;br /&gt;adalah metamorfosis dari kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;Kini, engkau meniti pelangi. Engkau ingin &lt;br /&gt;menari diatas gugusan awan putih. Sembari&lt;br /&gt;senandungkan rindumu yang menggebu. &lt;br /&gt;Kepada cinta karena cinta demi cinta.&lt;br /&gt;Dalam risalah kepasrahan.  Memahat prasasti&lt;br /&gt;kesejatian. Dan, engkau menjelma menjadi&lt;br /&gt;bidadari. Karena, engkau bukan sekedar&lt;br /&gt;alegori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku, meratapi diri. Di tepi&lt;br /&gt;lembah nestapa tempat bersemayamnya&lt;br /&gt;jiwa-jiwa berjelaga. Senandungkan &lt;br /&gt;kerinduan hampa dalam kebutaan jiwa.&lt;br /&gt;Mengutip ayat-ayat dusta dari risalah&lt;br /&gt;kesementaraan. Pahatkan prasasti &lt;br /&gt;kekhilafan. Dan, aku pun menjelma&lt;br /&gt;menjadi penjerat ilusi. Karena, aku &lt;br /&gt;memang sekedar pemimpi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-4650240084795522862?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/4650240084795522862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=4650240084795522862&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/4650240084795522862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/4650240084795522862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/09/karena-engkau-bukan-sekedar-alegori.html' title='Karena, engkau bukan sekedar alegori'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1492957837454808516</id><published>2008-09-05T21:58:00.001-07:00</published><updated>2008-09-05T21:58:32.630-07:00</updated><title type='text'>Perang Gaugamela, pentas Jendral Ulung</title><content type='html'>Ada sebuah scene dalam film Alexander, yang disutradarai oleh Oliver Stone, sangat saya sukai. Scene itu adalah sebuah pertempuran di padang Gaugamela. Terlepas dari karakter paradoks yang dilekatkan pada sosok Alexander sepanjang film, kekuatan dan kharisma Alexander sebagai panglima perang sungguh tak  terbantahkan. Motivator ulung, orator cakap, ahli strategi jitu serta petarung handal. Pada dirinya, semua kriteria pemenang perang ada dan menggelora. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur akurasi sejarah terdapat dalam scene perang Gaugamela ini. Perang ini terjadi pada tahun 331 SM. Setelah mengumpulkan beberapa referensi dan membandingkan dengan scene ini, nyatalah hanya orasi Alexander menjelang perang yang dapat dikatakan sebagai konstruksi imajinasi. Dan, berikut ini adalah kisah tentang perang tersebut berdasarkan referensi yang telah saya himpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Letak Gaugamela secara tak pasti belum teridentifikasi hingga kini. Opini para sejarawan terpecah dalam dua pendapat dominan. Sebagian mengatakan Gaugamela terletak dekat dengan Gunung Unta tak jauh dari Hebrew. Sisanya menyepakati bahwa Gaugamela di timur Mosul, Irak. Pemilihan Gaugamela merupakan strategi dari Darius Agung, Kaisar besar Persia, untuk mengambil keuntungan dari jumlah pasukannya yang superior. Luasnya Gaugamela bagi Darius merupakan arena yang tepat untuk bermanuver pasukannya menjepit pasukan Alexander. Jumlah pasukan Darius diperkirakan mencapai  100.000 orang. Terbagi dalam pasukan infanteri, kavaleri kuda dan unta, satuan pemanah, immortal, satuan kereta perang, satuan pasukan gajah (argumen ini sangat debatable mengingat banyak cerita yang menyebutkan bahwa salah satu alasan invasi Alexander ke India gagal karena keterkejutan mereka saat melawan pasukan gajah). Darius memimpin langsung pasukannya dari atas sebuah kereta perang ditengah pasukan. Kekuatan Alexander sendiri terdiri dari 40.000 orang gabungan Yunani dan Makedonia. Terdiri dari satuan tombak panjang (Phalanx), infanteri (Peltasts), kavaleri dan pemanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan kuantitas pasukan Darius tidak dibarengi dengan kualitas mumpuni. Kemungkinan hanya sekitar 10.000 infanteri dan 10.000 immortal Darius yang merupakan pasukan yang terlatih baik. Sementara keseluruhan pasukan Alexander adalah pasukan terlatih dan berpengalaman serta memiliki disiplin tinggi dalam menggelar formasi tempur. Pasukan ini dibentuk oleh ayah Alexander, Fillipus, raja Makedonia yang masyur. Fillipus sendiri telah lama terobsesi menaklukkan Persia sehingga jauh2 hari telah menyiapkan pasukan tangguh. Namun, obsesinya terhenti oleh sebuah pembunuhan misterius yang mengakhiri hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darius menempatkan kavalerinya dikedua sayap pasukan Persia. Satuan kereta perang yang ditemani sedikit infanteri menjadi ujung tombak dibarisan depan. Sementara Alexander menempatkan satuan Phalanx dipusat barisan sebagai tembok pertahanan menghadapi infanteri dan kereta perang Persia. Phalanx Alexander siap menyongsong serbuan Persia dalam barisan-barisan persegi yang rapat dan sejajar memanjang. Alexander memimpin sebagian besar kavaleri Makedonia disayap kanan bersama sebagian infanteri yang dilindungi satuan panah. Disayap kiri, salah satu jendral Alexander, Pharmenion, mengomandoi sebagian besar infanteri. Satuan panah ditempatkan dibelakang Phalanx. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat matahari mulai meninggi, genderang perang ditimpali sorak sorai kedua pasukan menyambut terompet komando menggema diseantero padang Gaugamela. Alaxander mengirimkan satuan Phlanxnya untuk menusuk langsung ke pusat pasukan Persia. Dalam sebuah barisan yang rapat terlindung oleh tombak sepanjang 3 meter, pasukan Makedonia bergerak menyongsong serbuan Persia. Darius mengirimkan infanteri, kavaleri dan kereta perangnya untuk menumpas Phalanx Makedonia. Sayap kiri Makedonia yang dikomandoi Pharmenion mengambil posisi defensif. Pharmenion harus menahan serbuan infanteri serta kavaleri kuda Persia yang menyerang dalam jumlah yang lebih besar. Pharmenion menahannya dalam formasi bertahan barisan infanteri yang dilindungi sedikit kavaleri dan panah. Sementara pasukan Persia menghantam Pharmenion dalam sebuah serangan sporadis dengan tujuan memecah formasi Pharmenion. Disayap kanan, Alexander menyongsong kavaleri Persia dalam jumlah besar. Diluar dugaan Darius, Alexander memimpin kavaleri Makedonia berbelok 45 derajat menghindari kavaleri Persia yang mengharapkan sebuah pertempuran face to face antar kedua satuan kavaleri. Ternyata, Alexander membawa satuan infanteri Makedonia yang bersenjatakan pedang dan sarissa (tombak sepanjang 6 meter). Pasukan infanteri ini dilindungi oleh satuan panah dibelakangnya. Kavaleri Persia terjebak dalam kepungan sarissa infanteri Makedonia dan menjadi bulan-bulanan panah lawan. Kavaleri Persia dalam jumlah besar tumpas sisayap kanan Makedonia. Sementara di pusat kedua pasukan, Phalanx Makedonia mati-matian mempertahankan formasinya. Serangan sporadis infanteri Persia dapat dengan mudah mereka tahan. Akan tetapi, hujan panah Persia dan hantaman cepat kereta perang Persia kerap kali menggoyahkan formasi tempur mereka. Berkali-kali serbuan kereta perang Persia menjatuhkan gugus depan Phalanx Makedonia. Kegigihan Phalanx Makedonia membawa hasil yang sepadan. Perlahan, satuan panah yang melindungi Phalanx mulai memberi pukulan yang berarti bagi kereta perang Persia. Hal ini juga disebabkan ketidaksabaran kereta perang Persia yang mulai langsung menerjang ke tengah formasi Phalanx yang rapat sehingga tombak panjang pasukan ini menjadi senjata yang mematikan bagi Persia. Kepulan debu yang membumbung di Gaugamela menyamarkan keberadaan Alexander. Dalam sebuah gerak cepat, kavaleri Makedonia yang dipimpin Alexander menumpas infanteri Persia yang dijumpainya dan bergerak tak tertahankan menuju ke jantung pertahanan Persia dimana Darius berada. Gerakan Alexander ini bertujuan untuk menciptakan gap antara pasukan induk Persia dengan pasukan Persia yang menerjang gelar perang Makedonia. Sayangnya, sebagian besar pasukan terlatih Persia ada dipusat pasukan dimana Darius berada. Terciptanya gap ini menyebabkan putusnya garis komando pasukan Persia sehingga pasukan Persia bertempur semakin sporadis menghadapi Makedonia yang bertempur dengan rapi sesuai senjata yang dimilikinya. Sehingga semakin lama keunggulan jumlah Persia menjadi tidak berarti karena tidak diperagakan dalam sebuah strategi tempur yang jitu. Dalam jumlah yang relaitf seimbang, kavaleri Makedonia yang dipimpin langsung oleh Alexander menghadapi infanteri dan sisa kavaleri Persia yang melindungi Darius. Pengawal Darius terdesak. Kavaleri Makedonia semakin beringas. Phalanx ditengah arena mulai menghabisi Persia. Pharmenion di sayap kiri kurang beruntung, formasi tempurnya bagaimanapun gigih dipertahankan, namun pasukan persia yang menyerbu bak air bah. Tak kunjung habis. Pharmenion mulai terdesak. Formasinya mulai pecah. Menjelang berakhirnya hari, Darius dan pasukannya dijantung pertahanan tak sanggup lagi membendung serbuan kavaleri Makedonia. Darius dan sisa pasukannya mengundurkan diri. Alaxander urung mengejarnya ketika menyadari sayap kiri Makedonia terncam tumpas oleh pasukan Persia. Dipimpin langsung oleh Alexander, pasukan Makedonia bergerak ke sayap kiri membantu Pharmenion. Sayap kiri Makedonia selamat. Sisa pasukan Persia menyerah karena rajanya telah meninggalkan arena. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang melatar belakangi kekalahan Darius. Hal ini tidak diungkap dalam film Alexander namun tak lupa dicatat dalam sejara. Perihal yang saya maksudadalah ketakutan Darius akan serangan malam Alexander. Ketakutan ini membuat ia menyiagakan pasukannya sepanjang malam sehingga pasukannya tidak fit pada saat pertempuran. Pasukan Persia yang kurang fit harus menghadapi pasukan Makedonia yang bertempur dengan semangat tinggi dan stamina yang penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan Persia dalam perang Gaugamela mengakibatkan Persia terpecah menjadi dua bagian, yakni barat dan timur. Persia timur yang berpusat di Babylon dikuasai oleh Alexander.  Sementara persia barat menjadi kawasan pelarian Darius.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1492957837454808516?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1492957837454808516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1492957837454808516&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1492957837454808516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1492957837454808516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/09/perang-gaugamela-pentas-jendral-ulung.html' title='Perang Gaugamela, pentas Jendral Ulung'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8667434582391157003</id><published>2008-09-05T21:56:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T21:57:24.955-07:00</updated><title type='text'>pulang</title><content type='html'>Duhai, penuju hatiku diujung kelemahanku&lt;br /&gt;Terimalah kembali aku kini&lt;br /&gt;Yang merangkak letih kepada-Mu &lt;br /&gt;Usai tertatih bangunkan jiwa yang tak lelah tetirah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, penuju sadarku diujung gulitaku&lt;br /&gt;inilah aku, yang selalu perih mengingat-Mu&lt;br /&gt;karena mengingat-Mu seiring teringatku&lt;br /&gt;pada keluputanku untuk selalu mengingat-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, penuju bisikku ditengah sunyi hatiku&lt;br /&gt;bungkamlah aku, bungkamlah risik hasrat keculasanku&lt;br /&gt;manakala kelu lidahku juga lena hatiku&lt;br /&gt;untuk lantunkan ayat-ayat keagungan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, penuju langkahku dalam sesat arahku&lt;br /&gt;butakanlah aku, gelapkan pandangku dari kesukaanku&lt;br /&gt;sebab akulah yang berpaling dari keindahan-Mu&lt;br /&gt;tiap kali kupuaskan pandangku pada kemana mataku menuju&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8667434582391157003?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8667434582391157003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8667434582391157003&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8667434582391157003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8667434582391157003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/09/pulang.html' title='pulang'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-332749085839018516</id><published>2008-08-24T05:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T05:57:34.709-07:00</updated><title type='text'>Perkara Pilih Memilih</title><content type='html'>Satu hal yang paling saya sukai dalam momen pilih memilih adalah adanya kuasa yang terlimpah untuk menilai. Kuasa yang diberikan kepada saya dengan status sebagai pemilih. Kebebasan itulah yang saya sukai. Saya bebas menilai sebelum memilih, lalu saya bebas mengikuti kata hati saya saat memilih. Saya bersyukur tidak mengalami apa yang dialami bapak saya dulu. Memilih baginya berarti menanggung 3 beban sekaligus, yaitu : memilih nomor 1 berarti bakal susah tiap ada urusan dikelurahan, memilih nomor 2 berarti bakal susah mendapat kepercayaan tetangga, memilih nomor 3 berarti bakal susah mendapat cap sebagai orang saleh. Pusing! Tapi kini, lihatlah! Bebas. Memilih kini berarti ya memilih saja. Hanya perkara nyoblos gambar saja. Ga perlu mengharap muluk-muluk, ga perlu menanti yang neko-neko. Coblos saja, mengenai masa depan ya tunggu saja tiap malam. Pasti datang dalam mimpi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai rakyat jelata yang jarang mendapatkan privelege, momen pilih memilih ini pun saya sambut dengan antusias. Abis ya kapan lagi, saya sebagai rakyat jelata dimanjakan kecuali pada momen ini. Saya benar-benar diperhatikan. Mendadak, banyak orang yang saya yakin banyak hartanya menyatakan akan memperjuangkan nasib saya. Pendidikan gratis,pengobatan gratis. Mereka tahu bahwa IQ saya jongkok dan dari lahir saya memang kurang gizi. Saya senang pada mereka. Sehingga saya langsung menilai mereka orang hebat. Dan, nantinya saya bisa dengan tenang mengikuti kata hati saya dalam memilih (yang saya terjemahkan menjadi boleh melakukan apa saja disaat memiliki kebebasan dalam bilik pemilihan). Tidak ada paksaan,tidak ada beban. Kapan lagi coba. Saya memiliki kedaulatan dalam menentukan. Di sawah, saya tak bisa menentukan harga keringat saya lewat harga gabah. Di sekolah, saya tak bisa mengambil hak pendidikan saya karena mengambilnya berarti harus rela berpuasa sepanjang tahun. Di puskemas, saya mendapatkan pelayanan yang layak karena memang begitulah jatah untuk kere. Ya sekarang inilah saya berdaulat. Meski sekedar mencoblos gambar. Setidaknya hal ini diikuti dengan sebuah  euforia. Ramai dan semarak. Euforia! Saatnya berubah! Semua bisa sejahtera! Semua bisa kaya! Semua bisa maju! Saya suka itu, optimis. Hidup saya jadi berimbang dibuatnya. Dirumah, saya selalu menonton yang menyedihkan dan suram di tipi. Setidaknya, diluar rumah kini saya mendapatkan muka-muka cerah dibaliho dengan kalimat-kalimat yang ssoptimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi. Pada momen pilih memilih inilah saya bisa mendapatkan banyak bahan untuk didongengkan pada emak saya. Mendongeng pada emak itu penting buat saya. Karena itulah satu-satunya cara untuk mengkonstruksi citra intelektualitas kepada emak saya. Dengan begitu, emak saya bisa berpromosi kepada teman-teman pengajiannya yang punya anak perawan. Emak saya bisa berkata seperti ini : itu lho, bujangku, biar kerjaannya angon kebo, tapi omongannya tentang demokrasi, visi dan misi, sosialisasi, transparansi. Aku jadi tambah yakin, bahwa foto anak kecil naik kebo sambil baca buku itu memang foto dia. Weleh, ga nyangka lho, anak kayak gitu punya prospek jadi model”.    &lt;br /&gt;Dari mas Iwan yang “orang partai” itu, saya banyak mendapatkan cerita tentang pesta demokrasi yang sebentar lagi terjadi. Sebuah prosesi yang punya posisi determinan terhadap kelangsungan masa depan suatu daerah. Karena, perahu pembangunan akan ditentukan siapa nahkodanya. Kelak, dialah yang akan membawa kapal itu melanglang buana atau karam diterjang badai. Oleh sebab itu penting sekali untuk berpartisipasi dengan mencoblos. Mencoblos nomor 14, kandidatnya mas Iwan. Dari abah Soleh, saya mendapat cerita bahwa inilah saatnya menyematkan amanat. Sebagai rakyat, kata abah, kita punya hak untuk mendapatkan kesejahteraan dan berkah dari Tuhan. Maka kita harus memiliki umaro yang amanah dan bertaqwa. Maka jangan tidak memilih no. 15, kandidat yang sering menyumbang untuk sekolah punya abah Soleh. Dari pakde Suromenggolo, saya mendapatkan cerita bahwa inilah saatnya mendukung saudara dan merintis masa depan bersama. Hanya saudara kitalah, kata pakde, yang paling memahami yang terbaik buat kita dan paling terpercaya untuk membawa kita pada kesejahteraan. Maka pilihlah no 16, bukan merek! Tapi penjamin masa depan kita, kata pakde sambil memilin kumisnya. Semua cerita itu ujung-ujungnya menyadarkan saya betapa tidak inteleknya saya. Semua cerita itu saya respon dengan pertanyaan bodoh dan terkesan tidak relevan : emang orang itu siapa si?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara pilih memilih ini pada akhirnya menjadi perkara kreativitas bagi saya. Spidol dan kartu bergambar, bukankah bisa menghasilkan gambar yang menarik nantinya. Sementara perkara masa depan menjadi tidak terlalu saya perhatikan. Sebab saya tengah tertatih saat ini, bagaimana mungkin saya mengulurkan tangan pada mereka yang berada diatas menara gading. Bukankah hanya angin saja yang mungkin tergapai tangan saya?  Saya terkenang akan sebuah kalimat yang terdengar keren bagi saya meski tanpa dibarengi kemampuan memahaminya, yakni : a king never been born, but created by their struggle. Dan, rakyat jelata seperti saya tak perlu menjadi gila usai perkara pilih memilih ini selesai. Toh, kami tak pernah menanamkan apa-apa jadi tak perlu mengharapkan apa-apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-332749085839018516?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/332749085839018516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=332749085839018516&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/332749085839018516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/332749085839018516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/perkara-pilih-memilih.html' title='Perkara Pilih Memilih'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1027016769725627021</id><published>2008-08-24T05:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T05:56:00.829-07:00</updated><title type='text'>Sengkalan, sebuah untaian makna</title><content type='html'>Sengkalan berasal dari kata “saka kala” (tahun saka) yang diberi imbuhan - an kemudian menjadi sengkalan. Karena tahun Caka/Syaka/Saka menggunakan garis edar Matahari sebagai refererensi, maka suka disebut surya sengkala. Kalau tahun Jawa atau tahun Hijriyah, maka suka disebut candrasengkala karena menggunakan garis edar Bulan sebagai referensi (candra atau Bulan). Sengkalan didefinisikan sebagai angka tahun yang dilambangkan dengan kalimat, gambar, atau ornamen tertentu. Bangsa barat menyebutnya sebagai kronogram. Mengapa untuk menyebut angka tahun digunakan kalimat ? Sebab, para leluhur kita memaksudkannya agar para generasi penerus mudah mengingat peristiwa yang telah terjadi pada tahun yang dimaksud. Jadi, sengkalan punya dua maksud : angka tahun, dan peristiwa apa yang terjadi tahun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sengkalan yang paling banyak dikenal di Indonesia adalah sengkalan SIRNA ILANG KERTANING BUMI yang menunjukkan waktu runtuhnya kerajaan Majapahit. Babad Tanah Jawi mencatat tahun keruntuhan Majapahit itu dalam suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” yaitu 1400 caka atau 1478 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sengkalan menggunakan kalimat sebagai angka, maka kata-kata tertentu punya “watak bilangan” atau “watak kata-kata” masing2. Berikut adalah aturannya (diterjemahkan dari bahasa Kawi atau Jawa).&lt;br /&gt;Angka 1 artinya benda yang jumlahnya hanya satu, benda yang berbentuk bulat, manusia. &lt;br /&gt;Angka 2 artinya benda yang jumlahnya ada dua, misalnya tangan, mata, telinga. &lt;br /&gt;Angka 3 artinya api atau benda berapi. &lt;br /&gt;Angka 4 artinya air dan kata-kata yang artinya “membuat”. &lt;br /&gt;Angka 5 artinya angin, raksasa, panah. &lt;br /&gt;Angka 6 artinya rasa, serangga, kata-kata yang artinya “bergerak”. &lt;br /&gt;Angka 7 artinya pendeta, gunung, kuda). &lt;br /&gt;Angka 8 artinya gajah, binatang melata, brahmana. &lt;br /&gt;Angka 9 artinya dewa, benda yang berlubang. &lt;br /&gt;Angka 0 artinya hilang, tinggi, langit, kata-kata yang artinya “tidak ada”. &lt;br /&gt;Aturan lainnya adalah bahwa sengkalan punya sandi, yaitu kata terakhir di kalimat sengkalan menjadi angka urutan pertama, sedangkan kata pertama di kalimat sengkalan menjadi angka urutan terakhir pada tahun sengkalan.Mari kita analisis “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. Bila dilihat watak kata-kata dan watak bilangannya, maka kata “sirna” artinya hilang dengan angka 0, “ilang atau hilang” angka 0, kata “kertaning/kerta ning” artinya dibuat atau pekerjaan membuat dengan  angka 4, kata “bumi/bhumi” atau bumi dengan angka 1. Analisis sengkalan ini harus didampingi buku2 kamus Jawa Kuno (Kawi) susunan Poerwadarminta, Wojowasito, atau Purwadi. Suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” sama dengan 0041, ingat aturan sandi sengkalan, maka tahun yang dimaksud dengan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” adalah 1400 Caka atau 1478 M. Sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” dimaksudkan pengarang Babad tanah Jawi untuk menggambarkan runtuhnya/hilangnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Caka atau 1478 M.&lt;br /&gt;Ada yang menarik di sini : “Kertaning Bumi” Kerta/Karta artinya dibuat/dijadikan. Misalnya : Jayakarta artinya dibuat jaya/berhasil, Yogyakarta artinya dibuat baik (seyogyanya atau sebaiknya). Maka, “kertaning Bumi” terbuka untuk ditafsirkan “dibuat (oleh) Bumi” atau “dibuat (di) Bumi”. Kata “ning” dalam bahasa Kawi bisa banyak punya arti sebagai kata depan atau kata pembuat kata kerja.&lt;br /&gt;Apakah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” bisa ditafsirkan “Hilang Musnah Dibuat Bumi” ? “Dibuat Bumi”, kita bisa menduganya : bencana dari Bumi. Kaitkan ke Babad Pararaton, bencana itu adalah Pagunung Anyar alias erupsi gununglumpur. Babad Pararaton, Kunci sandi Sengkalan, dan geologi Delta Brantas kini dan dulu cukup kuat menunjuk bahwa bencana alam adalah faktor penting yang harus ditelusuri dalam Sandhyakala ning Majapahit - Senja Kala di Majapahit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1027016769725627021?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1027016769725627021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1027016769725627021&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1027016769725627021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1027016769725627021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/sengkalan-sebuah-untaian-makna.html' title='Sengkalan, sebuah untaian makna'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-120417668677478420</id><published>2008-08-19T05:08:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T05:10:15.571-07:00</updated><title type='text'>Secangkir Capuccino ba’da subuh</title><content type='html'>Secangkir Capuccino ba’da subuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis turun mengiris kelengangan subuh hari ini. Mengetuk tingkap yang melapuk dengan duka yang berlumut. Duka purba dari kesunyian yang menghanyut. Dingin datang menyelusup bersama kabut. Sesaki kamar saya lalu mengendap disudut. Semua itu menjelma reminisensi pada elegi saya setiap pagi. Elegi akan kerinduan pada kesucian dalam puncaknya yang tertinggi yang tak jua menepi. Bangun saat subuh bukanlah suatu hal yang baru bagi saya. Namun, ada semacam kerinduan yang tak jua pernah tertuntaskan. Kerinduan pada nikmatnya menuntaskan kerinduan pada pujaan jiwa dan penuju sembah segenap manusia. Kerinduan pada Dzat Yang Maha Suci yang terruraikan pada luruh sujud rendahkan diri dengan ketulusan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh hanya terlewati dalam kesendirian sujud dua rakaat. Ada kelegaan meski tersisa kerinduan menetak dalam hati yang kian retak. Kemudian, secangkir kopi panas hampir selalu menemani saya menyambut pagi. Begitu pula pagi ini, secangkir Tora Bika Capuccino panas  telah tersaji dengan uapnya yang menari. Sungguh nikmat. Namun secangkir kopi ba’da subuh teramat berbeda dengan secangkir kopi menjelang senja. Secangkir kopi ba’da subuh tak pernah bosan melarutkan rasa dalam aliran tanya. Aliran yang tak bermuara pada sebuah jawaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capuccino bertaburkan granulle coklat itu mulai saya hirup. Perlahan. Hangat menjalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimkah saya?