Total Tayangan Laman

Selasa, 08 Februari 2011

Catatan 3 Februari

Segelas susu cokelat hangat menemani saya mengurai malam dingin ini. Sepi amat terasa menghinggapi segenap sudut kota yang hampir genap setengah tahun saya tinggali ini.

Sergapan hawa dingin membekukan fikiran saya akan segala apa yg bakal terjadi esok. Angan saya tak kuasa berpaling dari lambaian tangan kenangan yg begitu menggoda.
Rupa-rupa kenangan itu tanpa saya sadari telah terhanyut dalam tegukan-tegukan susu cokelat hangat yg meyegarkan. dalam larutan cairan itu, genangan kenangan membanjiri hampir semua lorong labirin ingatan saya.

Seperti terhempas oleh mesin waktu, angan begitu saja menayangkan sebuah scene yg telah terjadi hampir satu setengah tahun yg lalu. Pada sebuah gerai makanan cepat saji, menjelang tengah malam.

Ditemani perempuan berparas elok dg tatap mata yg mampu membekap khayal, saya menyantap makan malam disana. Secarik kertas dan sebuah pena bertinta hitam dia serahkan pada saya.

Saya menuliskan 8 nama yg terbagi dalam 3 kategori, dan pada akhirnya, saya menuliskan namanya dibawah kategori : and the winner is. Seulas senyum yg bertahtakan lesung pipi menawan dia anugerahkan sebagai balasan.

"Setiap nama merupakan bagian dari sebuah cerita yg telah berlalu dg kesannya tersendiri, dan nama terakhir akan menjadi bagian dari sebuah cerita yang akan datang," ujar saya usai mengecap sisa es krim dibibir bawah saya.

Cerita yg sebenarnya sudah terilhami tanpa saya sadari. Ilham yg saya rasa datang begitu saja merasuk ke dalam hati saya manakala dia datang dan mengusik saya yg tengah asyik membaca Eleven Minutes karya Paulo Coelho.

Dia datang bukan untuk mencari kawan pergi ke rental buku langganannya. Dia memutar sebuah lagu dari Shayne Ward berjudul Breathless, sembari menyodorkan earphone dia berkata "ini lagu kesukaan saya, coba dengarlah."

Bait demi bait syair lagu itu saya coba pahami.Cukup indah saya rasa. Merepresentasikan sebuah roman kehidupan yg selalu diidamkan oleh setiap manusia yg mendambakan hidup berpasangan.

Seindah sebuah letupan perasaan yg hadir secara spontan beberapa waktu berselang sebelum saya mendengar lagu itu. Letupan yg hadir dari dialog penuh kiasan saat mata harusnya sudah terlelap dalam tidur.

Percakapan yg melibatkan saya dengan dirinya itu tak lain daripada selimut kejujuran yg masih malu untuk unjuk diri. Entah bagaimana, kata-kata yg seharusnya terucap dengan indah justru beralih menjadi dialog tentang sebuah kebun, dan rumah kayu yg sederhana.

Sederhana dan meningggalkan kesan mendalam. Serupa dengan mula pertama saya berjumpa dengan dirinya. Pada suatu pagi dipermulaan pekan, sekitar setahun lewat sepuluh bulan yg lalu.

Lucu terkadang saya fikir, saat itu saya justru berkenalan dengan perempuan yg ada disampingnya saja. Perjumpaan saya dengannya hanya berupa pertukaran lirikan mata, dan saling sapa melalui senyum tipis saja.

senyum tipis yg berkembang menjadi tawa pada keesokan harinya ketika percakapan secara tak terduga terjalin bersamanya. Percakapan yg berisikan uraian keindahan pulau Sepa, Kota Malang, dan Teluk Triton.

Keindahan panorama nan eksotis yg selalu memuarakan banyak khayal tentang perjalanan wisata. sebuah keindahan yg sejak lama saya idamkan. Juga saya angankan sembari menikmati secangkir kopi sachet murahan lepas petang setelah saya menulis paragraf demi paragraf skripsi saya dulu. Sebuah tugas yg menandai masa senja studi saya dikampus.