&lt;br /&gt;Saya terlahir dari keluarga muslim yang taat. Ajaran Islam telah dikenalkan dan dicontohkan kepada saya oleh kedua orang tua saya. Nilai-nilai moral yang bersandar pada ajaran Islam tertanam sebagai dogma yang mengakar dalam hati saya. Ancaman adzab neraka menjadi ketakutan yang cukup efektif mencegah saya melakukan keburukan yang besar. Janji keindahan surga menjadi motivasi yang menambah semangat saya untuk melaksanakan berbagai ritual keagamaan. Kultur yang lekat dengan Islam menjadi tempat dimana saya tumbuh sehingga saya terbiasa dengan kondisi yang meletakkan agama sebagai pondasi moral dan kepentingan bersama sebagai batasan toleransi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimkah saya?&lt;br /&gt;Saya baru menemukan makna syahadat menjelang masa akhir sekolah menengah atas. Sebelumnya saya cukup yakin akan identitas saya dengan mengingat frekuensi lafadz-lafadz do’a saya dan shalat yang saya tunaikan. Namun tidaklah itu semua berlandaskan pada pemahaman dan penghayatan yang mendalam. Semuanya munngkin saya lakukan karena faktor kebiasaan dan lingkungan. Waktu itu, saya selalu berusaha membuang jauh-jauh pertanyaan semacam : bagaimanakah jika saya terlahir bukan sebagai saya? Apakah saya akan tetap menjadi apa adanya saya seperti saat ini? Saya takut jika ternyata untuk menemukan jawabannya saya harus membongkar segala tatanan yangtelah mapan. Menemukan makna syahadat saat itu sama dengan menemukan kenyataan bahwa saya seperti tanah liat yang dibentuk oleh siapa yang menemukannya. Saya menyadari bahwa ada yang telah terlupa dalam perjalanan hidup saya sebagi manusia yang telah menyematkan identitas agama pada dirinya. Hal itu adalah sebuah kesadaran diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimkah saya?&lt;br /&gt;Keikhlasan dan kerinduan adalah dua hal yang dimiliki oleh seorang muslim dalam menjalankan ibadahnya. Saya adalah seseorang dengan kondisi kejiwaan yang rentan dengan metamorfosis. Sehingga beribadah seringkali sekedar menjadi perkara “melepaskan kewajiban” bagi saya. Beribadah juga menjadi satu hal yang sangat egois bagi saya. Frekuensinya berkaitan dengan kondisi kejiwaan saya dan motivasinya seringkali dilandasi dengan pamrih pribadi saya. Ibadah menjelma menjadi rekreasi spiritual bagi saya, bukan kebutuhan spiritual sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimkah saya?&lt;br /&gt;Sayyid Quthb pernah berkata : “. Risalah Muhammad SAW adalah revolusi yang membebaskan manusia secara total mencakup segala segi kehidupan dan menghancurkan segala berhala didalamnya”. Seorang muslim seharusnya berjiwa revolusioner semenjak dia mengikrarkan syahadat dengan sepenuh jiwa. Sebab Islam adalah akidah revolusioner yang aktif. Dengan arti, kalau ia menyentuh hati manusia lewat cara yang benar, maka dalam hati itupun akan terjadi suatu revolusi. Revolusi dalam konsepsi, revolusi dalam perasaan, revolusi dalam menjalani kehidupan yang berdasarkan persamaan mutlak antara seluruh umat manusia. Itulah Islam. Dan bukan itulah yang terjadi dalam diri saya. Masih banyak endapan nafsu dalam jiwa saya yang telah mengendap menjadi berhala. Saya bersikap pasif dalam mengaktualisasikan Islam dalam kehidupan saya. Dalam hal ini, saya memilah-milah dengan cara yang subjektif dan impulsif. Seringkali pula saya terlalu kompromis dengan segala pertentangan diluar diri saya sehingga secara tidak sadar saya telah meminimalisir potensi Islam bagi kehidupan saya sendiri. Islam belum membebaskan saya karena mental saya sendiri yang mungkin tidak ingin terbebaskan. &lt;br /&gt;Sayyid Quthb juga pernah berkata : “. Jadilah seorang Islam. Ini telah cukup untuk mendorongmu berjuang menentang penjajahan yang berani, mati-matian, penuh pengorbanan dan perlawanan. Kalau engkau tak dapat melakukannya, cobalah periksa hatimu. Barangkali engkau telah tertipu tentang hakikat imanmu”. Nalar saya masih terlalu dangkal untuk memetakan segala aliran teologis maupun ideologis yang mengakarkan dirinya pada Islam, untuk kemudian memposisikan diri saya dimana. Pada perkara ini saya masih menjelmakan diri sebagai seorang yang sekedar ingin tahu. Satu posisi yang sesungguhnya telah saya sadari keberadaan saya, yaitu posisi saya yang masih terjajah dengan nafsu duniawi dan ambisi pribadi yang masih bermotif praktis horizontal. Motif transenden yang seringkali saya niatkan menjadi terlalu eksklusif hanya pada segala perkara yang sifatnya personal. Iman kemudian menjadi nilai yang fleksibel terhadap kepentingan dan kekerdilan saya sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hanya tersisa bercak-bercak kecoklatan di dasar cangkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir Capuccino ba’da subuh. Secangkir kenikmatan yang menggantikan untaian kesyahduan dzikir. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-120417668677478420?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/120417668677478420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=120417668677478420&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/120417668677478420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/120417668677478420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/secangkir-capuccino-bada-subuh.html' title='Secangkir Capuccino ba’da subuh'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2170526599975148771</id><published>2008-08-19T05:06:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T05:07:05.943-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Resah</title><content type='html'>Kemanakah perginya pasrah&lt;br /&gt;Yang pernah hadir tuk buai resah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyendirikah ia bersama sajadah pasi?&lt;br /&gt;Mungkin. Tapi mengapa,&lt;br /&gt;Tak cukupkah sepi yang kini kupunyai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama musafirkah ia kini?&lt;br /&gt;Senandungkan ayat-ayat cinta ditengah lengangnya sahara&lt;br /&gt;Bukankah, ayat-ayat prasangka yang kini ku eja&lt;br /&gt;Tawarkan beraneka nada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu tak lagi ku punyai kini&lt;br /&gt;Meski kenangan buatku terjaga tiap pagi&lt;br /&gt;Dan resah yang tak lagi terbuai&lt;br /&gt;Kerap memuai ketika elegi kunjung menepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika memang ia ingin pergi,&lt;br /&gt;Biarlah.&lt;br /&gt;Sebab gelisah sesungguhnya&lt;br /&gt;Adalah wajah pasrah yang tak lagi perawan oleh kenyataan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2170526599975148771?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2170526599975148771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2170526599975148771&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2170526599975148771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2170526599975148771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/sketsa-resah.html' title='Sketsa Resah'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8882065297054132069</id><published>2008-08-14T10:15:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T10:16:30.748-07:00</updated><title type='text'>Sebuah pertanyaan untuk, pagi</title><content type='html'>Pagi ini embun perlahan pergi bersama kabut dalam sepi. Dedaunan mulai tegak berseri. Tiada embun yang menggelayuti, tiada kabut yang menyamarkan diri. Kini ia tegak dan seolah berkata : “.hey, lihatlah! Inilah aku, daun yang telah memberi warna hijau kemilau pada komposisi pagi”. Semakin berserilah daun menatap pagi, ketika nyanyian burung-burung rupanya ia rasa sebagai dendang puja untuk dirinya. Tak terkira besarnya rasa bangga yang dirasa daun akan dirinya yang tengah menebarkan pesona dalam rupa terindahnya. Sisa embun yang tersisa pada pucuk dirinya, tidaklah ia anggap sebagai wujud kebaikan embun yang rela meninggalkan sebagian diri sebelum pergi, sehingga cahaya mentari akan membuat kilau pada daun yang hijau. Daun hanya merasa bahwa itu adalah kebesaran dirinya yang sudi menyisakan sedikit tempat untuk bersinggahnya sepercik embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnyalah itu semua hanya khayal penuh prasangka dari kepala seorang rakyat jelata yang menatap pagi dari balik jendela kusam rumahnya. Rakyat jelata itu adalah seorang bujang merana yang belum lagi menemukan jalannya untuk melangkah dibelantara dunia. Secangkir kopi kental hitam ada menemani diujung meja kayu yang menjadi satu-satunya perabot kamar yang dimilikinya. Kopi telah menjadi media penghantar inspirasi baginya. Tidaklah heran, jika seorang kawan telah dibuatnya tertawa saat dia menyatakan bahwa kopi kini ibarat kekasih baginya. Mungkin racikan kopi yang dibuatnya pagi ini berlebih setengah sendok gula sehingga terlalu manis rasanya yang pada akhirnya membawanya pada sebuah khayalan nakal akan daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah terkejut dia rasakan disaat kemudian ada sebuah wajah putih bersih dan berkilau yang mendadak muncul dimuka jendela dimana dia mengedarkan pandangan. Wajah secantik bidadari yang penuh binar keceriaan itu sunggingkan secercah senyum indah untuknya. Hilanglah debar kejut dihatinya. Wajah bidadar itu adalah wajah yang telah menambah mozaik kebahagiaan dalam hidupnya semenjak 5 tahun yang lalu. Dia teringat, pada pertama kalinya wajah itu menatap dunia, segaris senyum tipis yang indah telah diunjukannya untuk menjawab senyum kebahagiaan banyak orang yang telah menunggu kelahirannya. Dengan gemas diacak-acaknya rambut bidadari kecil itu. Sang bidadari pun tertawa senang. Dia menari-nari kecil. Mungkin saat itu tengah terbang hatinya mengunjungi segenap istana awan yang dia bangun dengan imajinasi kanak-kanaknya. Andai bidadari kecil itu punya sayap, pastilah sebentar lagi sang ibu akan membuat gaduh seisi kampung karena kehilangan putrinya tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.o. jalan-jalan yuk”. Sang bidadari kecil mengajaknya pergi mengurai indahnya pagi selagi sunyi masih menyisakan sedikit kuasanya. Dihirupnya sedikit kopi yang masih tersisa dari cangkir putih kesayangannya. Buku Rumah Diatas Awan-nya Bagas Baskoro yang semalam menemaninya dan kini tergeletak diatas meja dia raih, dan diletakkannya kembali pada lemari buku dikamar belakang. Bergegas dia temui sang bidadari kecil yang telah menunggunya. Dilihatnya sang bidadari kecil tengah berlari-lari kecil mengejar seekor kupu-kupu kuning dihalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan sepi kampung halamannya pagi ini tetaplah seperti pagi-pagi sebelumnya. Kembali dia menemui wajah-wajah yang biasa dia temui saat mengurai keindahan pagi dalam langkah-langkah kecil tanpa lari. Sementara bidadari kecil pujaanya sesekali berlari kecil dan meloncat-loncat kegirangan dengan letupan-letupan imajinasinya sendiri. Sebuah kebiasaan yang mengingatkan dia pada masa kecilnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tikungan jalan yang akan ditujunya, muncul seseorang yang menghampiri sang bidadari kecil yang telah berada agak jauh didepannya. Dia bergegas menyusul bidadari kecilnya. Dia terpaku ditempatnya ketika melihat dari dekat bidadari kecilnya tengah asyik bercanda dengan orang itu. Dia lalu menyadari bahwa dia mengenal orang itu. Orang yang mengenakan jilbab berwarna biru muda dan sweater berwarna hitam adalah seorang gadis jelita yang pertama kali mencuri perhatiannya dengan caranya berbicara dan menyampaikan apa yang menjadi penuju minatnya. Gadis yang selalu memancarkan binar keanggunan lewat kedua mata beningnya. Gadis anggun itu menatapnya sebentar lalu gariskan senyum tipis yang mempesona pada bibirnya. Dia hanya bisa menggaruk kepala menyadari bahwa tiada cela dari senyum itu dan tiada daya yang dia punya untuk menyatakan keindahan senyum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Mari..”. gadis anggun itu berkata seraya menggandeng tangan sang bidadari kecil. Dia berjalan disamping gadis anggun itu. Sang bidadari kecil asyik bernyanyi riang. Dia menatapnya iri, andai dia bisa seperti bidadari kecilnya yang tanpa beban ungkapkan perasaan saat ini. Sejenak celoteh sang bidadari kecil menjadi suara yang dominan dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menatap jauh ke depan, gadis anggun itu bertanya “. Cukup indahkah pagi ini dimata seorang pemuja pesona?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Pagi adalah komposisi alami yang mementaskan pesona penuh inspirasi. Keindahan pagi terurai pada beningnya kilau embun, kabut tipis yang suguhkan kesejukan, dedaunan hijau yang tampilkan keceriaan dan kicau burung yang dendangkan harapan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Sudahkah pagi ini hadirkan inspirasi dalam imajimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Baru saja. inspirasi itu hadir ketika embun pagi perlahan pergi, bersama kabut yang menjelang datangnya seseorang dari tikungan jalan yang baru saja terlewati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Seperti apakah inspirasi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Inspirasi yang indah karena hadir dalam rupa yang tiada cela”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Masih seperti yang dulu” gadis anggun itu menggumam lalu menatapnya sembari tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia turut tersenyum pula, tanpa tahu kenapa. Dia hanya merasa senyum gadis anggun itu bisa dia artikan ke dalam dua makna. Pujian dan celaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Masih dinas ditempat yang dulu?” dia mencoba membuka tema yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Iyah, gak apa-apalah jauh. Lagi pula disitulah pengabdian yang sesungguhnya lebih diperlukan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Salut, penuh dedikasi pada profesi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Semoga juga pada kemanusiaan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Memang ada mereka yang benar-benar melakukan sesuatu yang berguna, dan ada pula mereka yang hanya berfikir bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan. Kita tahu posisi kita masing-masing dimana”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Just turn your passion into action” gadis anggun itu tersenyum, memberikan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Andai semudah itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Memang semudah itu. Hanya butuh sebuah kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan daripada hanya memikirkan ketakutan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Lalu bagaimana keyakinan akan muncul jika rasa takut itu tak pergi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Keyakinan itu tidak berhenti pada satu pijakan saja. Justru keyakinan itu terus berjalan. Hari ini kita yakin untuk berjalan karena kita tahu bahwa duduk hanya membawa kekosongan, dan esok kita yakin untuk berjalan karena kita tahu bahwa ada yang harus kita raih didepan. Pijakan yang berbeda namun tetap membuat kita berjalan bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya menjawab dengan senyum dikulum.&lt;br /&gt;Gadis itu berhenti sejenak untuk memetik setangkai melati yang tumbuh menjulur dari sebuah pagar. Melati itu diselipkan dibalik telinga sang bidadari kecil sehingga bertambah menawanlah paras bidadari kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Tidak ada niat untuk pindah dinas?” dia kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Sejauh ini belum, toh, lebih banyak orang yang merindukanku disana. Daripada disini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Ada yang merindukanmu disini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Terkadang, kerinduan yang menggemakan hanya satu nama dalam jiwa adalah kerinduan yang mampu mengubah pendirian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Ah..Masih kau ingat percakapan sore itu rupanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis anggun itu hanya tersenyum. Lalu berkata :&lt;br /&gt;“. Tentu saja. Dan masih tersisa sebuah tanya, tentang keindahan yang ada diantara pesona kemilau pagi dan pendar merona senja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Hmm….” Dia tak punya kemampuan untuk menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Mungkin pendar merona senja memang lebih indah. Padanya ada pendar keemasan matahari yang meratapi usia. Padanya ada lukisan cakarawala merona dimana jiwa-jiwa yang gundah bisa melepaskan resah. Dan, memanglah senja selalu menjadi sonata kerinduan bagi segenap rasa yang merindukan ketenangan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dan pagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Mungkin pagi hanyalah pendar kemilau pengusir mimpi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba mengartikan tatapan gadis anggun itu yang tak jua henti diiringi sunggingkan senyum. Sulit. Kesempurnaan pesona yang mampu menutupi segenap rasa dalam jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. O, ke tempat bude” sang bidadari kecil meraih tangannya dan mengajaknya menyinggahi rumah bude mereka yang kini ada dihadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Bentar ya?”&lt;br /&gt;Gadis anggun itu mengangguk,lalu mengusap dengan lembut kepala bidadari kecil. Dia lalu menggandeng tangan bidadari kecilnya yang asyik melambaikan tangan pada gadis anggun itu. Mereka menghilang dibalik pagar putih yang mengitari sebuah rumah berdinding hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dia telah keluar dari pagar putih itu. Sang gadis anggun melangkahkan kaki perlahan. Segera dia menjajari langkah gadis anggun itu. Lazuardi kini mulai unjuk diri. Cahaya lembut mentari telah menari diatas jalanan lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Setiap hal pastilah memiliki pesonanya sendiri” dia melanjutkan percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Memang benar. Dan tetap saja ada salah satunya yang memiliki pesona lebih berkilau dari yang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Namun, seringkali ada pesona tersembunyi yang sesungguhnya teramat berharga nilainya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.  Pesona yang seringkali terlambat untuk dikenali bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kembali terdiam oleh ucapan gadis anggun itu. Dia merasa selalu dirinyalah yang menjadi muara semua tanya gadis anggun itu. Tanya yang telah lama ada dan tetap tanpa jawab menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Rasanya belum ku temukan nama Sastro Prawiro dalam salah satu surat kabar dihari Minggu. Kemana semua karya tulisnya?” Gadis anggun itu kini memulai tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dia hanya menghasilkan karya picisan. Tentu tak layak jika karyanya dipublikasikan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dia tak menghasilkan karya picisan, karena dia punya sebuah tujuan dalam  karyanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Tujuan yang terus saja mengawang-awang, dan belum juga lepas dari kungkungan khayal dalam kepala”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Tidak, aku yakin pada tujuan itu karena berasal dari hati, bukan kepala. Kepala selayaknya menjadi instrumen kreatif pelaksananya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Yakinkah engkau pada hatinya, hati yang sama yang tak pernah mampu menjawab pertanyaanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Aku yakin dengan hatinya sebagai sastro prawiro, tapi entahlah dengan hatinya sebagai seorang lelaki”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Salahkah lelaki memuja pesona wanita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Keindahan selalu berhak untuk mendapatkan pujaan. Tapi bukankah tidak semua keindahan itu adalah benda mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.  Dan bukankah tidak semua pujaan itu menyatakan sebenarnya perasaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Masih belum kau pahami rupanya. Perasaan itu sangat manja dengan yang namanya pengertian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dan sangat mengharapkan kesetiaan bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Benar. Dan apakah kesetiaan itu bagimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Kerelaan dan kekuatan untuk menjaga sesuatu yang berharga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Apakah yang paling berharga bagimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Kehidupan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dengan apakah kehidupan ada dan hidup?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Cinta, akal, hasrat dan nafsu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Cinta memurnikan segalanya. Akal menunjukkan segalanya. Hasrat menaklukkan segalanya. Dan, nafsu membutakan segalanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dan kesetiaan hanyalah pengikut yang ada dibelakang semua itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Benar. Lalu ada dimana kesetiaanmu kini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Hmm.. baiklah, sejujurnya, kesetiaanku berada dibelakang hasrat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Lalu kau harapkan cinta dengan kesetiaanmu itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Entahlah…seringkali kumerasa, pemaknaanku bahwa cinta adalah inspirasi hanya membawaku menepuk permukaan cinta saja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Itu karena cinta bukanlah perkara pemberian makna, tapi kerelaan untuk meresapi makna”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Kerelaan tak akan hadir tanpa kesadaran”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Akankah kesadaran hadir pada rasa dahaga yang tak juga terpuaskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Dahaga hanya ada pada mereka yang jelas telah mengerti apa yang dibutuhkannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Lalu kau akan berkata bahwa semuanya hanyalah sebuah proses pendewasaan psikologis belaka. Pernahkah kau rasakan harapan yang berujung pada kehampaan belaka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Hanya ungkapan jiwa yang layak ditaburi harapan. Sementara ungkapan rasa biarlah menjadi kesenangan saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Apakah kau kira semua perasan peka untuk membedakan keduanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Entahlah. Bagiku perasaan itu ya ibarat pagi inilah. Memiliki lazuardi untuk dilukisi imaji. Meresapkan keindahan lewat kabut yang menyelimuti. Menggulirkan kesedihan pada embun yang menggelayuti. Serta menebarkan harapan ketika matahari mulai meninggi. Maka dari itu, biarlah perasaan itu dipentaskan dalam terang, seperti pagi ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“. Baiklah. Tapi yakinlah, Kan tiba saatnya engkau harus mengajukan pertanyaan pada pagi, sudikah dia meruangkan lazuardinya untuk dilukisi dengan apa yang ada dalam hati dan pikiranmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis anggun itu kembali tersenyum. Sangat anggun dan menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To you : future remain a secret even when spoken. Maybe destiny is the answer. .