Masa studi yg indah, penuh dengan gejolak perasaan yg bisa diekspresikan dg bebas dan dimaknai sesuka hati. Betapa hati saya kala itu sesak dg desakan keindahan-keindahan cerita persahabatan, dan angan tentang keindahan paras rupawan yg selalu saya cari pada banyak persinggahan.

Dan semua itu hanya persinggahan belaka. Tanpa terasa, saya telah menikmati tegukan terakhir susu cokelat saya. Tiba-tiba datang sebuah pesan darinya, sebuah ucapan selamat tidur. Saya sadar, dia yg berparas elok dg tatap mata membekap khayal masih ada, dan bukanlah sekedar persinggahan belaka.

Karena rasa kagum saya padanya tak lekang pada tegukan terakhir. Melainkan akan terus hadir dalam rupa-rupa baru yg selalu indah.

( and if our love was a story book / we would meet on the very first page / the last chapter would be about / how i'm thankfull for the life we've made... Shayne Ward : Breathless )

Rabu, 26 Januari 2011

O A S E

Lepas tengah hari, tak ada terik matahari di atas bumi Liwa. Mendung yg menggantung dilangit semakin merapat mendekati matahari sampai pada satu ketika bola panas itu lenyap dibalik mendung kelabu. Tak lama, hujan deras pun turun dalam lajur-lajur yg sangat rapat.

Aktifitas di pasar Liwa menemui jedanya, semua orang menghentikan kesibukannya diluar ruangan guna menghindari terpaan air hujan. Sehingga, lajur-lajur air pun bebas menari di jalanan. Dari balik pintu kaca kantor saya, semua peristiwa tersebut terekam dalam benak saya.

Sejenak, saya menikmati "oase" yang saya temukan ditengah jam kerja. Memberikan ruang abstrak yg lebih lapang bagi saya untuk menghirup input-input perasaan yg menyehatkan psikologi saya.

Pandangan saya jatuh pada orang-orang yg berteduh diemperan toko-toko yg berada diseberang kantor saya. Pakaian yg mereka kenakan, kendaraan yg mereka gunakan, dn rokok yg mereka hisap, semuanya merupakan perwujudan latar belakang mereka. Berkali-kali mereka mengibaskan sebagian pakaian mereka yg basah oleh air hujan yg tak sempat mereka hindari.

Saya menatap mereka dg nyaman disini. Ditemani suara merdu Emi Fujita ditelinga, dan suguhan teh melati yg harum dan hangat. Sungguh, saya telah melupakan betapa tak lama berselang saya memaki keadaan yg terhimpit oleh beban pekerjaan.

Makian yg datang setiap hari ibarat kokok ayam yg menyapa manusia setiap pagi. Seolah hidup hanya diisi dengan nafas untuk bekerja, lisan untuk menyampaikan laporan kerja, dan tangan untuk merapikan meja kerja. Nyaris tiada seperti robot yg didesain untuk berfungsi sebagai alat produksi.

Namun, saya melihat diri saya kini. Duduk dikursi yang nyaman, dg suguhan teh yg nikmat, sembari mendengarkan suara merdu penyanyi jazz yg cantik. Dan, diluar sana, hanya dalam jarak pandangan mata, sekelompok orang tengah kepayahan mengusir sergapan hawa dingin hujan. Mulut mereka yg berkomat-kamit mungkin melafadzkan doa supaya hujan cepat reda sehingga mereka bisa melanjutkan pekerjaan. Sebuah keinginan yang tentu berlawanan dengan keinginan saya saat ini.

Ternyata, beban dalam perasaan itu sangat singkat menyinggahi hidup. Hanya dalam jarak antara mendung yg berpencar sampai mendung menjelma menjadi hujan. Segala sesal dan benci rupanya begitu mudah hanyut bersama genangan air hujan, tegukan teh, dan suara merdu Emi Fujita.