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8882065297054132069?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8882065297054132069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8882065297054132069&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8882065297054132069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8882065297054132069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/sebuah-pertanyaan-untuk-pagi.html' title='Sebuah pertanyaan untuk, pagi'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-6107612307280644015</id><published>2008-08-10T21:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-10T21:54:45.804-07:00</updated><title type='text'>Liga Batanghari 2008</title><content type='html'>Penantian masyarakat Batanghari akan sebuah pegelaran sepakbola akbar kini usai sudah. Liga Batanghari 2008 putaran dua telah resmi dimulai sejak hari Minggu 3 Agustus 2008 yang lalu. Liga Batanghari merupakan liga yang lahir dari kompetisi sepakbola rutin tengah tahun di Batanghari yang dikenal luas oleh publik Lampung Timur dengan nama pertandingan 17-an. Kompetisi ini memang ditujukan untuk memeriahkan HUT RI setiap tahunnya. Kemudian atas desakan bola mania disegenap penjuru Batanghari akan perlunya sebuah kompetisi rutin untuk menampung dan mengembangkan talenta-talenta pesepakbola Batanghari, maka disiapkanlah sebuah Liga yang digelar secara rutin sebanyak dua kali dalam setahun. Akhirnya wacana itu terealisir tahun ini. Liga Batanghari digelar dua kali dalam setahun. Diawal tahun, Liga diadakan dengan tuan rumah bergilir. Salah satu desa menjadi tuan rumah. Sedangkan dipertengahan tahun, bertepatan dengan perayaan HUT RI. Liga digelar dengan tuan rumah tetap yakni kecamatan Batanghari dengan venue lapangan Merdeka Batanghari yang berkapasitas 10.000 penonton lesehan dan nangkring diatas pohon akasia yang mengelilingi lapangan.  Pertandingan pembuka Liga kali ini mempertemukan kesebelasan PS Sumberejo melawan Balekencono FC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 10 Agustus 2008, cuaca cerah mencapai suhu 25 derajat celcius, angin berhembus lembut. 15 menit menjelang kick off big match Liga Batanghari, lapangan Merdeka telah dipenuhi suporter kedua tim dan juga penonton lain. Pertandingan kali ini menjanjikan sebuah suguhan sepakbola dengan dua gaya yang berbeda. PS Sumberejo adalah tim yang dikenal sebagai Spanyol-nya Batanghari. Tim ini mengandalkan permainan bola-bola pendek yang cepat  dari kaki ke kaki antar pemainnya. Kemiripan gaya antara tim Spanyol dengan PS Sumberejo menyebabkan David Villa seringkali disebut sebagai Yulis-nya Spanyol. Yulis adalah striker lincah andalan PS Sumberejo. Sementara Balekencono FC adalah tim yang seringkali disebut sebagai prototipe-nya Italia. Duet bek tengah Sungkono dengan Iwan menjelma menjadi tembok kokoh sekaligus aktor sentral dari permainan Catenaccio yang dipentaskan tim ini. Duet ini mengingatkan ketangguhan duet Alessandro Nesta dengan Cannavaro pada Piala Dunia 2006 Jerman. Perbedaan mereka hanya terletak pada kegemaran mereka dalam mengisi jeda antar kompetisi. Jika Nesta dan Canna memilih untuk berlibur di Karibia, maka Kono dan Iwan memilih untuk bersikap lebih proletar lewat aktivitasnya menanam padi. Seluruh penonton yang hadir sore itu dengan antusias menantikan duel antara agresifitas ala matador Spanyol melawan kelugasan pertahanan gerendel ala legiun Romawi yang sering ditampilkan Italia. Peluang kedua tim untuk memenangkan pertandingan sama besar sehingga hasil akhir pertandingan akan ditentukan oleh determinasi dan konsistensi permainan dari salah satu tim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS Sumberejo memasuki lapangan dengan kostum kuning kebanggaan mereka. Yulis memimpin skuad yang didominasi pemain muda ini dengan ban kapten biru dilengan kanannya. Tak lama berselang Balekencono FC memasuki lapangan dengan kostum putih kebesaran mereka  dipimpin sang stopper andalan, Iwan. Suporter kedua tim menyambut kehadiran tim pujaan mereka dengan gemuruh tepuk tangan yang membahana. PS Sumberejo turun full team sementara Balekencono FC turun minus gelandang bertahan andalan mereka, Andi “ Rhino” Pamungkas akibat cidera engkel saat turun membela Batanghari XI melawan Sekampung selection pada pertandingan amal pekan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kick off dimulai oleh PS Sumberejo. Selama 15 menit awal babak pertama nyata sekali dominasi PS Sumberejo pada pertandingan kali ini. Para pemain PS Sumberejo dengan penuh percaya diri  menampilkan permainan short pass yang menjadi ciri khas tim ini. Gelandang mungil berusia 20 tahun, Dodi, menjadi katalisator permainan PS Sumberejo. Stamina prima dan visi permainan yang efektif dari gelandang penyandang nomor keramat 10 ini dengan lancar mengalirkan bola kepada duet penyerang lincah mereka, Yulis dan Yoga. Namun alur deras serangan PS Sumberejo belum membuat kiper Balekencono FC, Rudi, harus bekerja keras mengamankan gawangnya. Serangan PS Sumberejo sering kandas dihadang kuartet tangguh yang menjaga daerah pertahanan Balekencono FC. Permainan semakin berimbang hingga menjelang turun minum. Serangan rapat dan cepat dari PS Sumberejo mampu dibalas dengan counter attack yang cepat dan rapi dari Balekencono FC yang sering dimulai dari long pass yang dilepaskan center back mereka, Sungkono. Duel seru terjadi di lini tengah permainan. Kuartet gelandang PS Sumberejo yang tampil dengan elegan harus berjibaku menghadapi kuartet gelandang Balekencono FC yang tampil trengginas dengan ditopang seorang full defensive midfielder, yaitu Roni yang menggantikan peran Andi Pamungkas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat injury time babak pertama, Dodi, berhasil merebut bola dari kaki Roni yang tengah mengontrol bola ditengah lapangan. Dodi langsung melepas long pass ke sisi kanan pertahanan Balekencono FC dimana winger PS Sumberejo, Ardi, lepas dari kawalan full back balekencono, Trianto. Ardi mendrible bola menyusuri sisi kanan pertahanan Balekencono FC, kemudian saat memasuki kotak penalti lawan Ardi melepas crossing kencang menuju tiang jauh. Bola melewati hadangan Sungkono dan meluncur dengan deras menuju Yulis. Bola disambar dengan overhead kick oleh Yulis. Bola meluncur ke gawang Rudi. Namun Rudi berhasil menepisnya dalam sebuah pertunjukkan reflek yang mengagumkan. Bola rebound dari tendangan Yulis kembali disambar oleh Yoga yang berhasil melepaskan diri dari kawalan Iwan. Kali ini Rudi tak berdaya, bola diluar jangkauannya dan menembus rusuk kiri gawangnya dengan deras. Goooolll….!!!! PS Sumberejo memimpin 1-0 lewat gol Yoga pada menit ke-46 babak pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak kedua, Balekencono FC mulai mengambil inisiatif serangan. Tim ini mencoba untuk tampil lebih ofensif. Hadi yang berperan sebagai holding midfielder yang lebih sering turun membantu kuartet pertahanan Balekencono digantikan oleh Yatno yang berposisi sebagai Central Midfielder dengan permainannya lebih ofensif. Eman yang tetap dipercaya sebagai ujung tombak Balekencono meski belum dapat berbuat banyak selama babak pertama. Pergantian pemain yang dilakukan Balekencono terbukti efektif. Serangan Balekencono menjadi lebih gencar. Kuartet gelandang PS Sumberejo mulai kewalahan menahan serangan lawannya. Beberapa kali peluang didapatkan Balekencono melalui free kick Rahmat dan tusukan-tusukan Eman. Pada menit ke 60, pelatih PS Sumberejo mengambil keputusan yang mengejutkan. Dodi sang otak serangan ditarik keluar digantikan oleh Eko. Playmaker diganti dengan defensive midfielder. Tampaknya kemenangan tipis sudah cukup memuaskan pelatih PS Sumberejo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS Sumberejo menurunkan tensi permainannya. Mereka mengurangi agresifitas dan bermain lebih sabar. Menit ke 70 Balekencono FC kembali melakukan pergantiab pemain. Edi gelandang tengah mereka digantikan oleh Arman, seorang striker bernomor punggung 9. Striker oprtunis yang selalu tampil trengginas dikotak penalti lawan. Balekencono meninggalkan gaya catenaccio yang mereka tampilkan sejak menit pertama. Mereka bermain lebih ofensif dengan memanfaatkan lebar lapangan. Postur jangkung Arman menjadi target bola-bola crossing mereka. PS Sumberejo mulai kewalahan.  Beberapa kali tembakan dari lapangan tengah dan sudulan dari Arman membuat kiper PS Sumberejo, Dayat, harus berjibaku menyelamatkan gawangnya. Pergantian terakhir Balekencono dilakukan pada menitke 75. Full back kiri Balekencono, Wiwit, keluar digantikan seorang wing back yang agresif, Agus. Lebar lapangan permainan kini benar-benar dioptimalkan oleh Balekencono untuk melakukan serangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada menit ke 80, pelatih PS Sumberejo kembali melakukan pergantian pemain yang mengejutkan. Yulis, Sang kapten sekaligus striker andalan mereka diganti dengan seorang penyerang lubang yang sangat kondang kemampuannya dalam mengolah bola yaitu Yudi.  Kemudian, Ardi, pemain sayap yang cepat dan lincah diganti dengan seorang holding midfileder yang kondang dengan kemampuannya dalam mengeksekusi bola-bola mati, yaitu Indra. Yudi kini menjadi poros permainan PS Sumberejo. Bola-bola selalu bermuara dikakinya untuk selanjutnya dibawanya menuju kotak penalti Balekencono dalam beberapa aksi solo run yang mengagumkan. Aksi gemilang Yudi untuk sementara mampu mengurangi agresifitas serangan Balekencono FC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan taktik pelatih PS Sumberejo terbukti sukses pada menit ke 89. Dalam sebuah solo run dari lapangan tengah, Yudi berhasil melewati 3 pemain lawan yang menghadangnya. Aksi ini membuka ruang bagi Yudi untuk melepaskan tembakan langsung ke gawang atau melepas umpan terobosan bagi Yoga yang berdiri tidak terkawal. Belum sempat Yudi melakukan salah satu dari dua peluang itu, sebuah tackle keras dari Kono memaksa Yudi harus mencium rumput hijau lapangan Merdeka. Yudi jatuh, free kick untuk PS Sumberejo.  Jarak bola ke gawang mencapai 20 meter. Indra berdiri tenang menghadapi bola. Yoga berdiri dipinggir pagar hidup yang dibentuk pemain Balekencono. Seluruh pemain Balekencono turun mengamankan gawang. Peluit berbunyi nyaring, Indra menendang bola dengan sekuat tenaga. Bola meluncur deras, Yoga melompat ke samping menghindari bola.Rudi dengan sekuat tenaga berusaha menjangkau bola yang menuju rusuk kanan gawangnya bak meteor. Laju bola tak tertahan. Rusuk kanan gawang Rudi robek oleh tendangan bebas Indra. PS Sumberejo unggul 2-0. lapangan Merdeka kembali guncang oleh teriakan suporter PS Sumberejo. Pemain-pemain PS Sumberejo bersorak sorai merayakan gol Indra sementara pemain-pemain Balekencono terpana tak percaya bahwa gawangnya kembali bobol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa waktu pertandingan tidak merubah kedudukan. PS Sumberejo tetap unggul dua gol tanpa balas sampai wasit meniup peluit panjang untuk mengakhiri pertandingan. PS Sumberejo berhasil meraih poin penuh pada pertandingan pertamanya. Striker PS Sumberejo, Yoga, terpilih sebagai man of the match berkat satu golnya dan aksi impresifnya selama pertandingan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-6107612307280644015?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/6107612307280644015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=6107612307280644015&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6107612307280644015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/6107612307280644015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/liga-batanghari-2008.html' title='Liga Batanghari 2008'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-425437900733575312</id><published>2008-08-07T19:58:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T19:59:10.327-07:00</updated><title type='text'>Sebuah catatan pada suatu pagi</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pagi yang megah. Lazuardi begitu cerah. Burung-burung berkicau riang tanpa gundah. Merupakan sebuah berkah menemukan pagi yang begitu indah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Secangkir Good Day Carribean Nut menghanyutkan saya dalam aliran kehangatan yang penuh ketenangan. Terduduk saya dimuka jendela kamar saya. Tatapan saya menerawang berkelindan dengan pikiran saya yang tengah melayang. Suara merdu Anggun C. Sasmi yang melantunkan lagu Bayang-Bayang Ilusi merasuki pikiran saya lalu meninggalkan sebuah pertanyaan untuk direnungkan. Pertanyaan itu tertinggal dalam sepenggal syairnya : &lt;i style=""&gt;haruskah ku hidup dalam angan-angan? Merengkuh ribuan impian. Haruskah ku lari dan terus berlari? Mengejar bayang-bayang ilusi….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Syair itu kemudian saya tafsirkan menjadi sebuah pertanyaan untuk diri saya sendiri. Antara ilusi dan mimpi, dimanakah diri saya menepi? Banyak hal-hal besar yang bermula dari mimpi. Mimpi merupakan sebuah keinginan yang tervisualisasi dengan jelas dalam benak kita dan menjelma menjadi kekuatan motivasi yang dahsyat. Kemauan dan tekad berakar darinya. Keduanya adalah energi jiwa yang memberi kekuatan bekerja dan mencipta. Mimpi juga punya garis batas rasionalitas, struktur dan susunan yang solid, terbangun dari proses perenungan yang panjang dan mendalam, terbentuk melalui pengalaman hidup yangterhayati dalam jiwa dan terolah dalam fikiran. Ketika faktor-faktor ini telah mengakar dengan kuat pada kepribadian, maka mimpi akan tervisualisasi dengan jelas. Seperti maket bangunan bagi seorang insinyur. Begitu besarnya arti sebuah mimpi dan begitu pentingnya memiliki sebuah mimpi. Namun garis batas antara mimpi dan ilusi terasa begitu nisbi bagi saya. Ilusi tidak berbasis rasionalitas, struktur dan susunannya tidak solid, lahir dari sikap melankolik, sering merupakan sebentuk pelarian dari dunia nyata. Sering juga merupakan cara menghibur diri dari kegagalan hidup. Ilusi seringkali tak lebih dari “mimpi bangun”. Sepenuhnya saya menyadari apa adanya mimpi dan apa adanya ilusi serta perbedaan antara mimpi dan ilusi. Mimpi bersifat realistis tapi angan-angan tidak terbangun dari realitas. Mimpi adalah langkah awal membangun realitas tapi angan-angan adalah cara memanipulasi realitas. Namun sayangnya terlalu besarlah kompromi saya terhadap kemanjaan diri. Sehingga apa yang ada dalam fikiran saya seringkali mengawang-awang yang indah ditatap namun susah diraih. Apakah itu refleksi mimpi atau hanya sekedar lukisan ilusi? Saya pun merasa ragu menjawabnya karena saya terlalu nikmat menatapnya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-425437900733575312?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/425437900733575312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=425437900733575312&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/425437900733575312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/425437900733575312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/sebuah-catatan-pada-suatu-pagi.html' title='Sebuah catatan pada suatu pagi'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8789728018244309274</id><published>2008-08-07T19:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T19:55:08.083-07:00</updated><title type='text'>Muda Mudi Batanghari</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Selama menunggu kick off &lt;i style=""&gt;big match &lt;/i&gt;pembuka Liga Batanghari 2008, banyak hal-hal yang “unik” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang saya dapatkan. Dalam kenangan saya, menonton pertandingan sepakbola dilapangan Merdeka Batanghari ibarat menonton sebuah euforia masyarakat bawah dalam usahanya untuk sejenak mengambil nafas diantara beratnya terpaan permasalahan hidup sehari-hari yang selalu berkutat pada : pentingnya menjaga dapur yang mengepul, uang sekolah anak, uang listrik, uang pupuk dan pakaian baru menjelang hari Raya. Maka tumpah ruahlah masyarakat dilapangan. Suguhan permainan sepakbola dan voli yang tidak atraktif menjadi terlupakan dengan betapa menyenangkannya dapat berteriak dan bersorak sorai sekuatnya. Sebuah pelepasan emosi yang tertahan dengan sadar. Tapi kenangan itu memudar kini. Apa yang saya temui kini bukanlah sebuah repetisi dari apa yang pernah saya temui dulu, semasa saya remaja. Betapa cepatnya waktu membawa perubahan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertandingan sepakbola bukan lagi muara euforia masyarakat Batanghari. Mungkin semakin menumpuknya beban hidup membuat orang-orang yang telah berkeluarga enggan untuk sekedar melegakan perasaan dengan berteriak dipinggir lapangan. Lapangan kini diramaikan oleh ramaja-remaja Batanghari. Sehingga pertandingan sepakbola kali ini menjadi wahana mereka untuk berekspresi. Mereka merasa bebas dan senang diruang publik seperti ini. Mereka menganggap bahwa mereka punya kedaulatan disini, lepas dari konstruksi kultural dan moral yang selama ini mereka anggap sebagai penetrasi nilai dari “orang tua” yang kolot. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya menonton bersama dengan sahabat kecil saya yang kini telah berprofesi sebagai guru SMU. Geli perasaan saya melihat sahabat saya ini tak ubahnya seorang artis. Disetiap penjuru lapangan kami bertemu dengan murid-murid sahabat saya ini. Mereka mengelompok dengan &lt;i style=""&gt;gank&lt;/i&gt;­-nya masing-masing. &lt;st1:city st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:City&gt; berpakaian mereka tak ubahnya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; para boneka marrionette (baca : artis) yang sering tampil dalam sinetron-sinetron maupun acara-acara di televisi yang berlabel remaja. Sungguh kontras jika saya bandingkan dengan remaja-remaja yang tumbuh bersama saya dulu. Terlepas dari perspektif feminis, pada masa saya dulu ruang publik seperti lapangan adalah ruang publik yang sangat didominasi oleh lelaki. Sementara remaja-remaja putri yang saya kenal dulu kebanyakan memilih untuk menjadikan rumah sebagai ruang ekspresi mereka. Mungkin terkesan sempit dan meminimalisir potensi diri, namun mereka ini memiliki kelebihan dalam hal menjaga nilai moral dan mengidentifikasi dirinya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Remaja yang saya temui adalah remaja yang ekspresif namun tanpa dilandasi dengan sebuah proses pengidentifikasian diri yang berasal dari pemahaman yang kuat akan akar budaya mereka sendiri. Mereka menujukkan sebuah ekspresi latah yang massif. Kiblat percontohan mereka pun dipilih tanpa melalui seleksi atas kualifikasi yang rasional. Apa yang mereka jadikan kiblat adalah apa yang tengah menjadi bahan perbincangan dan apa yang tengah marak menjadi tontonan. Maka dari itu, tak jarang terdengar kalimat legendaris Cinta Laura : &lt;i style=""&gt;betchek..nggak ada otjheek&lt;/i&gt;.. disela-sela perbincangan mereka tentang &lt;i style=""&gt;list shopping&lt;/i&gt; mereka kelak usai orang tuanya panen padi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya cenderung geli dan miris ketika dengan terbuka beberapa siswi sahabat saya berkata : “.pak, kenalin si tu temennya sama kita-kita”. Sahabat saya larut dalam candaan sementara saya mencoba menampilkan apa yang selama ini selalu gagal saya tampilkan, yakni kesan ketampanan aristokrat. Saya hanya berujar pada mereka :” .oalah dek, emang mata anak-anak jaman sekarang bening semua, tau aja ada barang berkelas”. Mereka tertawa genit dan sahabat saya nyemprot : “&lt;i style=""&gt;lambemu, ora isin!&lt;/i&gt;”. Selanjutnya kami juga bertemu dengan siswa-siswa sahabat saya. Penampilan mereka menunjukkan adanya dualisme aliran &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mereka anut. Sebagian mereka bergaya rambut cepak dengan sedikit kuncungan ke atas dibagian tengah (maaf, referensi saya atas &lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt; rambut sangat terbatas, yang saya tahu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; rambut vokalis Nidji itu keren abis aja). Sebagian lagi bergaya rambut yang pada jaman saya disebut POLEM (poni lempar) dan mengingatkan saya pada penampilan sekelompok pemuda yang kerapkali menjadi mimpi buruk saya yakni : Kangen band. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Penampilan mereka ini sungguh “aktual” dan modis. Apa yang mereka bicarakan pun tak ubahnya apa yang dibicarakan para remaja ibukota. Tentang ng-date, tentang hits baru band pujaan, tentang film terbaru Cinta Laura, dan tentunya perkara kemungkinan Cristiano Ronaldo pindah ke &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Madrid&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;. Cuma satu hal yang membedakan mereka dengan remaja ibukota, yaitu makian. Mereka lebih memakai makian yang orisinil, bukan kata “Shit” yang mereka pakai, melainkan (maaf) “duancok”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saat kick off pertandingan telah berlalu, semilir angin membuai angan saya. Pandangan saya tak lepas dari aksi para pemain dilapangan, namun pikiran saya menguraikan apa yang saya lihat sebelum pertandingan. Apa yang saya lihat pada remaja-remaja itu terus saja menggelitik pikiran saya. Terkenang saya dulu pada masa remaja saya. Dahulu, perjumpaan antara remaja putra dan remaja putri hanya terjadi pada ruang yang secara moral telah dilegitimasi oleh masyarakat. Ambillah contoh pada pengajian RISMA (Remaja Islam Masjid) atau di sekolah. Sedangkan untuk interaksi yang lebih pribadi terkait dengan tendensi hati, rumah sang remaja putrilah yang menjadi tempatnya. Karena hal itu memungkinkan pengawasan yang mudah dari orang tua remaja putri itu. Saya teringat kepada seorang teman saya yang harus benar-benar berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan izin dari orang tua pacarnya untuk nonton film dibioskop pada hari minggu sore. Sisi positif dari pengkhususan tempat interaksi bagi para remaja adalah adanya kemudahan untuk proses pewarisan nilai bagi remaja. Pada RISMA contohnya, perjumpaan antar remaja pada forum ini meski ada kalanya pengajian menjadi motif kamuflatif ( saya terkenang pada diri saya sendiri ketika rajin ikut pengajian RISMA namun sepanjang acara pengajian pandangan saya tak pernah tertuju pada ustadz yang memberikan taujih. Dengan suka rela saya memaksimalkan pandangan saya pada Ruwiyati, seorang remaja yang menjadi buah bibir saya dan teman-teman) namun nilai-nilai moral dari RISMA itu sendiri tetap terjaga. Karena secara sadar atau tidak,. mereka mengikuti nilai-nilai itu sebagai &lt;i style=""&gt;entry point&lt;/i&gt; agar bisa diterima pada komunitas RISMA tersebut. Sehingga mereka bisa mendapatkan sebuah identitas yang benar-benar melalui proses penyerapan nilai pada kegiatan-kegiatan RISMA itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya membayangkan kontradiksi pada masa remaja saya dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; para remaja saat ini. Dulu, saya familiar dengan lagu &lt;i style=""&gt;jilbab-jilbab putih &lt;/i&gt;yang didendangkan oleh para remaja putri dalam latihan qasidah yang mereka lakukan. Sekarang, saya akrab dengan lagu &lt;i style=""&gt;Makhluk Tuhan Paling Seksi &lt;/i&gt;yang sering dinyanyikan oleh ramaja putri saat mereka ramai-ramai &lt;i style=""&gt;hang out &lt;/i&gt;bersama temannya, meski itu disekitar lapangan sepakbola. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya tak mampu mencegah pikiran saya untuk berburuk sangka pada remaja-remaja yang saya temui barusan. Saya berasumsi bahwa mereka ini menganggap bahwa nilai-nilai moral yang diwariskan oleh generasi sebelumnya tetaplah tinggal sebagai bagian dari masa lalu. Pola pikir remaja sekarang ini amat dipengaruhi oleh arus kultural yang ada. Arus yang tidak memberikan ruang yang luas untuk bersikap kritis dan hanya memproduksi karakter-karakter yang pasif menerima penetrasi budaya luar. Maka pencarian dan pengidentifikasian identitas mereka pun tak lepas dari koridor arus kultural tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Fenomena ini menjadi sebuah pembuktian dari sebuah analogi yang dikemukakan oleh Jean Baudrillad, bahwa&lt;i style=""&gt; kegilaan mencari identitas semu merupakan sebuah ekstasi yang melanda masyarakat kontemporer.&lt;/i&gt; Meski remaja batanghari tidak dapat dikatakan sebagai remaja yang tumbuh dalam sebuah masyarakat kontemporer yang peka dan akrab dengan segala aksesoris perkembangan zaman namun masyarakat Batanghari tetap saja tak bisa lepas dari terpaan arus zaman yang ditandai dengan besarnya terpaan media dalam semua dimensi kehidupan. Indikasi dari identitas semu ini adalah tipikalitas dalam kelompok-kelompok masyarakat. Banyak orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari sesuatu dan meninggalkan kualitas individunya sebagai manusia yang berfikir kritis dan berkreasi inovatif. Mereka ini cenderung tidak percaya diri jika tidak mengikuti apa yang tengah populis dalam kelompoknya. indikasi lain tampak pada pola dan orientasi konsumsi (dalam arti luas). Mereka cenderung mengkonsumsi merek dan melupakan tentang pentingnya kualitas. Pola ini berangkat dari satu motif yang sama yaitu demi prestise belaka. Dalam cakupan yang lebih luas, pola pikir pasif seperti ini juga menjangkiti sebagian besar masyarakat negeri ini. Hal ini disebabkan oleh semakin terlembaganya pola tersebut dalam&lt;i style=""&gt; mind set &lt;/i&gt;budaya mayoritas masyarakat. Sejalan dengan pesatnya budaya pop yang berkembang justru filter masyarakat yang terbentuk dari sebuah penilaian kritis semakin melonggar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada penampilan mereka, remaja-remaja yang saya temui sebelum pertandingan, juga saya menemukan pengkiblatan yang salah kaprah. Penilaian mereka bahwa artis-artis yang sering tampil di media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; merupakan representasi dari kemajuan zaman sehingga patut dijadikan kiblat jelaslah merupakan penilaian yang sangat prematur. Bagi saya pribadi, sebuah istilah yang dikemukakan oleh Afrizal Malna merupakan sebuah istilah yang cocok untuk merepresentasikan atau menggambarkan posisi artis-artis yang dengan tidak cerdasnya sering mengklaim diri mereka sebagai &lt;i style=""&gt;public figure. &lt;/i&gt;Afrizal Malna pernah menyebutkan tentang Amerikanisasi tubuh. Afrizal menuturkan Amerikanisasi tubuh berlangsung lewat politik globalisasi yang dijalankan Amerika dan negara kapitalis lainnya untuk melakukan hegemoni ikon-ikon mereka melalui berbagai media. Amerika sengaja mengkonstruksi ikon-ikonnya sedemikian rupa lewat wacana kebudayaan pop, teknologi dan modal. Akhirnya propaganda ini tertanam dalam tubuh masyarakat bangsa ini sebagai koloni identitas dan konsumsi. Lalu dimana posisi artis, ada diujung tombak propaganda ini. Merekalah yang menjadi boneka Marrionette untuk menyebarkan praktek Amerikanisasi tubuh tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penonton bergemuruh ketika tercipta gol dipenghujung babak pertama. Saya bergemuruh dengan pikiran saya sendiri. Saya menyumpahi diri sendiri karena hanya bisa melamunkan fenomena yang barusan saya temui.&lt;i style=""&gt; I should turn my passion into action! &lt;/i&gt;Saya tahu ada yang salah dengan remaja yang saya temui, remaja yang sebenarnya bisa dikatakan adik-adik saya sendiri. Mereka memiliki pola pikir yang salah dan orientasi kiblat yang salah. Mereka butuh figur teladan yang akan membantu dan memberi teladan bagi mereka agar menempa diri menjadi generasi muda yang tidak kelimpungan mencarai identitas dan memiliki daya yang potensial dalam membangun peradaban. Saya bukan figur seperti itu, namun seharusnya saya mengambil peran sebagai seseorang yang memberikan wacana alternatif bagi remaja-remaja itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Alangkah hebat para pemain berakasi dilapangan. Dan saya masih tetap menjadi penonton. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8789728018244309274?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8789728018244309274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8789728018244309274&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8789728018244309274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8789728018244309274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/muda-mudi-batanghari.html' title='Muda Mudi Batanghari'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1177513789316579815</id><published>2008-08-06T09:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T09:50:00.267-07:00</updated><title type='text'>The Devil and Miss Prym</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJnWGtn2YzI/AAAAAAAAADs/2VVLGvMs-V4/s1600-h/prym.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231447852981838642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJnWGtn2YzI/AAAAAAAAADs/2VVLGvMs-V4/s200/prym.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik dan buruk memiliki wajah yang sama; semua bergantung dari kapan keduanya melintas didalam kehidupan seorang manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dan jahat, dua sisi satu muara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki asing datang ke Viscos, sebuah desa terpencil bangsa Celtic, membawa luka masa lalunya. Ia mengaku bernama Carlos. Tragedi traumatis yang merenggut jiwa keluarganya turut merenggut kepercayaannya akan adanya kebaikan dalam kehidupan manusia. Maka ia memilih Viscos, desa terpencil dengan kehidupan sederhana yang dijalani penduduknya dengan tenang. Keinginannya hanya satu : membuktikan bahwa manusia akan melakukan kejahatan jika memiliki kesempatan, meski dia hidup dalam lingkungan yang baik. Lalu ia merancang sebuah permainan dengan imbalan sepuluh batang emas murni yang akan membawa kemakmuran bagi Viscos. Tapi harga yang harus dibayar amat mahal, yakni satu pembunuhan. Permainan ini bertujuan untuk meyakinkan dirinya bahwa pada dasarnya manusia memang jahat sehingga dia bisa lebih mudah menerima kenyataan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miss Chantal Prym, gadis termuda di Viscos yang ingin meninggalkan desa karena sudah bosan dengan kehidupannya di sana, diminta oleh lelaki asing itu untuk membantunya dalam permainan ini. Tawaran lelaki asing itu akan merubah hidup Chantal selama-lamanya. Dia bisa terbebas dari jerat kemuraman kehidupan desa dan mengejar mimpinya, namun ia harus mengkhianati nilai-nilai yang diyakininya sebagai ganti. Chantal dilanda perang batin, dan sebagaimana yang terjadi dalam setiap diri manusia, iblis dan malaikat bertarung sengit didalamnya. Iblis dalam diri Chantal belum punya cukup kendali atas diri gadis itu, namun kenyataan hidup yang dihadapinya tak memberi pijakan yang cukup bagi malaikat untuk membangun pondasi keyakinan yang kokoh dalam jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Viscos, orang-orang yang selalu diliputi keraguan antara menjaga nilai-nilai masa lalu atau mengambil resiko membuka sejarah baru, tergoda oleh imbalan yang ditawarkan oleh lelaki asing dalam permainannya. Bayang-bayang desa yang mulai ditinggalkan generasi mudanya meninggalkan gambaran masa depan yang muram dalam benak penduduk desa. Mereka mulai berfikir bahwa lelaki asing itu bukanlah iblis pembawa kehancuran desa, melainkan pembawa solusi untuk masa depan desa yang lebih baik. Akhirnya mereka memutuskan untuk melaksanakan permainan itu dan menunjuk seseorang untuk dibunuh. Iblis dalam diri penduduk desa tersenyum puas karena telah berhasil memaparkan sebuah logika bahwa mereka tidak melakukan pembunuhan keji, melainkan sebuah pengorbanan yang memang harus dilakukan demi sebuah tujuan yang lebih baik. Lalu penduduk desa menyusun sebuah proses eksekusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di puncak permainan, Chantal mengambil sebuah tindakan. Akhirnya ia melakukan apa yang selama ini tak berani ia lakukan. Yaitu mengambil resiko yang mempertaruhkan kemapanan masa silam atau masa depan yang lebih baik. Permainan berakhir. Masing-masing orang mendapatkan sebuah kesimpulan dan jawaban. Tapi hanya dua orang yang merasakan sebuah perubahan besar yakni Chantal dan lelaki asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya,semua memahami bahwa tidak ada yang menjadi lebih baik atau lebih jahat karena permainan itu. Baik dan jahat adalah dua aliran yang bermuara dalam diri manusia. Adalah manusia itu sendiri yang memutuskan untuk menghentikan aliran yang mana. Apakah pada hakikatnya semua manusia baik? Apakah manusia menjadi jahat karena dendam? Apakah manusia menjadi baik karena rasa takut akan hukuman? Ataukah manusia hanya sekedar permainan bagi kehidupan? Kisah dalam novel ini akan menggambarkan logika-logika yang akan menuntun pembaca untuk menemukan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulo Coelho, sisi lain Brasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brasil terkenal sebagi negeri dimana pemain sepakbola handal lahir dari setiap penjuru wilayahnya, pantai tropisnya yang indah serta tarian sambanya yang meriah. Ternyata tidak hanya itu, Brasil masih punya satu sisi lain dalam dunia sastra yang tak kalah menarik, yakni Paulo Coelho. Nama Paulo Coelho dikenal dunia lewat karya fenomenalnya The Alchemist. Karya-karyanya telah terjual 43 juta copy diseluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa. Penulis Brasil ini telah menerima banyak penghargaan internasional yang bergengsi , diantaranya Crystal Award dari World Economic Forum dan Legion d’Honneur dari Prancis. The Devil and Miss Prym merupakan novel pamungkas dari trilogi And on the Seventh Day. Dua novel sebelumnya adalah : By the River Piedra I Sat Down and Wept dan Veronika Decides to Die . Ketiga novel ini tidak memiliki jalinan cerita, namun kesamaan tema,yaitu tujuh hari yang mengubah kehidupan manusia. Lewat trilogi ini Paulo Coelho mencoba untuk mengatakan bahwa: ada kalanya dalam bingkai waktu yang sempit kehidupan akan menyodorkan tantangan pada kita untuk menguji kemauan dan keberanian kita untuk berubah, jika saat itu tiba maka tidak ada gunanya berpura-pura tidak ada yang terjadi atau menyatakan kita belum siap, karena tantangan itu tidak akan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data buku :&lt;br /&gt;Judul : The Devil and Miss Prym ( Iblis dan Miss Prym)&lt;br /&gt;Pengarang : Paulo Coelho&lt;br /&gt;Tebal : 256 halaman&lt;br /&gt;Penerbit : Pt Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1177513789316579815?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1177513789316579815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1177513789316579815&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1177513789316579815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1177513789316579815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/devil-and-miss-prym.html' title='The Devil and Miss Prym'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJnWGtn2YzI/AAAAAAAAADs/2VVLGvMs-V4/s72-c/prym.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2134071826592976720</id><published>2008-08-04T09:11:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T09:12:15.497-07:00</updated><title type='text'>Ajisaka</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada suatu masa yang kini tetap mengabadi dalam kenangan saya, tersebutlah sebuah peristiwa dimana saya dan mendiang bapak saya memainkan peran utama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Alkisah, pada kala itu, keinginan saya untuk menjadi Arya Kamandanu sangatlah menggebu. Maklumlah, pada kala itu, saya hanyalah seorang anak kelas &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;II&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state&gt;SD&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; yang selalu mengikuti serial sandiwara radio Tutur Tinular. Meski begitu, terasa sangatlah besar kebanggaan saya tiap kali mengenangnya. Sebab saya merasa sangat beruntung jika membandingkan masa itu dengan apa yang dialami oleh anak-anak masa kini. Saya punya Arya Kamandanu sebagai idola masa kecil. Sosok yang berhati mulia dan beraga perkasa. Sedangkan anak-anak kini, Cuma dapat (maaf) &lt;i style=""&gt;tai asu&lt;/i&gt; dari kebanyakan televisi. Arya Kamandanu dengan kesaktian pedang naga puspa dan kisah asmaranya dengan Mei Shin terus mengawang-awang sebagai pesona yang menggoda dalam benak saya. Akibat baiknya adalah, saya menjadi tertarik dengan kisah-kisah yang memiliki ikatan dengan nilai-nilai kultural dimana saya tumbuh dan berkembang. Beruntunglah saya diasuh oleh seorang bapak yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat apresiatif dengan kisah-kisah sastra dan sejarah etniknya. Suatu sore pada suatu waktu dimana saya usai mendengarkan kisah Arya Kamandanu yang baru saja mendapatkan pedang naga puspa dari empu Lohgawe, saya duduk merenung membayangkan rupa pedang itu muka pintu belakang rumah saya. Entah darimana, tiba-tiba tanpa saya sadari bapak saya tercinta telah berada disamping saya. Bertanyalah beliau: &lt;i style=""&gt;ngopo le kok ndomblong?&lt;/i&gt; Sekejap saya terkejut, lalu menjawablah saya: &lt;i style=""&gt;kamandanu huebat yo pak? Pengen aku koyo kamandanu.&lt;/i&gt; Bapak tersenyum lalu berkata : &lt;i style=""&gt;wong sekti &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ora mung kamandanu. Ono maneh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ajisaka.&lt;/i&gt; Nama yang asing ditelinga saya, maka saya kembali bertanya : &lt;i style=""&gt;ajisaka, sopo kuwi?&lt;/i&gt; Kemudian berceritalah bapak tentang ajisaka. Berikut cerita tersebut yang telah saya himpun dari ingatan saya dan saya lengkapi dari referensi bacaan saya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Kisah tentang Ajisaka ini dapat ditemukan pada berbagai karya sastra Jawa klasik yang berbentuk puisi tembang macapat, serat Jatiswara dan Serat Chentini yang memuat sebuah episode mengenai Ajisaka (raja Jawa pertama) pada abad ke 17. Dikisahkan, pada sekitar abad ke-7 Masehi, daerah Grobogan termasuk dalam wilayah Kerajaan Medang Kamolan yang diperintah oleh Dinasti Sanjaya/Syailendra. Salah seorang raja dari dinasti ini adalah Dewata Cengkar, seorang yang konon amat gemar makan daging manusia. Karena kesukaan raja yang aneh tersebut, membuat rakyat merasa ketakutan. Mereka tidak ingin menjadi santapan sang raja yang haus darah itu. Berbagai cara dilakukan untuk melawan sang raja, tetapi semuanya sia-sia saja. Tak ada yang bisa mengalahkan kesaktian sang raja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Beberapa waktu kemudian, muncullah Ajisaka, seorang pengembara seorang pengembara dari bumi Majeti, yang merasa prihatin dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. Ajisaka pun kemudian berusaha untuk menghentikan kebiasaan sang raja. Dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata, Ajisaka pun menantang adu kesaktian dengan sang raja. Banyak orang yang menyangsikan kemampuan Ajisaka, mengingat tubuhnya yang kecil. Namun apa pun, masyarakat tetap menaruh harapan kepada Ajisaka. Sang raja yang menerima tantangan Ajisaka hanya terbahak-bahak. Raja pun menawarkan, kalau seandainya Ajisaka mampu mengalahkannya, maka Ajisaka berhak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memperoleh hadiah berupa separuh wilayah kerajaan. Sebaliknya, jika Ajisaka kalah, maka raja akan memakan tubuh Ajisaka. Ajisaka pun menyanggupi semua tawaran sang raja. Adapun permintaan terakhir Ajisaka kepada sang raja adalah, jika dia kalah dan tubuhnya dimakan oleh sang raja, Ajisaka memohon agar tulang-tulangnya nanti ditanam dalam tanah seukuran lebar ikat kepalanya. Tentu saja sang raja segera mengiyakan dan sama sekali tidak menduga bahwa ikat kepala Ajisaka itu adalah ikat kepala yang mengandung kesaktian. Ajisaka segera melepas ikat kepalanya dan kemudian menggelarnya di atas tanah. Ajaib, ikat kepala itu berubah menjadi melebar. Raja Dewata Cengkar menggeser tempat berdirinya. Hal itu berlangsung terus seiring dengan makin mebelarnya ikat kepala Ajisaka, sampai akhirnya Dewata Cengkar tercebur di Laut Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Namun Dewata Cengkar tidak mati, sebaliknya, tubuhnya menjelma menjadi bajul (buaya) putih. Sepeninggal Dewata Cengkar, rakyat kemudian menobatkan Ajisaka sebagai raja di Medang Kamolan. Pada saat Ajisaka memerintah Medang Kamolan, muncullah seekor naga yang mengaku bernama Jaka Linglung. Menurut pengakuannya, dia adalah anak Ajisaka dan saat itu sedang mencari ayahnya. Melihat wujudnya, Ajisaka menolak untuk mengakuinya sebagai anak. Ajisaka pun berusaha menyingkirkan sang naga,tetapi dengan cara yang amat halus. Kepada sang naga, Ajisaka mengatakan akan mengakuinya sebagai anak, jika naga itu berhasil membunuh buaya putih jelmaan Dewata Cengkar di Laut Selatan. Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung pun menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar. Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar berangkat ke Laut Selatan lewat dalam tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Singkatnya, Jaka Linglung pun sampai di Laut Selatan dan berhasil membunuh Dewata Cengkar. Sebagaimana berangkatnya, kembalinya ke Medang Kamolan pun Jaka Linglung melalui dalam tanah. Dan sebagai bukti bahwa dia telah berhasil sampai di Laut Selatan serta membunuh Dewata Cengkar, Jaka Linglung tak lupa membawa seikat rumput grinting wulung dan air laut yang terasa asin. Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai pada tempat yang dituju. Kali pertama dia muncul di desa Ngembak (kiri wilayah kecamatan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Purwodadi), kemudian di Jono (kecamatan Tawangharjo), kemudian di Grabagan, Crewek, dan terakhir di Kuwu (ketiga-tiganya masuk kecamatan Kradenan). Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya inilah yang kini diyakini menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Legenda Ajisaka ini merepresentasikan sebuah ajaran moral yang layak untuk diaktualisasikan dan juga kembali diajarkan dengan pemikiran yang kritis dan kreatif tentunya. Nama-nama yang tersebut dalam legenda ini melambangkan nilai-nilai tertentu. Ajisaka berasal dari kata Aji dan Saka. Aji berarti pegangan Raja dan Saka berarti Pilar. Segala sifat baik dan sikap bijak yang dimiliki oleh Ajisaka dimaksudkan sebagai sebuah nilai-nilai moral yang seharusnya dimiliki oleh para penguasa. Ajisaka sebagai pengembara dimaksudkan bahwasanya penguasa hendaklah tidak tidur saja didalam istana mewah. Seharusnya penguasa mengembara, dalam artian bergerak untuk selalu menyambangi rakyat sehingga benar-benar tahu kondisi nyata yang terjadi ditengah rakyatnya supaya keputusan yang diambil tepat guna. Penguasa juga harus maju ke depan sebagai pelindung rakyatnya. Karena penguasa selayaknya dipilih karena memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dibanding rakyatnya. Kemampuannya inilah yang harus dimaksimalkan penguasa untuk melindungi rakyatnya. Majeti itu pun pada hakikatnya merupakan perlambang. Ma artinya diterima atau keterima, Jet artinya Grenjet atau bijaksana dan Ti artinya pengesti atau do’a khusuk. Maka dari itu Majeti dapat diartikan do’a orang bijak, yang melakukan dengan khusuk akan diterima. Dengan kata lain, penguasa seperti Ajisaka hanya dapat mahir dari jiwa yang memiliki ketulusan hati dan kebulatan tekad yang luhur untuk mengabdi. Do’a adalah wujud kesadaran jiwa akan hakikat kemanusiaan dan keyakinan akan masih adanya harapan. Manusia yang berdo’a adalah manusia yang mawas diri dan terus berkeyakinan. Manusia yang seperti itulah yang selayaknya menjadi cikal bakal penguasa. Selain kedua hal ini, legenda Ajisaka masih menyimpan banyak ajaran moral dan kultural yang baik untuk digali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Legenda Ajisaka juga terkait dengan asal usul aksara Jawa yang terkanal dengan sebutan Ho No Co Ro Ko. HO NO CO RO KO, salah satu bentuk perkembangan tulisan Jawa yang terdiri atas 20 huruf. Menurut para ahli epigrafi,tulisan Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan sansekerta Dewanagari dari India Selatan, yang terdapat pada prasastiprasasti dari zaman dinasti Palawa yang menguasai daerah pantai India Selatan pada abad ke-4. Demikian, tulisan itu juga di sebut tulisan Palawa. Tetapi dalam jangka waktu berabad-abad tulisan itu telah mengalami perubahan. Prasasti Jawa tertua memang menggunakan tulisan Palawa ini, sehingga huruf yang digunakan para pujangga Jawa Timur dari abad ke-10 hingga 11 dalam ciptaan-ciptaan kakawihan mereka sudah mempunyai ciri khas Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Berkaitan dengan legenda Ajisaka, tersebutlah dalam salah satu bagian dari legenda itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa Dalam perjalanan menjelajahi Nusa Jawa, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ajisaka menemukan dua tubuh raksasa yang telah mati. Di tangan kedua raksasa tergenggam masing-masing sehelai daun. Di atas kedua daun tersebut terdapat masing-masing tulisan purwa (kuno) dan tulisan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Thai.&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; Oleh Pangeran Ajisaka kedua tulisan tersebut disatukan, dan dengan demikian ia menciptakan abjad Jawa yang terdiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;atas 20 huruf, yang jika dirangkai membentuk suatu kalimat yang berbunyi : ho no&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;co ro ko do to&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;so wo lo po dho jo yo nyo mo go bo tho ngo. Arti kalimat tersebut adalah : &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dua orang utusan yang saling bertengkar, keduanya sama kuat dan karena itu kedua-duanya mati. Legenda itu antara lain ditulis dalam sebuah buku Jawa yang berisikan sejarah mitologi Pulau Jawa hingga berdirinya Kerajaan Majapahit, kemudian harus mengalami perubahan huruf Jawa yang diajarkan di sekolah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sekarang ini adalah yang dipakai dalam karya-karya kesusastraan zaman Mataram dari Abad ke-18 dan 19.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;Bapak mengakhiri cerita tentang Ajisaka ketika beduk magrib mulai terdengar. Bapak bergegas bersiap-siap menuju masjid untuk mengimami shalat jama’ah. Saya beranjak mengikutinya. Shalat pada dasarnya juga merupakan do’a. saya teringat akan asal Ajisaka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2134071826592976720?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2134071826592976720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2134071826592976720&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2134071826592976720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2134071826592976720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/ajisaka.html' title='Ajisaka'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1976592017632648178</id><published>2008-08-04T09:05:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T09:10:24.582-07:00</updated><title type='text'>And the mistery remain...</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai saat inipun saya belum punya jawaban yang saya sendiri meyakini kebenarannya ketika saya dihadapkan pada pertanyaan: gerangan apakah yang dulu smenyebabkan kisanak memilih kuliah dijurusan komunikasi? Saya akan menengok kembali kebelakang untuk mencari jawaban. Mungkin sebaiknya diralat,bukan untuk mencari jawaban tapi sekedar mengingat jawaban yang bisa dipilih. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dulu, usai lulus dari institusi pendidikan yang bagi saya lebih menjadi alasan logis untuk main,yakni SMU,saya dipusingkan oleh hal yang jarang saya pikirkan, yaitu masa depan. Bagi saya yang 60% pendaya gunaan otak saya pakai untuk mencari jawaban antara telur dan ayam,yang mana si yang lebih dulu ada?,tentunya masa depan merupakan sebuah masalah yang tidak lazim untuk dipikirkan. Namun ternyata kenyataan lebih dictator daripada fir’aun sekalipun. Kenyataan tak menyisakan pilihan bagi saya selain memikirkan masa depan. Maka saya memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang universitas dengan satu alasan: kuliah tidak mewajibkan kita untuk mandi pagi tiap hari. Lagi-lagi apa yang disebut sebagai masa depan memusingkan saya. Saya dipaksa lagi untuk memikirkan jurusan yang harus saya ambil, demi masa depan. Disaat saya berfikir, justru yang melintas diotak saya adalah orang-orang yang saya takuti yaitu dokter dengan jarum suntiknya, pengacara dengan rambut klimisnya, guru dengan buku tebalnya dan arsitek dengan ancaman tertimpa tumpukan beton. Lalu saya berfikir dengan sangat serius,suatu hal yang jarang saya lakukan. Akhirnya, saya berhasil mendapatkan data jurusan-jurusan mana saja yang tidak mengharuskan saya untuk bertemu angka2 atau menjadi orang2 diatas yang saya takuti. Setelah melalui proses kontemplasi ditambah meditasi akhirnya pilihan saya jatuh pada jurusan ilmu komunikasi. Dengan alasan yang menurut saya lebih ilmiah daripada alasannya orang-orang yang mengirim SMS REG spasi Weton, yaitu: sandal Jepit yang menyimbolkan kebebasan mahasiswa. Saya dengar dari teman saya bahwasanya dijurusan komunikasi boleh pakai sandal jepit saat kuliah. Jadi kesimpulannya, saya pilih jurusan komunikasi karena saya merasa tidak harus menemui hal-hal yang tidak saya sukai dijurusan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-39 0 -39 21548 21600 21548 21600 0 -39 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJcpKR2Q_XI/AAAAAAAAAC0/PAsfpmerx7g/s1600-h/jagoan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJcpKR2Q_XI/AAAAAAAAAC0/PAsfpmerx7g/s200/jagoan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230694748780559730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Memasuki pertengahan masa kuliah, saya mulai menemukan kegemaran baru yaitu kegemaran yang telah membuat Chairil Anwar fotonya ditampilkan dalam buku pelajaran bahasa Indonesia. Kegemaran baru saya ini membuat temen-temen saya menyarankan saya agar kelak mengambil profesi menjadi pedagang obralan atau penjual obat. Karena apa yang saya tulis lebih cocok disebut teks advertensi penjual obat atau pedagang kain obralan ketimbang sajak anak SD. Saya tidak putus asa,justru komentar mereka saya anggap sebagai cara yang eksotis untuk memotivasi saya. Maka saya tetap menulis dengan satu harapan: kelak saya bisa mengajari anak saya bagaimana cara membuat surat ijin karena sakit yang baik saat dia ingin menonton tv sepanjang hari. Dalam fase ini saya merasa dengan kuliah dijurusan komunikasi saya tidak akan ditangkap oleh petugas rumah sakit jiwa. Karena cukup banyak stok orang gila dijurusan ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-150 0 -150 21450 21600 21450 21600 0 -150 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJcptYA6moI/AAAAAAAAADE/oXl9CuZ1zro/s1600-h/salwa..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJcptYA6moI/AAAAAAAAADE/oXl9CuZ1zro/s200/salwa..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230695351731264130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin dengan keterangan saya diatas maka pertanyaan tentang alasan memilih jurusan komunikasi bisa terjawab. Namun ketika pertanyaan kedua diajukan : jadi jurusan komunikasi itu apa artinya bagi kisanak? Suatu orientasi studi atau sebuah interpretasi studi? Untuk pertanyaan ini saya belum bisa menjawab. Bahkan sekedar mengira-ngira jawabanpun cukup sulit bagi saya. Kembali saya merasa bahwa saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang hanya bisa saya jawab:Wallahu Alam. Sebagai mahasiswa yang telah menyelesaikan penulisan skripsi tentu saya memiliki semacam ikatan emosional dengan jurusan saya. Banyak kenangan manis (saat bolos kuliah) dan pahit (saat melihat KHS) yang telah saya dapatkan dijurusan ini. Proses seperti inilah yang telah mengisi masa dimana saya seharusnya belajar dengan tekun demi meraih kesuksesan akademik. Dan karena banyaknya ruang kosong dihati saya maka semua peristiwa yang manis dan pahit itu saya simpan menjadi kenangan. Sebab saya ingin bahagia, saya percaya bahwa kebahagiaan hanyalah saat-saat sekejap yang hanya abadi dalam kenangan. Maka siapa saja yang sanggup menyembunyikan kenangan dari gilasan roda waktu akan bisa mendapatkan kebahagiaan dari waktu yang berjalan. Itulah kenapa saya merasa &lt;i&gt;there’s an empty side in my heart and it’s belong to you &lt;/i&gt;(jurusan ilmu komunikasi). Disisi lain saya seringkali merasa aneh sebagai mahasiswa komunikasi. Semacam ada hal-hal yang berbau mistis yang terjadi ketika saya berinteraksi dengan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu komunikasi. Tiap kali saya membaca buku-buku teori komunikasi disaat tengah malam menjelang,saya langsung tertidur dlam jangka waktu 5 menit. Padahal biasanya, saya bisa membaca 4 biji buku Wiro Sableng dalam semalam. Aneh bukan? Apakah saya harus membaca buku teori komunikasi dimalam selasa kliwon saja? Saya belum pernah mencoba, mungkin ada manfaatnya. Tidak hanya itu, saya bisa menemukan 50 alasan logis dalam sekejap untuk bolos kuliah tapi hanya bisa mendapatkan satu alasan untuk kuliah, yaitu: kuliah merupakan saat yang nyaman untuk mengkhayal (tentang hal-hal yang bisa dilakukan diluar kelas). Tuh kan! Saya tak bisa menemukan jawaban yang relevan untuk pertanyaan tadi..&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri: hey handsome, ngapain aja lo selama dikampus, kuliah apa maen? Entahlah! Enam tahun sudah, episode-episode dalam kehidupan saya didominasi dengan tema kuliah, tapi pertanyaan itu tetaplah menjadi misteri. Akhirnya, saya Cuma bisa berharap, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Semoga misteri tentang jawaban-jawaban dari pertanyaan itu tetap ada dan berkelindan dengan rasa penasaran saya. Sehingga saya tetap mencari, belajar dan terus belajar. Karena saya percaya apa kata bung Pram bahwa hidup bisa memberikan segala pada siapa tahu dan pandai menerima. Agar tahu dan pandai menerima maka seseorang wajiblah terus belajar. Semoga misteri-misteri seperti tersebut diatas akan tetap hadir dan dengan caranya yang unik memotivasi saya agar terus belajar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1976592017632648178?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1976592017632648178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1976592017632648178&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1976592017632648178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1976592017632648178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/and-mistery-remain.html' title='And the mistery remain...'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SJcpKR2Q_XI/AAAAAAAAAC0/PAsfpmerx7g/s72-c/jagoan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2507300405961228276</id><published>2008-08-04T09:04:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T09:05:03.943-07:00</updated><title type='text'>Peran Tanpa Peran</title><content type='html'>peran apa yang kumainkan&lt;br /&gt;diatas pentas kemunafikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika layar belum lagi terbuka&lt;br /&gt;ku berdialog dengan hati&lt;br /&gt;tinggalkan naskahku tak terlafadzkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika panggung terbuka lebar&lt;br /&gt;akulah jiwa tanpa nama&lt;br /&gt;merasuki bermacam raga dalam berbagai cerita&lt;br /&gt;akulah jiwa yang kehilangan nama&lt;br /&gt;menandai bermacam hampa dalam berbagai jeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika tepuk tangan tinggal lengang&lt;br /&gt;aku memainkan peran&lt;br /&gt;sebagai orang yang tak berperan dalam pementasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemunafikan apa yang kupentaskan&lt;br /&gt;diatas permainan peran?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2507300405961228276?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2507300405961228276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2507300405961228276&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2507300405961228276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2507300405961228276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/08/peran-tanpa-peran.html' title='Peran Tanpa Peran'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-5571566312362801105</id><published>2008-07-31T09:09:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T09:11:19.110-07:00</updated><title type='text'>ZAMAN dan mitos yang terus BERGERAK*</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Banyak orang yang menganggap bahwa mitos adalah kepercayaan atas kekuatan dan eksistensi dunia mistik. Mitos ada dimasa lampau dan tetap tinggal sebagai kenangan bersama masa lampau. Kini adalah zaman modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Itu adalah pandangan yang salah !!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mitos adalah sebuah kepercayaan yang terbentuk dari suatu kepercayaan yang dominan yang diterima secara pasif dan massif. Pada masa lampau, banyak orang yang belum memahami secara rasional akan fenomena alam sehingga akhirnya banyak orang percaya bahwa ada kekuatan gaib dari makhluk halus yang mengendalikan alam. Sehingga kehidupan mereka sangat dipengaruhi pada kepercayaan itu dalam bentuk ritual-ritual pemujaan. Kepercayaan ini berkembang menjadi mitos karena diterima secara pasif dan massif. Adakah hal-hal seperti itu kini telah hilang? Hanya sebatas ritual pemujaan saja, sementara bentuk kepercayaannya belum karena telah hadir dalam wajah yang berbeda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada zaman ini mitos masih kental mewarnai kehidupan. Hanya saja mitos pada hari ini diciptakan oleh pihak tertentu dengan instrumen yang bernama media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Itu saja bedanya. Mitos kini hadir tidak terkait dengan fenomena alam, tapi terkait dengan wacana-wacana global yang menempatkan manusia dalam sekat-sekat superioritas dan inferioritas. Wacana itu semacam globalisasi, keunggulan Yahudi dan khusus di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ada mitos tentang peran signifikan pendiri Orde Baru pada masa revolusi 45.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebagian besar masyarakat dunia kini percaya bahwa globalisasi adalah arusyang pasti datang seiring berjalannyawaktu yang diwarnai dengan kemajuan teknologi yang tak pernah berhenti. Berkat bantuan teknologi masyarakat dunia kini berada dalam kehidupan global yang tak terhalang oleh sekat geografis. Wacana khidupan global inilah yang membuat masyarakat dunia begitu terbuka dengan segala nilai yang disebarkan atas nama kemajuan zaman, tak peduli asal dan manfaatnya selama itu menggejala dalam kehidupan global. Lalu hadrilah istilah globalisasi yang diterima sebagai arus kehidupan masyarakat dunia yang sinergis dengan kemajuan iptek. Akibatnya adalah banyak penetrasi budaya dan kepentingan dari negara-negara yang lebih maju penguasaan teknologinya terhadap negara-negara yang lebih terbelakang dengan alasan globalisasi. Dan, negara-negara yang lebih itu pun harus menerimanya dengan alasan globalisasi pula. Padahal jelas-jelas bahwa penetrasi itu hanya akan menguntungkan negara maju saja dan semakin membuat negara yang lebih terbelakang itu tergantung pada negara-negara maju. Mereka akan terus dihisap segala kepunyaannya demi kepentingan negara-negara maju. Contohnya ada pada perdangangan bebas yang dianggap sebagai suatu keharusan pada era globalisasi ini. Negara-negara berkembang dan terbelakang pun menerima wacana ini karena menganggap ini tidak bisa dihindari pada era globalisasi, meski mereka tahu bahwa perdagangan bebas tidak akan menguntungkan mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Globalisasi ini adalah mitos. Media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang hampir semuanya didominasi dan dikuasai oleh kaum kapitalis negara maju telah dengan gencar menyebarkan wacana tentang globalisasi yang menguntungkan mereka. Gencarnya penyebaran wacana globalisasi ini sampai pada titik dimana globalisasi diterima sebagai mitos. Globalisasi sebagai arus zaman yang tak dapat ditolak itu adalah mitos yang menyebabkan negara-negara dunia ketiga tetap menjadi “sapi perahan” negara-negara maju.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Respon Zapatista telah menunjukkannya. Mereka berkata : &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;“. Banyak orang mengatakan bahwa melawan globalisasi sama seperti melawan hukum gravitasi. Jika memang demikian, maka MATILAH HUKUM GRAVITASI!!!”. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Mereka terus melawan dan membuktikan bahwa globalisasi bukanlah faktor yang menentukan hidup mati mereka. Sebenarnya, negara-negara diluar negara maju dapat menjalin aliansi dan bekerja sama memenuhi kebutuhan hidup mereka tanpa harus bergantung kepada negara maju. Justru negara majulah yang sebenarnya tergantung pada sumber daya alam dan potensi pasar dari negara dunia ketiga. Sayang, mitos globalisasi telah membutakan mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya, mitos tentang keunggulan Yahudi. Tersebut dalam salah satu bagian dari prokolat Zionis bahwa : &lt;i style=""&gt;The new source of power is not money in the hand of few, but information in the hand of many.&lt;/i&gt; Strategi menguasai media dipakai Yahudi untuk mencengkeram dunia dunia dengan hegemoninya. Dalam protokolat Zionis XII seperti yang dikutip Dr. Majid Kailany, mereka berkata : &lt;i style=""&gt;“ peran apakah yang dapat dimainkan oleh media &lt;/i&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;massa&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i style=""&gt; akhir-akhir ini? Salah satu diantaranya adalah untuk membangkitkan opini yang keliru. Hal ini dapat membangkitkan emosi rakyat. Kadang juga bermanfaat guna mengobarkan konfrontasi atar partai, tentunya akan banyak menguntungkan pihak kita. Apalagi saat mereka sedang bertikai, kesempatan baik bagi kita untuk mengadu domba. Akan tetapi, dengan media massa, kita juga memaknainya sebagai ajang orang yang tidak mengerti kesemuanya itu. Kita akan mengendalikan peran media ini dengan sungguh-sungguh. Sastra dan pers adalah dua kekuatan yang sangat berpengaruh. Oleh karena itu kita akan banyak menerbitkan buku-buku kita dalam oplah besar”.&lt;/i&gt;protocole of &lt;st1:city&gt;zion&lt;/st1:City&gt; itu dibuat saat penyelenggaraan kongres zionisme internasional I pada tahun 1897 yang diprakarsai oleh Theodore Hertzl di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Paal, Swiss. Jauh sebelum kongres itu berlangsung, pers dinegara-negara barat telah dikuasai oleh Yahudi. Seperti diberitakan oleh &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar Inggris, The Graphic no.22 /Juli 1897 : Pers benua Eropa dibawah cengkeraman Yahudi. Sebelumnya, pada tahun 1869, seorang rabi Yahudi yang bernama Rashoron, dalam sebuah pidatonya di Praha menggambarkan perhatian Yahudi yang cukup besar terhadap media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Katanya : jika emas merupakan kekuatan kita yang pertama, maka pers merupakan kekuatan kita yang kedua. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Demikianlah, jauh-jauh hari zinonisme telah memprogram sebuah imperilaisme media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dengan membentuk wacana-wacana yang diterima sebagai mitos sehingga mereka mampu menjajah pemikiran bangsa-bangsa lain. Mereka menciptakan wacana-wacana mitos tentang diri mereka. Tentang Yahudi yang secara genetik lebih unggul dan cerdas dibandingkan bangsa lain didunia.padahal pada kenyatannya mereka hanya unggul karena mereka selalu mengorganisasi diri dan memiliki ikatan esoterik yang sangat kuat diantara mereka. Mereka juga menciptakan citra Yahudi sebagai bangsa yang beradab, cerdas, bersih, innocent dan citra-citra positif lainnya untuk memanipulasi kelicikan mereka. Selain itu, mereka juga berhasil menciptakan mitos tentang kekuatan Israeli Defence Force (IDF), yang merupakan angkatan bersenjata mereka, sebagai kekuatan militer yang tak terkalahkan. Media &lt;st1:city&gt;massa&lt;/st1:City&gt; mereka selalu memprogandakan dengan kolosal kemenangan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dalam perang 6 hari melawan dunia Arab yang dikomandoi Mesir pada tahun 1967. dengan cerdik mereka menyamarkan kekalahan telak IDF pada perang Yom Kippur tahun 1973 atas kekuatan militer Mesir dan Suriah. Dan yang paling baru adalah kekalahan mereka atas Hezbollah di Lebanon tahun 2006. kembali media &lt;st1:city&gt;massa&lt;/st1:City&gt; dengan propagandanya yang menempatkan &lt;st1:place&gt;&lt;st1:country-region&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sebagai pihak yang mau bekerjasama dengan PBB menyelamatkan muka mereka dari kekalahan yang memalukan atas milisi Hezbollah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dewasa ini, orang-orang Yahudi telah mengusasi media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; raksasa di dunia. Antara lain: Reuter yang didirikan di Jerman oleh Julius Paul Reuter, seorang Yahudi kelahiran Jerman bernama asli Beer Josaphat. Di Inggris, &lt;st1:city&gt;surat&lt;/st1:City&gt; kabar terkemuka The Times dikuasai miliuner Yahudi dari &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yaitu Rupert Murdoch. Di Amerika Murdoch memiliki koran &lt;st1:place&gt;&lt;st1:state&gt;New   York&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; Post serta majalah Star dan News Week. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Contoh berikutnya adalah mitos tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dikonstruksi oleh Rzim Orde Baru untuk membangun hegemoninya. SU 1 Maret menjadi diskursus yang penting bagi rezim Orba. Serangan ini dicitrakan sebagai momen puncak patriotisme dan heroisme militer pada masa revolusi kemerdekaan. Pencitraan ini dibangun lewat media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dominan sekali dilakukan dengan film-film tentang SU 1 Maret seperti Janur Kuning salah satunya. Pembangunan 2 monumen di &lt;st1:place&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; dan pencantuman tanggal 1 Maret sebagai hari bersejarah semasa rezim Orba merupakan upaya memberikan signifikasi peran militer dalam revolusi. Padahal pada kenyataannya SU 1 Maret tidak pernah menjadi sepenting itu dalam sejarah. Menurut AH Nasution, SU 1 Maret tidak begitu penting dari segi militer, sehingga peristiwa itu tidak pernah diperingati semasa dia menjabat KSAB. Sebab, hampir bersamaan dengan SU 1 Maret, tahap ofensif juga dilancarkan diwilayah Divisi I (Jawa Timur) kemudian Divisi II ( Jawa Tengah) dan Divisi IV ( Jawa Barat). Muara historiografi orba tak lain adalah pemitosan terhadap peran militer dan pengagungan diri Soeharto. Dengan kata lain, sejarah Orba bukanlah sejarah akademis, melainkan mitos belaka. Mitos yang dibangun lewat indoktrinasi melalui banyak media, terutama film-film yang rutin diputar dan diwajibkan untuk ditonton. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seorang jurnalis ternama, Bill Kovac, mengatakan bahwa : what you don’t know will hurt you. Ucapannya terbukti. Banyak hal yang disamarkan oleh pihak-pihak tertentu melalui kekuatan media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Juga sebaliknya, banyak hal yang dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu melalui kekuatan media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Semua itu dilakukan demi keuntungan sepihak pihak itu. Sudah saatnya kita bersikap lebih kritis dan memperbanyak referensi untuk mengetahui informasi tentang berbagai peristiwa dan sejarah. Karena apa yang disajikan media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bukanlah refleksi dari realitas, justru konstruksi atas realitas. Berhati-hatilah terhadap mitos yang diwacanakan media, karena apa yang tidak kita ketahui akan merugikan kita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;* diadaptasi dari judul buku Takashi Siraishi, yakni : Zaman Bergerak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-5571566312362801105?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/5571566312362801105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=5571566312362801105&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5571566312362801105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/5571566312362801105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/zaman-dan-mitos-yang-terus-bergerak.html' title='ZAMAN dan mitos yang terus BERGERAK*'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-262063116283991407</id><published>2008-07-28T09:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T09:29:21.383-07:00</updated><title type='text'>Agar engkau tahu</title><content type='html'>Minggirlah engkau ke sudut itu,&lt;br /&gt;tetaplah disitu!&lt;br /&gt;Ada aku yang harus engkau tahu&lt;br /&gt;tak pernah suka disuruh ini itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inginku engkau selalu tahu&lt;br /&gt;bahwa aku tahu dirimu satu&lt;br /&gt;dan diriku satu lain darimu&lt;br /&gt;maka kita bukanlah satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sejak dulu ingin diriku&lt;br /&gt;menjadi aku yang tidak menyatu dengan umurku&lt;br /&gt;aku berhasrat adanya dirku&lt;br /&gt;menjadi aku yang amat mengenal aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah engkau ditempatmu&lt;br /&gt;segera ku berbagi peran denganmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-262063116283991407?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/262063116283991407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=262063116283991407&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/262063116283991407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/262063116283991407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/agar-engkau-tahu.html' title='Agar engkau tahu'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-2831079778624525376</id><published>2008-07-28T08:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T09:27:37.853-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (part 4)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:16;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sabtu, 19 Juli 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya kembali tiba dirumah Ria pada pukul 10 pagi dengan diantar oleh Budi. Saya bertemu sahabat saya yang pintar dan baik hati yang bernama Ria Novitasari atau yang lebih populis dengan nama panggilan Opi si model wannabe. Nyata sekali gurat kerinduan terpahat pada ekspresi wajah Opi. Padahal belumlah terlalu lama dia tidak berjumpa dengan saya. &lt;/span&gt;Memang, hati wanita lebih dalam dari samudra. &lt;i&gt;She said nothing, but her eyes told me everything. &lt;/i&gt;Saya hanya berdiri dan tersenyum dihadapan opi. Saya biarkan dia puas memandang wajah saya agar kerinduannya terobati.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kami menuju rumah Rahmi ketika segala persiapan telah selesai. Kami berjalan kaki. Sekitar 5 menit berjalan saya menemui deretan pohon jambu air putih yang berbuah lebat dan matang berjejer dipinggir jalan. Sangat susah bagi saya untuk menahan hasrat saya memanjat pepohonan itu lalu melahap jambu-jamu ranum itu langsung dari tangkainya seperti yang selalu saya lakukan dimasa kanak-kanak saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3sjduc8OI/AAAAAAAAAB8/0KifkG6Agcg/s1600-h/P7190255.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3sjduc8OI/AAAAAAAAAB8/0KifkG6Agcg/s200/P7190255.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228094836466053346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sebelum mampir ke rumah Rahmi, kami mampir ke toko milik ibu dan ayahnya Rahmi. Beramah tamah sebentar lalu menuju rumahnya yang terletak sekitar 50 meter dari toko itu. Halaman rumah Rahmi dipenuhi dengan bunga-bunga yang hijau dalam pot-pot yang berbaris rapih. Rumah sepi. Hanya ada Rahmi dan Rini adiknya. Ema datang menyusul. Kami sejenak bersantai sembari menghirup teh hangat yang dihidangkan oleh Rahmi. Sayang, bukan Rini yang menghidangkan teh. Karena dalam angkatan kami berlaku hukum yang membuktikan bahwa : sang adik selalu lebih cantik dari sang kakak. Mungkin dia tipikal gadis yang lebih suka mengintip bujang-bujang tampan teman kakaknya dari balik tirai kamar sembari meremas-remas ujung kerudungnya. Saya membayangkan kejadiannya seperti ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Rini menatap saya : tersenyum simpul sambil memilin ujung kerudungnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Rini menatap Jana : tersenyum kecut sambil menggenggam asbak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rini menatap Ronal : menyeringai sambil memegang sebilah pisau dengan erat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:0;margin-top:13.8pt;width:4in;height:289.2pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3s_huYFTI/AAAAAAAAACE/jbwUjbCCF-Q/s1600-h/P7190287.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3s_huYFTI/AAAAAAAAACE/jbwUjbCCF-Q/s200/P7190287.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228095318575813938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selanjutnya kami menuju rumah Opi. Dalam angkot, ada musibah yang menimpa dua orang remaja local kelas III SMU. Ronal dan Jana dengan antusias bersikap manis dan ramah pada kedua remaja itu sementara kedua remaja itu menampilkan ekspresi Siti Nurbaya kala dipaksa ayahnya untuk bercakap dengan datuk maringgih. Setelah menumpangi dua angkot sampailah kami dirumah Opi yang terletak tidak jauh dengan PUSRI. Jalanan menuju rumah Opi mengingatkan saya pada jalanan di Blora,&lt;i&gt; an isolated area where Opi was born. &lt;/i&gt;Rumah yang dikontrak oleh Opi dan beberap temannya cukup mewah bagi saya. Rumah berlantai dua itu luas dan bererabotan sangat memadai. Yang paling menarik minat saya dari rumah itu adalah sebuah cermin berbingkai kayu berukuran sekitar 1x1 meter yang dipajang dinding ruang tamu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya menamgkap aura kepedihan dan duka yang terpendam yang terpancar dari dalam cermin itu. Mungkin setiap pagi cermin itu menghadapi pertanyaan : wahai cermin, siapakah gadis tercantik dirumah ini? Dari setiap penghuni rumah sambil membawa batu sebagai antisipasi jika jawaban cermin kurang memuaskan. Saya mencoba berdialog dengan cermin untuk menghiburnya. Secara lirih cermin berkata pada saya : tak usahlah kau bermanis kata coba hapus dukaku, cukuplah kehadiranmu disitu menjadi penghibur hatiku, karena pada akhirnya ada juga pemandangan indah terpantul dari dalam diriku. Saya tersenyum, merasa senang dapat meringankan penderitaan sang cermin. Saya kemudian menyusul teman-teman yang telah terlebih dahulu mengacak-acak sarang Opi dilantai dua. Sekitar lebih dari sejam kami melepas lelah disitu. Sebelum pergi menuju tujuan selanjutnya, kami semptkan dulu untuk berfoto didepan rumah Opi. Ini akan menjadi sebuah kebanggaan yang besar bagi Opi. Kelak ketika foto-foto itu sudah dicetak dan dipajang didinding ruang tamu, setiap tamu yang mengunjungi Opi akan berdecak kagum karena Opi ternyata memiliki relasi dengan orang-orang keren. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kami mampir untuk makan siang disebuab kedai sederhana namun ramai yang terletak dibelakang PI.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tempat yang sama dimana Budi dan saya sarapan pagi ini. Sotonya enak. Setara dengan soto Bang Kumis yang menjadi kegemaran saya diLampung. Tujuan kami berikutnya adalah taman arekeologi Bukit Siguntang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Taman arkeologi Bukit Siguntang dapat dicapai dengan sekali naik bis dalam waktu tempuh 20 menit. Tamannya cukup bagus. Rindang, asri dan luas. Hanya sayang, tampaknya kurang terawat dengan baik sehingga situs-situs yang ada terkesan “tidak berbicara”. Saya kekurangan kata untuk menguraikan keindahannya. Mungkin beberapa foto berikut dapat menjadi pengganti kata : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1028" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:1in;margin-top:7.2pt;width:270pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1029" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:83.5pt;margin-top:1.25pt;width:249.5pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21572 21600 21572 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1030" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:18pt;margin-top:0;width:396pt;height:297.35pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1031" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:36pt;margin-top:1.85pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image011.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                 &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1036" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image013.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1032" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-38 0 -38 21572 21600 21572 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image015.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1033" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:81pt;margin-top:-54pt;width:278.15pt;" wrapcoords="-88 0 -88 21534 21600 21534 21600 0 -88 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image017.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3uOjpGBSI/AAAAAAAAACM/46v2s8AdGQE/s1600-h/2008_07190088.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3uOjpGBSI/AAAAAAAAACM/46v2s8AdGQE/s200/2008_07190088.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228096676300195106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3waQkma2I/AAAAAAAAACc/71UhxDzxn6Q/s1600-h/2008_07190045.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3waQkma2I/AAAAAAAAACc/71UhxDzxn6Q/s200/2008_07190045.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228099076362759010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3vY0oAZrI/AAAAAAAAACU/H4-L4FvELmk/s1600-h/2008_07190076.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3vY0oAZrI/AAAAAAAAACU/H4-L4FvELmk/s200/2008_07190076.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228097952169354930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3y5ZsTOuI/AAAAAAAAACs/3TW4xGBfSl8/s1600-h/2008_07190061.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3y5ZsTOuI/AAAAAAAAACs/3TW4xGBfSl8/s200/2008_07190061.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228101810410175202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3xlnMypiI/AAAAAAAAACk/LKAVmk-PqZM/s1600-h/P7190314.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3xlnMypiI/AAAAAAAAACk/LKAVmk-PqZM/s200/P7190314.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228100370927101474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Bukit Siguntang : &lt;i&gt;you may smile now, you’ve got my footsteps on your grass.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1037" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:0;margin-top:4.85pt;width:243pt;height:214.8pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image019.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Next stop, ema ndut’s house. Anatar rumah ema dengan bukit siguntang tepisahkan oelh rentanagn saujana yang tak tertanggungkan oleh tatapan mata. Lewat setengah jam kami harus menghabiskan waktu dalam angkot untuk mencapai rumah ema. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan becak. Satu becak mengangkut dua orang. Saya yakin bahwa abang becak yang mau membawa Ronal dan Devi adalah seorang yang memiliki kelebihan dalam olah kanuragan sehingga memiliki kekuatan yang sangatlah besar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1034" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:0;margin-top:11.3pt;width:252pt;height:256.35pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image021.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rumah Ema terletak dalam sebuah lorong yang dekat dengan tepi anak sungai Musi. Kami menikmati sajian empek-empek sembari meresapi sore yang penuh kebahagiaan dirumah Ema. Beramah tamah dengan kedua orang tua Ema sembari bertanya Tanya kapankah hera akan berkenalan dengan kakak kakaknya ini. Mungkin Hera mengalami apa yang dialami oleh Rini. Devi dan ema keluar untuk membeli empek-empek dan kerupuk sebagai buah tangan kami. Sementara yang lain asyik melihat album foto ema kecil tengil. Usai shalat magrib, kami beruntung dapat mencicipi masakan ibunda ema yang lezat. Dan, usai isya, kami mengantarkan ronal dan devi ke Kertapati karena mereka akan pulang terlebih dahulu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1035" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:0;margin-top:.7pt;width:270pt;height:228.5pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image023.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Di kertapati, kami dibujuk devi untuk berfoto seolah olah antri. Devi sangat menginginkan hal ini karena devi mendendam apda suatu masa dimana dia pernah ditolak ikut antrian dengan alasan antrian hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak memakan banyak tempat. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Ronal dan Devi berangkat jam 9 malam..oh iya, bersama dek Vina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Minggu, 20 Juli 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pukul 07.30, Jana dan saya tiba diKertapati. Ada Ria,Rahmi,Riki,dan Opi yang mengantarkan kami berdua. Menjelang keberangkatan saya tak mampu banyak berkata. Palembang telah menjadi tempat yang menyenangkan bagi saya. Saya hanya bisa berkata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepada Om Thamrin dan Tante Thamrin : &lt;i&gt;you rock! &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;I love you all so much&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada Ria : terima kasih banyak atas waktu luang ditengah segala kesibukan dan masalah yang tengah mendera. &lt;i&gt;It’s gonna be unforgettable moment for me.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada Ema : kamu memang bibi endut terbaikku. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Terima kasih buanyak atas pengorbanannya mengantrikan tiket ditengah dinginnya pagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepada Budi : tenang wae dab, aku mengko dholan meneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada Rahmi : &lt;i&gt;since I left you in sunny Kertapati, I can’t believe how much I hate Sunday morning&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada Opi : &lt;i&gt;I’m trap in your game, but it feel not bad hehe..&lt;/i&gt;adios amigos!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada Riki : &lt;i&gt;my man, thanks for your hospitality brother. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepada Palembang : &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;you rock doy!!!!!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                                     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jana menatap Opi,Ria,Rahmi dan Riki dengan mata berkaca-kaca. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-2831079778624525376?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/2831079778624525376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=2831079778624525376&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2831079778624525376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/2831079778624525376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/sketsa-palembang-dalam-sebuah-kunjungan_8967.html' title='Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (part 4)'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3sjduc8OI/AAAAAAAAAB8/0KifkG6Agcg/s72-c/P7190255.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-1448285056040785627</id><published>2008-07-28T08:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T08:51:26.843-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (part 3)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jum’at, 18 Juli 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jembatan Ampera kami tinggalkan dalam kebanggaan oleh kunjungan kami. Berikutnya kami mengunjungi kios Ibunda Ema yang menyediakan busana muslimah yang terletak didalam pasar 16 Ilir. Suasana pasar ini mengingatkan saya pada suasana yang dekat dalam sepanjang hidup saya. Suasana hiruk pikuk rakyat jelata. Saya justru lebih merasa nyaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disini dibandingkan di dalam Mall yang hanya menyiksa saya dengan segala etalase semu yang menjual kepalsuan. Suasana pasar ini sungguh terasa seperti suasana pasar ditempat saya, hanya saja tidak ada kata-kata semacam : apo dio, cak mano dll disana. Kios ibunda Ema tidak jauh dari sisi terluar pasar 16 Ilir. Tak sampai 5 menit kami berjalan, sampailah kami pada kios itu. Kami bersalaman dengan beliau. Saat saya hendak mencium tangan beliau, saya lupa bahwa saya mengenakan topi sehingga lidah topi saya nyosor duluan ke tangan beliau. Dalam hati saya terjadi sebuah dialog usai bersalaman. Dialog tersebut adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Saya : emaknya ema ini mirip siapa ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Saya juga : mirip Hera, adeknya Ema&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Saya : ho’oh, bener, pinter lo. Hihihi..gua jadi kebayang adeknya Ema ntar kalo udah jadi ibu-ibu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Saya juga : iya sama. Kalau Ema kayak gini juga enggak ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Saya : sama saja, Cuma dengan ukuran dua kali lipatnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Liat aja, sekarang udah se-endut itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya juga : hehehehe… emang subur-subur kawan-kawan kita ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ema dan Ria menunaikan shalat Dzuhur sementara Jana dan saya duduk santai didepan kios ibunda Ema. Sebenarnya kami risih, kami merasa ibarat kalung berlian Afrika yang tengah dipajang dalam sebuah pameran yang dihadiri oleh para wanita kaya pengkoleksi batu mulia. Mendadak, satu hal yang tak terduga terjadi. Satu hal yang sebenarnya sangat tidak asing terjadi dinegeri ini, yaitu : mati lampu alias Dead Lamp! Gelap melanda, namun sebuah gagasan terpancar dalam otak saya. Gagasan ini saya utarakan kepada Jana. Gagasan itu adalah sebuah skenario sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam gelap saya mendekati ibu-ibu yang berada disekitar saya. Satu demi satu. Kemudian terjadi dialog seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya : ehm..ehm..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ibu2 : ??????????&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya : maaf bu, saya seseorang yang berasal dari Lampung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ibu2 : oh, firasat saya menjadi nyata.belakangan ini saya berfirasat akan bertemu orang keren dari ujung pulau Sumatera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya : ah, ibu terlalu melebih-lebihkan. Saya akan mengutarakan satu hal penting pada ibu. Harap ibu menjadi waspada karenanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ibu2 : (ah,sayang aku sudah menikah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya : ibu, kejadian seperti ini beberapa kali terjadi di Lampung. Mati lampu ditengah pasar lewat tengah hari. Kala itu dalam gelap yang bersimaharaja, terdengar suara jerit kesakitan tertahan. Jerit itu susul menyusul dan berkelindan dengan aroma anyir darah. Dan…ketika lampu menyala…………………….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ibu2 : aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….brak!!bruk!!!gedubrak!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya : hehehehehehehe..&lt;i&gt;what a nice job&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari kios ibunda Ema, saya makan siang ditemani oleh ketiga sahabat baik saya. Menunya adalah nasi RENDANG. &lt;i&gt;What?? You’re in Palembang now!! &lt;/i&gt;Apa boleh buat,memanglah pada kenyataannya makanan macam empek2 dll kurang mampu memikat lidah saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-66 0 -66 21512 21600 21512 21600 0 -66 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3qOyvL37I/AAAAAAAAABk/xo738EEaGEI/s1600-h/Dscn0308.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3qOyvL37I/AAAAAAAAABk/xo738EEaGEI/s200/Dscn0308.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228092282305765298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pukul 14.30 kami telah berada dalam sebuah angkot merah yang akan mengantarkan kami menuju stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Kami akan menyaksikan pertandingan antara Sriwijaya FC melawan Persiwa Wamena. Hujan mulai turun saat itu. Menyisipkan percik-percik kesyahduan diantara gersangnya hamparan kehidupan. Hujan pun hadir sebagai lajur-lajur keindahan yang menyiram harapan yang mulai mengering bersama mengeringnya rasa kemanusiaan ditengah zaman yang terus menghimpit dengan kesusahan.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;I’m drowning, along with my heart. &lt;/i&gt;Tragedi menimpa Ema dalam perjalanan. Pada suatu ketika sebuah motor melaju kenjang menerjang genangan air hujan ditepi jalan. Nguenggg…crash…!!! Cipratan air melaju kencang menyiram Ema yang duduk dipojok. Ema menjerit: aadddduuuuuhhh…bedakkiu luntur boooo!!!!! Sebuah jeritan yang menyayat hati. sementara saya mulai meyakini bahwa air pun memiliki sebuah kode etik yang melarangnya untuk menyiram paras rupawan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menjelang ashar, kami tiba di Jakabaring. Sebuah stadion yang membuat saya iri pada &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bagus, bersih, dan indah. Memasuki stadion di tribun barat, atmosfer yang saya rasakan sungguh megah. Suara genderang membahana diseantero stadion, nyanyian suporter yang bergema menggugah semangat, dan lapangan luas yang hijau. Suasana seperti ini telah lama saya idam-idamkan. &lt;i&gt;Just like a dream come true! &lt;/i&gt;Pada pertandingan kali ini, Sriwijaya Football Club (SFC) mengenakan kostum kuning-kuning sementara Persiwa mengenakan kostum putih hijau. Sepanjang pertandingan SFC bermain taktis dengan bola-bola pendek yang sesekali diiringi dengan through ball dari Zah Rahan atau long pass dari Charis Yulianto. Pola ini cukup efektif untuk merepotkan Persiwa sehingga mereka bermain kurang agresif. Persiwa sesekali mengancam pertahanan SFC dengan direct ball dari sang playmaker yang mencoba memanfaatkan postur kokoh menjulang dari striker persiwa, Benoit. Gol pertama SFC lahir dari kaki kapten mereka, Kayamba Gumps pada pertengahan babak pertama. Gol kedua lahir pada babak berikutnya lewat kaki Obiora dan ditutup oleh Corinus &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:195pt;margin-top:148.5pt;" wrapcoords="-66 0 -66 21512 21600 21512 21600 0 -66 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3qijDA3eI/AAAAAAAAABs/-ZXcB1f7q8g/s1600-h/Dscn0310.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3qijDA3eI/AAAAAAAAABs/-ZXcB1f7q8g/s200/Dscn0310.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228092621691346402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;memanfaatkan kemelut didepan gawang Persiwa. Saat injury time, persiwa memperkecil kedudukan menjadi 3-1 lewat Benoit. Permainan yang hebat dari SFC. Siapa dulu pelatihnya, pak Rahmad Darmawan. Tetangga saya itu wah, orang Lampung juga. Aguiii..hebat kali bapak ini. Sepanjang pertandingan, susah payah saya menahan hasrat saya untuk berteriak : &lt;i&gt;hayoh, persiwa…beat them!! &lt;/i&gt;Terpaksa saya menahannya karena disekitar saya sama sekali tidak ada orang yang &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1028" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:7.8pt;" wrapcoords="-88 0 -88 21534 21600 21534 21600 0 -88 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\001\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3q2JuqQPI/AAAAAAAAAB0/hPuNL1yvZjM/s1600-h/Dscn0322.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3q2JuqQPI/AAAAAAAAAB0/hPuNL1yvZjM/s200/Dscn0322.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228092958492475634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;berkata : beta dukung Persiwa! &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rembang petang menyambut peluit panjang wasit menutup pertandingan yang cukup sportif tersebut. Penonton mulai berdesak-desakan keluar. Kami berpisah dengan Ria yang harus mengikuti Press Conference lalu ke kantornya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara kami akan menuju ke Palembang Indah Mall dimana saya akan bertemu dengan sahabat lama saya. Stadion Jakabaring saya tinggalkan dengan perasaan masygul. Betapa tidak, saat saya ingin berfoto didepan tugu nama stadion, eh ada orang tidak beradab atau mungkin kehilangan akal sehatnya, kencing dengan penuh keikhlasan disitu. Andai saya hidup didunia komik, pasti saya akan hantam orang itu dengan rudal scud lalu saya bacok-bacok dengan pedang Viking yang guede itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Usai shalat magrib di PIM, saya menunggu kedatangan sahabat saya yang telah lima tahun tinggal di Palembang. &lt;i&gt;He’s a cop. &lt;/i&gt;Sementara Jana pulang ke rumah Ria dijemput Riki. Tinggallah Ema dan saya duduk didepan PIM. Tak lama berselang, datanglah Budi, sahabat yang saya nanti. Dengan bijak saya titahkan kepada Ema : pulanglah engkau bik, persiapkan segalanya untuk bekalku esok. Ema mengangguk dengan takzim. Budi tinggal tidak jauh dari PIM. Sesampainya ditempat tinggalnya, dia menginterogasi saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Budi : cah gemblong, koe dholan mrene nggone cewekmu yo? Cewean wae!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya : nduasmu, koe seng kenther! Aku ora nduwe cewek nyok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Budi : heleh, mbel gedhes. Ora mungkin cah nggantheng koyo koe ora nduwe cewek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Saya : hahaha..saestu, leres dawuhe panjenengan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nanging, kawulo niki tipe pemikat sanes pengejar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Budi : hmmmmm….yo wes aku ngandhel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya makan malam bebek panggang yang gurih bersama Budi dan calon istrinya, &lt;i&gt;such a nice lady&lt;/i&gt; yang ramah dan baik hati. setelah mengantar calon istrinya pulang, Budi mengajak saya berjalan-jalan mengitari kota Palembang dimana dia telah sekian lama menjalankan tugasnya. Jalanan Palembang yang kami lewati terasa bagaikan lorong waktu bagi saya. Lorong waktu yang membawa saya ke masa kecil saya sebagai murid Sd dan masa remaja saya sebagai murid SMP. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Budi adalah musuh saya dalam bermain tenis meja dan Badminton semasa SD. Dan tetap menjadi musuh saya semasa SMP karena saya adalah fans MU sementara dia adalah fans Arsenal. Namun satu hal yang menyatukan kami, seni musik. Kami adalah enemy number 1 bagi guru seni musik kami karena kegemaran kami berbuat onar setiap latihan paduan suara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami singgah di Kambang Iwak. Saya menyukai tempat ini. Sebuah kolam yang luas dan bersih. Dikelilingi oleh trotoar yang rindang dan warung-warung kecil yang menjual beraneka minuman. Saying, terlalu &lt;i&gt;western &lt;/i&gt;sehingga saya tak bisa menemukan bandrek atau sekuteng kegemaran saya. Ditengah kolam, ada air mancur yang diterangi oleh lampu hijau yang indah. Saya dan Budi duduk ditepi kolam sambil menikmati hot cappuccino yang terasa terlalu manis bagi saya. Masa kanak-kanak dan remaja menjadi topic perbincangan yang sungguh memberikan kesenangan dalam puncaknya. Masa depan dan peta hidup kemudian menjadi topic yang sungguh menggoda pikiran. Budi memesan sissai rasa bubble gump untuk menghangatkan perbincangan katanya. Dia ayik dan menikmati setiap hirupannya sementara saya menghirup sissai itu dengan gumaman-gumaman dalam setiap hembusannya : &lt;i&gt;what a weird taste, ough Arabs!! &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lepas tengah malam, kami berdua kembali menyusuri jalanan kota Palembang yang mulai lengang. Sampai pada suatu ketika saya melihat segerombolan wanita jadi-jadian yang sangat menakutkan bagi saya, melebihi rasa takut saya pada makhluk seseram sadako sekalipun. Ketika kantuk mulai menyerang kami pulang dengan berbekal 6 buah duren matang. Kembali kami ngobrol ngalor ngidul sambil menyantap duren. Kami berhenti pada saat kentut saya mulai bau duren. Budi berkata : &lt;i&gt;lambe opo jeglongan, duren sak munu mbane entek !&lt;/i&gt; saya menjawab : &lt;i&gt;cangkem-cangkem cluthak! Duren semene mbane ludhes!&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-1448285056040785627?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/1448285056040785627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=1448285056040785627&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1448285056040785627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/1448285056040785627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/sketsa-palembang-dalam-sebuah-kunjungan_28.html' title='Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (part 3)'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SI3qOyvL37I/AAAAAAAAABk/xo738EEaGEI/s72-c/Dscn0308.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-3590499042021406333</id><published>2008-07-24T09:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T10:15:21.687-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Jum’at, 18 Juli 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Pagi ini tak sempat saya memberi kesempatan pada matahari pagi diatas bumi Palembang untuk mementaskan sebuah harmoni alam yang memikat hati. Bukan maksud hati membenci pagi, namun saya tak kuasa melawan sergapan kantuk yang membuai saya dalam kelenaan hingga pukul 07.00 pagi. Sebagai wujud penyesalan saya maka saya lanjutkan tidur saya kembali agar terlupa segala rasa sesal dihati. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika rasa sesal itu telah pergi, saya bangun dan memulai hari dengan sebuah aktivitas rutin yang secara alami saya selalu saya lakukan untuk memulai pagi. &lt;i&gt;Oh dear closet, come and take me in your arms..&lt;/i&gt; setelah menyelesaikan rutinitas ini entah kenapa perasaan saya menjadi jauh lebih baik. Rasa sesal saya terhadap pagi telah pudar dengan sendirinya berganti dengan perasaan yang penuh kesenangan. Kemudian, dari jendela kamar Ria yang terletak dilantai dua, saya menatap dengan khidmat langit pagi Palembang. Jernih dan luas. Angin yang cukup kencang bertiup tak mampu mengalihkan tatapan saya ke langit. Bukan berarti angin tidak memiliki keindahan bagi saya, hanya saja langit menampakkan keindahannya dengan lebih nyata. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika mata saya telah jemu, saya kembali ke kamar Riki yang menjadi tempat dimana saya tidur semalam. Sementara Ronal dan Devi serta Ria tengah menyibukkan diri, dan Jana entahlah apa yang dilakukannya, saya kurang perduli karena dia tidak memiliki daya tarik yang cukup untuk memikat pandangan saya. Akhirnya, saya meraih sebuah novel yang ada di rak kamar. Judulnya Taj Mahal karya John Shors kalau tidak salah. Apa yang menjadi pemikat hati saya atas novel ini bukanlah kentalnya aroma kisah kegemilangan pencapaian peradaban bangsa Mughol yakni Taj Mahal yang dibangun oleh Syah Jehan. Yang menjadi pemikat dari novel ini adalah covernya yang bergambar wanita berparas rupawan dengan tatapan mata yang melankolis dan memancarkan sebuah pesona kelembutan. Saya langsung membaca buku itu dengan sebuah pola yang saya yakin tidak lazim dilakukan oleh orang kebanyakan. Polanya adalah : setiap selesai 1 halaman saya baca, saya melihat kembali cover novel itu untuk memanjakan mata saya pada gambarnya yang indah. Selanjutnya, moksalah saya ke sudut imajinasi yang tersekat dari dunia oleh oleh novel tersebut. Tak lama berselang datanglah Rahmi,&lt;i&gt;our lovely friend’s too&lt;/i&gt;, yang rumahnya terletak tidak jauh rumah Ria. Kehadiran Rahmi membuat saya berfikir : &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;wow, the girl from the cover is come to surface now!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tengah kami asyik bercanda tawa, datanglah lagi segerombolan gadis yang tak lagi belia. Mereka adalah&lt;i&gt; my dear friend &lt;/i&gt;Ema gendut, &lt;i&gt;dek &lt;/i&gt;Vina dan seorang teman &lt;i&gt;dek &lt;/i&gt;Vina. Terbersit sebuah tanya dalam hati saya melihat kehadiran mereka : mungkinkah bobot &lt;i&gt;dek &lt;/i&gt;Vina ditambah bobot temannya sama dengan bobot Ema? Namun pertanyaan ini tetap saya simpan dalam hati mengingat ini Palembang bukan Lampung yang berarti saya berada diwilayah kekuasaan Ema gendut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi2vlnZlqI/AAAAAAAAAAw/4FLGKd8Rttk/s1600-h/Dscn0279.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi2vlnZlqI/AAAAAAAAAAw/4FLGKd8Rttk/s200/Dscn0279.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226628296230934178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tak lama berselang dari pukul 10.30, rumah Ria kembali sunyi dari keramaian kami. Saya bersama Ria, Ema dan Jana memilih tujuan yang berbeda dari kawan-kawan lain. Tujuan yang saya bayangkan adalah : Masjid Agung untuk shalat Jum’at, makan di warung makan bonafit dengan Ria sebagai donatur ikhlas yang menanggung pembayarannya, mengunjungi tempat bersejarah di Palembang, jajan yang banyak dengan Ema sebagai pihak penanggung dana, mengunjungi Jembatan Ampera lalu menuliska sebuah kalimat dengan tinta pink pada tiangnya : &lt;i&gt;Mr. Cool was here, you must be proud Palembang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam perjalanan menuju Masjid Agung, ada sebuah fenomena menarik yang membedakan Palembang dari Lampung. Fenomena itu adalah sebuah kata yang berfungsi untuk menghentikan angkot yang ditumpangi. Jika di Lampung saya biasa mengatakan &lt;i&gt;minggir baaaaanggg yeahhh!! &lt;/i&gt;Untuk meminta angkot berhenti, tapi di Palembang kata yang harus dilontarkan adalah : STOP!! Saya merasa beruntung dalam rombongan saya kali ini Devi terpisah. Jika tidak hancurlah citra penampilan saya sebagai rocker garang, sebab Devi pasti tidak akan berhenti pada kata STOP saja, bisa dipastikan dia akan berkata :&lt;i&gt; STOP!!! Kau mencuri hatiku..hatikuuuu &lt;/i&gt;demi munujukkan eksistensinya sebagai &lt;i&gt;the trully dangdut girl. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Satu bangunan yang mencuri perhatian saya dalam perjalanan menuju Masjid Agung adalah gedung walikota Palembang. Arsitekturnya unik dan kental dengan ornamen-ornamen Eropa klasik. Tak dinyana, rupanya gedung itu dulunya adalah gedung air yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada dekade 1930-an dengan biaya setara dengan 1 ton emas. Langsung saja terbersit dalam pikiran saya bahwa mungkin suatu saat nanti&lt;i&gt; The Stupid Clan&lt;/i&gt; Punjabi bakal membuat pelem Hantu gedong Air disini dengan menampilkan Cinta Laura sebagai aktris utamanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Menjelang tengah hari sampailah kami di Masjid Agung. Sebagaimana umumnya kota-kota yang memiliki sejarah peradaban &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Islam, di dekat keraton biasanya terdapat bangunan masjid. Pada keraton di Jawa, di sebelah utara terdapat alun-alun, dan bangunan masjid biasanya terletak di sebelah barat alun-alun. Bangunan keraton menghadap ke arah utara. Di Palembang keadaannya berbeda dengan di Jawa. Bangunan keraton di jaman Kesultanan Palembang dibuat di tepi utara sungai Musi (bangunan keraton menghadap ke selatan), sedangkan bangunan masjid terletak di sebelah timurlaut keraton. Mesjid Agung Palembang pada mulanya disebut Mesjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian mesjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748). Masjid yang mempunyai arsitektur yang khas dengan atap limas-nya ini, konon merupakan bangunan masjid yang terbesar di nusantara pada kala itu. Arsiteknya orang Eropa dan beberapa bahan bangunannya seperti marmer dan kacanya diimpor dari luar nusantara. Kala itu daerah pengekspor marmer adalah Eropa. Bentuk mesjid yang sekarang dikenal dengan nama Mesjid Agung, jauh berbeda tidak seperti yang kita lihat sekarang. Bentuk yang sekarang ini telah mengalami berkali-kali perombakan dan perluasan. Pada mulanya perbaikan dilakukan oleh pemerintah Belanda setelah terjadi perang besar tahun 1819 dan 1821. Setelah dilakukan perbaikan kemudian dilakukan penambahan/perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, dan terakhir pada tahun 1990-an. Pada pekerjaan renovasi dan pembangunan tahun 1970-an oleh Pertamina, dilakukan juga pembangunan menara sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tidak dirobohkan.&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="imgview" spid="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;margin-left:54pt;margin-top:2.05pt;width:315pt;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Suasana didalam Masjid sangat sejuk. Saya merasa sangat nyaman untuk meruangkan hati saya menjadi sebuah kepasrahan dan ketundukkan dalam suatu pemujaan transenden kepada Dzat Yang Maha Suci dan Agung. Hampir pukul 1 ketika saya keluar dari Masjid Agung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedamaian yang saya dapatkan dalam shalat Jum’at rupanya hanya menjadi sebuah persiapan mental untuk menghadapi satu realita yang kejam. Realita itu adalah: gejolak rasa lapar mampu membuat manusia melupakan solidaritas pada sahabatnya. Hal ini terbukti pada apa yang saya alami, disaat saya shalat ketiga teman saya asyik menyantap martabak bakar. Oh..sungguh kejam mereka. Namun saya tak akan menaruh dendam atau melepaskan kemarahan pada mereka karena dengan sepenuh hati saya meyakini bahwa sifat pemaaf akan membuat seorang lelaki menjadi lebih tampan dan berwibawa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sirnalah sudah angan-angan saya akan makan siang bersama seorang donatur yang bernama Ria. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Masjid Agung, kami berjalan kaki selama 10 menit. Tujuan kami sebenarnya adalah pasar 16 Ilir untuk menemui Ibunda Ema. Akan tetapi, saat saya melihat Museum Sultan Mahmud Badaruddin II tak kuasa rasanya saya untuk menolak daya tarik wisata sejarah yang tersaji didepan mata. Saya ceritakan gejolak perasaan saya pada Ema layaknya Chairil muda menceritakan pesona Mirat kepada Sjahrir. Ema dapat memahami perasaan saya sehingga pada akhirnya kami berempat mengunjungi Museum tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" alt="Mahmud Badaruddin II" title="&amp;quot;Mahmud Badaruddin II&amp;quot;" style="'position:absolute;" wrapcoords="-120 0 -120 21490 21600 21490 21600 0 -120 0" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" href="file:///I:\data%20agung\Mahmud%20Badaruddin%20II%20dari%20Palembang%20-%20Wikipedia%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas%20berbahasa%20Indonesia_files\180px-Mahmud_Badaruddin_II.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sultan Mahmud Badaruddin II lahir di Palembang pada tahun 1767 dan wafat di Ternate pada tanggal 26 November 1862. Beliau adalah adalah pemimpin kesultanan &lt;u&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palembang-Darussalam" title="Palembang-Darussalam"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Palembang-Darussalam&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1803" title="1803"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;1803&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1819" title="1819"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;1819&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;),&lt;/u&gt; setelah masa pemerintahan ayahnya, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sultan_Mahmud_Badaruddin&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sultan Mahmud Badaruddin (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Sultan Mahmud Badaruddin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Britania" title="Britania"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Britania&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Belanda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah &lt;b&gt;Sir Thomas Stamford Raffles.&lt;/b&gt; Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini. Karena itu, Raffles sangat menaruh hormat di samping ada kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lord_Minto" title="Lord Minto"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Lord Minto&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/15_Desember" title="15 Desember"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;15 Desember&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1810" title="1810"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1810&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dollar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya. Saya anggap inilah yang merupakan satu pokok yang penting untuk menghalangi Daendels memanfaatkan pengadaan sumber yang besar tersebut.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bersamaan dengan adanya kontak antara Britania dan Palembang, hal yang sama juga dilakukan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Belanda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam hal ini, melalui utusannya, Raffles berusaha membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang (surat Raffles tanggal 3 Maret 1811). Dengan bijaksana, SMB II membalas surat Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Britania dan Belanda, serta tidak ada niatan bekerja sama dengan Belanda. Namun akhirnya terjalin kerja sama Britania-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada &lt;b&gt;14 September&lt;/b&gt; &lt;b&gt;1811&lt;/b&gt; terjadi peristiwa pembumihangusan dan pembantaian di loji Sungai Alur. Belanda menuduh Britanialah yang memprovokasi Palembang agar mengusir Belanda. Sebaliknya, Britania cuci tangan, bahkan langsung menuduh &lt;b&gt;SMB II&lt;/b&gt; yang berinisiatif melakukannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Peristiwa Sungai Alur ini berujung pada konfrontasi fisik antara Britania dengan Palembang.Britania mengirimkan armada perang dibawah pimpinan Gillespie. Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II menyingkir ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Muara_Rawas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Muara Rawas (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Muara Rawas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, jauh di hulu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Musi" title="Sungai Musi"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Sungai Musi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Britania mengangkat Pangeran Adipati (adik kandung SMB II)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi sultan dengan gelar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ahmad_Najamuddin_II&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ahmad Najamuddin II (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ahmad Najamuddin II&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/14_Mei" title="14 Mei"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;14 Mei&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1812" title="1812"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1812&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. . Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=28_Agustus_1812&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="28 Agustus 1812 (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;28 Agustus 1812&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Residen Britania untuk Palembang, Meares, membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu Muara Rawas. Dalam sebuah pertempuran di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buay_Langu&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Buay Langu (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Buay Langu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Meares tertembak dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Mentok. Kedudukannya digantikan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mayor_Robison&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Mayor Robison (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Mayor Robison&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan SMB II. Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik takhta kembali pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/13_Juli" title="13 Juli"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;13 Juli&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1813" title="1813"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1813&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813. Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang diberikannya tidak sesuai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perang_Menteng&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Perang Menteng (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Perang Menteng&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (dari kata Mutinghe) pecah pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/12_Juni" title="12 Juni"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;12 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1819" title="1819"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1819&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari, tetapi pertahanan Palembang tetap sulit ditembus, sampai akhirnya Mutinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan. Belanda tidak menerima kenyataan itu. Gubernur Jenderal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Van_der_Capellen" title="Van der Capellen"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Van der Capellen&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; merundingkannya dengan Laksamana JC Wolterbeek dan Mayjen Herman Merkus de Kock dan diputuskan mengirimkan ekspedisi ke Palembang dengan kekuatan dilipatgandakan. Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II, kemudian mengangkat keponakannya (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pangeran_Jayaningrat&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pangeran Jayaningrat (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Pangeran Jayaningrat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;) sebagai penggantinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;SMB II telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan sistem perbentengan yang tangguh. Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum masuk Palembang, dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan. Kelak, benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertempuran sungai dimulai pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/21_Oktober" title="21 Oktober"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;21 Oktober&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1819" title="1819"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1819&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek. Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi. Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/30_Oktober" title="30 Oktober"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;30 Oktober&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 1819.SMB II masih memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan. Persiapan pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra Mahkota, Pangeran Ratu, pada Desember 1819 diangkat sebagai sultan dengan gelar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ahmad_Najamuddin_III&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ahmad Najamuddin III (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ahmad Najamuddin III&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. SMB II lengser dan bergelar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Susuhunan" title="Susuhunan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;susuhunan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Penanggung jawab benteng-benteng dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan.Setelah melalui penggarapan bangsawan dan orang Arab Palembang melalui pekerjaan &lt;i&gt;spionase&lt;/i&gt;, serta persiapan angkatan perang yang kuat, Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar. Tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Mei" title="16 Mei"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;16 Mei&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1821" title="1821"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1821&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; armada Belanda sudah memasuki perairan Musi. Kontak senjata pertama terjadi pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/11_Juni" title="11 Juni"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;11 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/20_Juni" title="20 Juni"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;20 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 1821. Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda mengalami kekalahan. De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia, melainkan mengatur strategi penyerangan.Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramadhan" title="Ramadhan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ramadhan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/24_Juni" title="24 Juni"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;24 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang. Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/25_Juni" title="25 Juni"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;25 Juni&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Juli" title="1 Juli"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1 Juli&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; 1821 berkibarlah bendera &lt;i&gt;rod, wit, en blau&lt;/i&gt; di &lt;i&gt;bastion&lt;/i&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kuto_Besak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kuto Besak (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Kuto Besak&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, maka resmilah kolonialisme &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda" title="Hindia Belanda"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di Palembang.Tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/13_Juli" title="13 Juli"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;13 Juli&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1821" title="1821"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;1821&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, menjelang tengah malam, SMB II beserta keluarganya menaiki kapal &lt;i&gt;Dageraad&lt;/i&gt; dengan tujuan Batavia. Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ternate" title="Ternate"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ternate&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sampai akhir hayatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lukisan-lukisan SMB II serta perang yang terjadi antara Palembang melawan Belanda sejenak membawa saya pada ruang imajiner yang disesaki oleh para tentara, bau mesiu, bau anyir darah, dentuman ledakan yang dahsyat serta pekik kemarahan dan kesakitan. Bangsa saya bukanlah bangsa yang terlahir sebagai manusia pasif menerima penjajahan, namun kemana identitas itu sekarang? Bangsa saya sekarang menjadi bangsa yang pasif terhadap penjajahan kultural dan kapital bangsa asing. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1028" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-88 0 -88 21534 21600 21534 21600 0 -88 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi4CCfJVKI/AAAAAAAAABA/k40w7-cJlic/s1600-h/Dscn0292.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi4CCfJVKI/AAAAAAAAABA/k40w7-cJlic/s200/Dscn0292.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226629712730215586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara Ria bercakap-cakap via telepon dengan nara sumber beritanya, saya bersama Jana dan Ema menjejalajahi isi museum menikmati mozaik-mozaik sejarah yang terpajang dalam sebuah etalase sunyi. Sembari beberapa kali kami berfoto mengabadikan kunjungan kami disini. Yang paling menarik minat saya untuk menjadi background foto adalah kursi pelaminan etnik Palembang. Kepercayaan saya akan mitos mengharuskan saya untuk menolak keinginan Jana berfoto bersama saya didepan kursi pelaminan itu. Pada Jana saya katakan : ”doy, ongkos ke Belanda itu mahal! Mending mulai sekarang kita tobat yah”. Sebaliknya saat difoto oleh Ema saya membayangkan paras cantik Revalina S. Temat dengan penuh hasrat dan cinta. Saya berharap semoga ada mitos yang menyebutkan bahwa lelaki manasaja yang membayangkan gadis pujaannya dihadapan kursi ini maka kelak suatu saat akan benar-benar bersanding di kursi ini sebagai sepasang pengantin yang berbahagia. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi4Vxo0YMI/AAAAAAAAABI/fxj2dnddZTs/s1600-h/Dscn0304.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi4Vxo0YMI/AAAAAAAAABI/fxj2dnddZTs/s200/Dscn0304.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226630051804766402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Persinggahan berikutnya adalah Jembatan Ampera. Benar-benar gagah dia dengan warna merahnya. Ingin saya berdiri dipuncak salah satu tiangnya lalu berteriak :&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;“. eeeee….mmmmaaaakkkk ….anak bungsumu yang paling tampan telah menapakkan kakinya di bumi Sriwijaya!!”. Sayangnya, ada indikasi bahwa apa saja yang berbobot 60 kg sangat rentan untuk jatuh dari puncak tiang akibat kencangnya tiupan angin. Saya tidak takut oleh ancaman bahaya itu. Hanya saja, jika hal itu terjadi bisa saja saya tewas dalam pelukan aspal!! Itu namanya Su’ul Khotimah. Padahal saya sangat mendamba untuk menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan wanita cantik, bukan aspal!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-3590499042021406333?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/3590499042021406333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=3590499042021406333&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/3590499042021406333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/3590499042021406333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/sketsa-palembang-dalam-sebuah-kunjungan_24.html' title='Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (2)'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIi2vlnZlqI/AAAAAAAAAAw/4FLGKd8Rttk/s72-c/Dscn0279.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-3349591046922401430</id><published>2008-07-24T09:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T09:36:07.812-07:00</updated><title type='text'>Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (1)</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Kamis, 17 Januari 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mentari hadir bebaskan bumi dari desakan mimpi di ruang sunyi. Kabut samar menyebar. Lazuardi bergulir berkelindan dengan bulir embut gelayuti daun-daun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pesona pagi kali ini tak luput dari tatapan saya. Pentas pesona yang sungguh teramat sayang sering saya lewatkan. Dan, pagi ini pun tak lama dapat saya manjakan mata saya karena saya harus membangunkan Ronal yang mungkin tengah terlelap dalam mimpi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di kamar sebelah usai lelah mencari letak ketampanan dari dirinya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sejenak, saya yakinkan bahwa diri saya adalah anak gembala yang mengemban tugas penting : membangunkan kerbau demi keselamatan sebuah negara, sugesti saya ini lakukan demi membangun sebuah kegigihan dalam diri saya. Maklum, perlu usaha ekstra untuk membangunkan Ronal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pukul 06.00 pagi, bersama Ronal saya menjumpai Jana digang Cengkeh. Kali ini kembali Jana menunjukkan bahwa dia memiliki daya resistensi terhadap kebiasaan-kebiasaan yang lazim berlaku. Kebiasaan yang ditentang oleh Jana pada pagi ini adalah kebiasaan mandi pagi yang lazim dilakukan rakyat Indonesia sebelum beraktivitas. Akhirnya, bertiga kami menuju stasiun Tanjung Karang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sampai di stasiun, sirnalah angan saya tentang pagi yang damai menanti kedatangan KA. Stasiun telah dipadati calon penumpang. Jana dan Ronal mengantri tiket diloket yang ada sementara saya mengantri didepan pintu WC umum demi sebuah rutinitas yang berdampak positif bagi proses metabolisme tubuh. Tak berapa lama kemudian, datanglah Devi yang merupakan gadis paling cantik diantara kami berempat. Kehadiran Devi sangat melegakan saya karena memastikan bahwa Jana dan Ronal tidak akan kecentilan didalam KA bila bertemu dengan Om-om mengingat mereka menyadari bahwa mustahil bagi mereka bisa lebih cantik dari Devi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pukul 08.30 KA meluncur meninggalkan stasiun Tanjung Karang. Meninggalkan segala rasa penasaran saya tentang apa rasanya naik KA. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-38 0 -38 21572 21600 21572 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIiuqsqfJzI/AAAAAAAAAAY/7sGcxcQBYCw/s1600-h/P7170196.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIiuqsqfJzI/AAAAAAAAAAY/7sGcxcQBYCw/s200/P7170196.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226619416130561842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kondisi didalam gerbong tidak mengecewakan. Kursi-kursi penumpang berlapis busa tipis, tidak ada sampah yang bertebaran dikolong kursi dan kambing atau ayam yang sangat berpotensial untuk memicu perseteruan antar penumpang manakala hewan-hewan tersebut dengan suka rela membuang tokai mereka dalam KA. Kami berempat duduk saling berhadapan. Sepanjang perjalanan, nyatalah sekali betapa Ronal dan Devi amatlah pantas di sebut sebagai sang penyelamat dalam rombongan kami. Mereka berdua memposisikan diri sebagai suplier makanan sementara Jana dan saya dengan senang hati dan tanpa perasaan tersinggung sama sekali memposisikan diri sebagai pihak yang menerima dan mengkonsumsi makanan yang dibawa oleh Devi dan Ronal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;margin-left:0;margin-top:9pt;width:225pt;height:168.55pt;" wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIivRnuiitI/AAAAAAAAAAg/MX2o3T7YIcs/s1600-h/P7170194.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIivRnuiitI/AAAAAAAAAAg/MX2o3T7YIcs/s200/P7170194.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226620084820282066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ada dua hal yang tak henti mewarnai perjalanan kami dalam KA yang menuju stasiun Kertapati Palembang. Pertama, tentu saja goyang Dangdut. Hal ini nyata sekali pada apa yang sering sekali dilakukan Devi sepanjang perjalanan. Dengan ekspresi wajah melankolis Devi menggoyangkan tangan dan pinggangnya dengan santai dan khidmat mengikuti goyangan-goyangan yang disebabkan oleh getaran KA. Pelan tapi pasti ulah Devi ini mulai mempengaruhi Ronal, Jana dan saya. Kedua adalah Live Music. Hampir disetiap stasiun dimana KA berhenti selalu muncul para pemuda bersahaja yang menyajikan live music show bagi penumpang KA. Sebuah lagu yang sangat menyentuh perasaan kami adalah lagu kangen band yang liriknya seperti ini : &lt;i&gt;kekasih yang dulu hilang kini telah kembali pulang&lt;/i&gt;…….. Kangen Band selalu menjadi inspirasi bagi kami karena merekalah yang membuat kami percaya bahwa peluanglah yang menentukan suatu kesuksesan materi, bukan penampilan dan kualitas bakat. Kami sebagai orang-orang yang tidak beruntung dengan penampilan dan kualitas bakat kami tentu saja menganggap Kangen Band sebagai inspirasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekitar pukul 19.30 sampailah kami di stasiun KA Kertapati. Kami dijemput oleh Riki, adik dari sahabat baik kami Ria. Ditengah obrolan Ronal dengan Riki dan gumaman lapar Devi, saya dan Jana tak jemu menyapukan pandangan kepada apa yang kami lihat sepanjang jalan. Kelap-kelip lampu jalanan berpendar membiaskan perasaan puas dalam hati saya. Yah, sebuah kepuasaan mengingat telah lama saya berhasrat untuk mengunjungi Palembang, dan tibalah masa dimana hasrat itu tidak menjadi angan semu lagi. Palembang &lt;i&gt;here I come!&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Palembang seramai yang saya bayangkan sebelumnya. Ramai kuantitas manusianya dan ramai intonasi percakapannya. Ada satu hal yang memaksa saya harus mulai beradaptasi, yaitu pendengaran saya dengan suara-suara yang sebelumnya asing bagi saya, terutama suara-suara &lt;i&gt;native people &lt;/i&gt;yang aksen serta intonasi ucapannya berayun-ayun. Sedikit geli saya mendengar pada mulanya, kemudian berubah menjadi sebuah keasyikan yang besar ketika mulai mencoba untuk mengucapkannya seperti mereka. Lepas dari Kertapati, mobil yang kami tumpangi melintasi sebuah jembatan besi diatas anak sungai Musi. Jalanan tidak terlalu padat. Mobil melaju santai, memudahkan saya untuk menangkap semua pemandangan yang terlihat. Lalu, tibalah pada bangunan monumental yang selalu mengundang ketertarikan dan kekaguman saya, Jembatan Ampera. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepanjang ingatan saya, jembatan ini mulai dibangun pada April 1962. Pada awalnya, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965 Oleh Letjend Ahmad Yani. Akan tetapi, setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera. tetapi masyarakat palembang lebih suka memanggil jembatan ini dengan sebutan &lt;strong&gt;“Proyek Musi”. &lt;/strong&gt;Bagian jembatan yang berat keseluruhan 944 ton itu dapat diangkat dengan kecepatan sekitar 10 meter per menit.&lt;br /&gt;Dua menara pengangkatnya berdiri tegak setinggi 63 meter. Jarak antara dua menara ini 75 meter. Dua menara ini dilengkapi dengan dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton. Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.&lt;br /&gt;Sejak tahun 1970, Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaikturunkan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir, dua daerah Kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi.Alasan lain karena sudah tidak ada kapal besar yang bisa berlayar di Sungai Musi. Pendangkalan yang semakin parah menjadi penyebab Sungai Musi tidak bisa dilayari kapal berukuran besar. Sampai sekarang, Sungai Musi memang terus mengalami pendangkalan .Pada tahun 1990, dua bandul pemberat untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan, yang masing-masing seberat 500 ton, dibongkar dan diturunkan. Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang.&lt;i&gt; What a wonderfull bridge. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekitar 15 menit kemudian sampailah kami dirumah &lt;i&gt;our lovely friend&lt;/i&gt;, Ria Dillah. Dirumah Ria kami mendapat sambutan yang hangat dan terbuka, sungguh menyenangkan dan menyamankan. Usai makan malam yang lezat kami mendengar banyak cerita tentang sebuah konfrontasi menarik antara seorang wartawan Berita Pagi dengan Pengda KONI Sumsel. Ada indikasi konfrontasi ini kental dengan nuansa politis yang melibatkan kepentingan dua calon gubernur Sumsel yakni Alex Nurdin dan Sjahrial Oesman. Saya tak ambil pusing dengan perkara mereka berdua, malah saya cenderung tak perduli. Yang menarik dari hal ini adalah sang wartawan yang menjadi &lt;i&gt;main actress &lt;/i&gt;dati polemik ini bernama Ria Dillah, sebuah nama yang sangat tidak asing bagi saya. Well, saya Cuma bisa berdoa semoga tidak ada ekses buruk bagi karir Ria dan semoga dia dapat memainkan perannya sendiri dengan baik dan elegan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-3349591046922401430?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/3349591046922401430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=3349591046922401430&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/3349591046922401430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/3349591046922401430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/sketsa-palembang-dalam-sebuah-kunjungan.html' title='Sketsa Palembang dalam sebuah kunjungan (1)'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_4Dqf5DqZ90Q/SIiuqsqfJzI/AAAAAAAAAAY/7sGcxcQBYCw/s72-c/P7170196.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6736188083969095887.post-8729058650210794010</id><published>2008-07-09T20:25:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T20:28:28.224-07:00</updated><title type='text'>cerita dari desa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;suatu pagi yang cerah di desa Sukasaru. matahari belum lagi menyentuh punggung langit. sinarnya tidak redup dan tidak menyengat. hangat-hangat kuku menyegarkan. Kang Gimin keluar dari rumah&lt;i&gt; &lt;/i&gt;berdinding geribik yang telah ditinggalinya semenjak ia menikah dengan Yu Lastri. sejenak ia menggerakkan badan, mendistribusikan nutrisi dari tiwul, dengan lauk daun singkong rebus plus sambel terasi, ke seluruh tubuhnya. pagi ini dirasanya begitu lapang. bagaimana tidak? padinya sudah mulai &lt;i&gt;njebol&lt;/i&gt; (tumbuh buah) tanpa gangguan tikus sama sekali, pikiran kang Gimin jadi lapang tanpa gangguan masalah yang mengkhawatirkan. kang Gimin lalu menuju ke pinggir jalan begitu dilihatnya Yu Parmi muncul dari tikungan jalan mengendarai sepeda jengkinya. sebuah plastik besar berisi sayuran dari pasar terikat rapih pada boncengan sepeda itu. kang Gimin sengaja berdiri dipinggir jalan, menunggu yu Parmi lewat. Selanjutnya terjadilah suatu &lt;i&gt;scene&lt;/i&gt; dari film bertema cinta pada tahun 70-an. Dengan tidak rasionalnya, mendadak angin bertiup kencang dan daun2 berguguran. Rambut keriting yu Parmi berkibar memberi sentuhan kegembiraan pada senyum lebarnya. Kang Gimin mengembangkan tangannya, siap menerima kedatangan yu Parmi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kemudian, dengan sangat mendadak, terdengar nyaring suara anak-anak yang muncul tanpa mengindahkan scene indah yang terjadi secara insidental. “ . Mak’e !!! aduh, berat nih bawaanku!!!”. Senyum yu Parmi pudar layaknya mendung dimusim panas, kang Gimin Cuma bisa ngedumel. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Yu parmi menghentikan sepedanya. Dibelakangnya muncul seorang bujang 15 tahun mengendari sepeda ontel dengan muatan over load : sekarung beras kuning, sekarung ubi tanah dan sekarung singkong kering. Jiwa patriot kang gimin secara sporadis menggerakkannya untuk menolong bujang yang bernama temon, anak pertama yu parmi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Oalah mi, buanyak banget toh belanjane, mau sunatan opo?”. Kang gimin heran melihat melimpahnya barang-barang yang dibawa yu parmi dari pasar. Kang gimin memegang stang sepeda yang dibawa temon, sementara temon beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk kembali mengayuh sepeda sejauh 1 km menuju rumahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;”. kang, aku ini orangnya berfikiran maju. Selalu melakukan tindakan antisipatif atas berbagai kemungkinan kendala yang bakal terjadi padaku dimasa mendatang. “ yu parmi nyerocos dengan bibir seperti cumi2, apakah dia tantenya cinta laura sehingga bibirnya sama? Entahlah, setiap zaman selalu menyimpan misteri bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“” weleh, ngomong opo tho mi?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ gini lho kang,kita diambang krisis pangan 2008. tau apa artinya? Ndak toh? Itu artinya sebentar lagi singkong dan ubi susah kita dapatkan!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Wuah mi, dimakan buto celeng opo?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Woalah, ndeso-ndeso! Masak masih percaya tahayul, hari gini, cuapek deh. Krisis pangan disebabkan oleh kenaikan harga berbagai komoditas pangan secara drastis. Harga seluruh komoditas pangan meningkat pada angka fantastis 75 % dibandingkan dengan tahun 2000, beberapa komoditas bahkan lebih dari 200 persen.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kang gimin semakin percaya bahwa memang akan terjadi bencana mistis didesanya. Dan yu parmi, telah kemasukan roh jahat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Yu parmi kembali nyerocos: “. Selau ada pihak yang mengambil keuntungan dari terjadinya krisis pangan. Selalu ada yang tertawa ketika ada yang menangis. Dan sayangnya, dalam krisis kali ini, yang menangis bukan kita. Tetapi petani kaya dinegara maju dan dominan, serta para investor, pemain bursa saham dan perusahaan multi nasional, mereka menangis kekenyangan karna kebanyakan duit. Sementara kita hanya bisa menertawakan nasib kita yang selalu ndak jelas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kang gimin mulai mesem2, bukan karena argumentasi yu parmi, tapi karena membayangkan akan memandikan yu parmi dengan air kembang 7 rupa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ sampeyan tau ndak? Lonjakan harga pangan ini kemungkinan besar akan menyusahkan kita, petani ndeso. Sebagian besar petani kita memiliki lahan kurang dari 0,25 hektar (rata-rata nasional 0,36 hektar dengan jumlah petani 48 persen total penduduk) dan proporsi yang cukup besar diantaranya adalah buruh tani yang tidak berlahan. Kelompok tani berlahan sempit dan buruh tani itu justru akan menderita dampak terbesar karena sekitar 60 persen pendaoatan mereka dibelanjakan untuk pangan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ walah mi njilemet banget to omonganmu, sudah biar pemerintah yang urus, banyak orang pinter disana”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Itu masalahnya, pemerintah bukan melindungi petani, tapi justru mengindustrialisasikan pertanian. Ini terlihat dari kebijakan pemerintah mengimpor benih dan beras dari luar negeri serta mengundang pengusaha besar, baik nasional maupun internasional, untuk masuk ke bidang pertanian pangan yang selama ini menjadi wilayah “kaum tani”.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Bukannya enak mi, tar ada bule-bule bantuin pertanian kita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ enak dengkolmu mlecet! Permasalahannya adalah kebijakan2 itu tidak akan membuat petani-petani kita punya kedaulatan pangan. Kebijakan pemerintah hanya akan mengurangi kemandirian petani-petani dan hanya akan memperdalam cengkeraman korporasi ke petani-petani kita. Akhirnya, tenaga petani akan semakin terkuras, lalu mereka akan semakin miskin.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ weleh, opo meneh kui, kedaulatan pangan….”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Ada 7 prinsip kedaulatan pangan: 1. hak akses ke pangan, 2. reformasi agraria, 3. penggunanaan sumber daya alam secara berkelanjutan, 4. pangan untuk pangan bukan sekedar komoditas yang diperdagangkan, 5. pembatasan kekuasaan pangan oleh korporasi, 6. melarang penggunaan pangan sebagai senjata, 7. pemberian akses ke petani kecil untuk perumusan kebijakan pertanian. Siapa yang selalu susah? Kita toh, petani kecil. Tapi anehnya, kenapa yang selalu menentukan kebijakan untuk masalah kita adalah mereka yang enak-enakan saat kita susah, gimana mereka bisa kasih kita solusi padahal mereka gak pernah tau kesusahan kita?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Udah-udah mi, pusing aku, jadi gimana jalan keluarnya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Ya terapkan kedaulatan pangan dinegara kita. Laksanakan kebijakan yang meningkatkan kemandirian petani kita. Lihatlah Jepang, mereka mengeluarkan kebijakan yang mengganti tepung gandum dengan tepung umbi sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kedaulatan pangan. Mereka berdaulat atas apa yang mereka perlukan untuk pangan mereka, bukan negara lain.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ wah, itu kan jangka panjangnya mi, enakan yang jangka pendek itu, subsidi pangan dan bantuan langsung”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“ oalah kang, kita kan gak punya saudara dikelurahan, jadi ya tetep aja ndak kebagian”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Iya ya, bener tu. Tapi ni ubi dan singkong sebanyak ini buat apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Kedaulatan panganku toh”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Weleh, awas lo, tar disangka menimbun bahan pangan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Hehe.. iya ditimbun dalam perut 5 orang selama seminggu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“. Mak’e!!! ayo pulang, aku mau angon kambing ni…..”. temon menginterupsi kemesraan diskusi antara ibunya dengan kang gimin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kemudian, emak dan anak itu kembali meneruskan perjalanannya. Sementara kang gimin menjadi galau karena percakapannya dengan yu parmi barusan. Ia menjadi galau karena tidak punya persediaan setanggi yang cukup. Padahal sebentar lagi akan ada wabah krisis pangan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sementara yu parmi mesam mesem sepanjang perjalanan pulang. Dia sangat puas atas keberhasilannya membangun imej intelektual didepan kang gimin, tak rugi dia susah payah menghapal ucapan2 Iwan, pemuda sukasaru yang berstatus mahasiswa, kemarin sore diwarungnya. Hatinya pun tentram, karena dia yakin, apa yang dibawanya dari pasar akan menghidarkannya dari apa yang dinamakan krisis pangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6736188083969095887-8729058650210794010?l=mengukirjejak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/feeds/8729058650210794010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6736188083969095887&amp;postID=8729058650210794010&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8729058650210794010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6736188083969095887/posts/default/8729058650210794010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mengukirjejak.blogspot.com/2008/07/cerita-dari-desa.html' title='cerita dari desa'/><author><name>selaksakata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08699798632492364595</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4Dqf5DqZ90Q/SQ5-HQ4cUII/AAAAAAAAAEk/q5n7S6rUZtQ/S220/my+side.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
